Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Harmonisasi Kemanusiaan dan Keberagaman dalam Al-Qur’an

kemanusiaan
Sumber: https://www.ign.com

Kekerasan atas nama agama tidak luput di dunia ini dari berbagai macam faktor. Islam memang agama yang mayoritas di Nusantara ini. Dari mayoritas lantas bukan malah menunjukan sifat superior di atas agama- agama lainya, kemanusiaan yang utama. Kata Albert Einstein, “All religions, arts and sciences are branches of the same tree.” Artinya Semua agama, kesenian dan pengetahuan berasal dari ranting pohon yang sama; maksudnya ada kekuatan sakralitas yang menciptakan semua ini semuanya akan kembali hanya kepada-Nya.

Akhlak Sebagai Kemanusiaan

Tetapi problem tentang agama selalu dibalut dengan subjektivitas personal yang biasanya hanya untuk memuaskan keinginannya. Padahal agama kemanusiaan itu sendiri, ada berjalan ketika manusia dilahirkan, lingkungan (Environment) adalah afirmasi pertama personal dalam membentuk keagamaan. Misalnya jika orang itu lahir dari keluarga yahudi maka otomatis anaknya juga ikut yahudi, seperti hadist nabi yang mengatakan sama,

وَ عَنْهُ اَيْضًا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda; tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. (NF, 2018)

Maksudnya sudah jelas penguatan seseorang dalam beragama dimulai dari kedua orang tuanya atau lingkunganya. Islam secara eksplisit mengajarkan مَكَارِمَ الْأَخْلاَقِ (Kesempurnaan Akhlak); tentunya seorang anak melalui didikan akan berpengaruh penting dalam beragama, yang diajarkan dahulu dalam lingkunganya adalah kemanusiaan.

Kemanusiaan Sejak Dini

Setiap manusia harus mengetahui huda (petunjuk) bagi anak- anak mereka, bahwasanya agama itu selalu mengajarkan kebaikan. Misalnya dalam mengajarkan tersebut sikap dalam menyikapi hal negatif adalah hal yang penting dengan menyadari bahwa kebenaran itu relatif. Siapa saja mungkin bisa benar, tetapi yang lebih utama adalah membelajari dan menyadarkan anak bahwa beragam itu tidak luput dengan kemanusiaan.

Baca Juga  Martabat Perempuan dalam Perspektif Al-Qur'an

Bagaimana seorang manusia dapat memahami manusia lainya. Misalnya jika membelajari anak untuk pendidikan Islam, TPQ, madrasah diniyah. Mendidik mereka untuk berbagi kepada sesama tanpa memandang agama, ras, suku, kulitnya; atau hal sederhana yang menyadarkan dirinya untuk saling memanusiakan lainya. Seburuk apapun temanya, ia juga harus menghargai bahwasanya namanya manusia adalah makhluk dinamis; dan perubahan jiwa, sikap adalah hal yang mutlak. Dan senantiasa mempelajari bahwa yang dibenci dari tindakan negatif dalam tindakannya bukan dirinya sebagai manusia.

Dari hal semacam itu kita akan dibentuk bagaimana fungsi agama yang nyata. Selain hanya sebagai Kontrol sosial, agama juga pembentuk karakter diri masing- masing melalui lingkunganya.

Cermin Kenabian dan Kemanusiaan.

Dalam Quran pasti akan menemui ayat yang merujuk jelas nama nabi tersebut, seperti ya nuh, ya adam, ya musa. Bahkan penjelasan secara ekplisit dari Nabi kita Muhammad Saw dalam quran yakni

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya. maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS: Al- Kahfi: 110).

Dalam ayat tersebut Tuhan mengawalinya dengan perintah Qul yang artinya katakanlah, suatu perintah yang menegaskan, bahwa nabi kita adalah manusia biasa seperti layaknya pada manusia umumnya, makan, minum, menikah, dan bermasyarakat. Perbedaanya Allah lebih menjaga beliau dari segala sesuatu yang merendahkan diri beliau dari martabatnya seorang manusia biasa. Dari perkataan Tuhan yang menyebut nabi secara langsung ada makna terkandung bahwasanya manusia akan selamanya menjadi manusia, bukan manusia yang ingin menjadi Tuhan secara politis, seperti firaun, haman, namrud dan lainya. (Fattah, 2014)

Baca Juga  Kesehatan Mental Menurut Penafsiran Surat Al-Fajr: 27-30

Tentu dari hal sederhana itu ada yang dijunjung tinggi kalau dalam perkataan Aristoteles tentang Ilmu dan berkehidupan yakni “Primum vivere, deinde philosophari” Artinya berjuang dahulu untuk hidup, kemudian berfilsafat. Dalam tanda kutip disini menurut saya adalah perjuangan sebagai manusia mencari kehidupanya, kemudian mencari kebenaran. Dari perkataan aristo ada hal yang tersembunyi, yaitu ketenangan dalam mencari Ilmu dan Kebenaran.

***

Tentunya ada aspek spiritual yang harus mendorong manusia itu untuk menyepi kalau bahasa tasawuf adalah Tajrid, Uzlah, Muhasabah. Agar manusia itu mengerti bahwasanya kehidupan ini juga tidak selalu mencari penghidupan terus menerus,tetapi juga mencari kebenaran atas apa yang ia lakukan selama ini, apakah beragamanya sudah sama seperti berkemanusiaan?, atau beragamanya hanya sepintas untuk mencari hal duniawi saja?

Menurut pemahaman Yunani, hikmat adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan. Menggali lebih dalam kebijakan atau tindakan, ada aturan etika yang memainkan peran penting dalam memutuskan apa yang benar atau salah tentang sesuatu. Secara keseluruhan, ini terlihat seperti sikap etis. (Ubaidah, 2018)

Hal ini juga ditemukan dalam agama yakni hal sakralitas, ritual sebagai tempat pencarian kebijaksanaan atau hikmat. Maka dari itu beragama selalu tidak luput yang namanya kemanusiaan, meyakini bahwa semua itu adalah manusia, sebagai ciptaan Allah yang mulia, tetapi yang membuat buruk adalah tindakan nya melalui hawa nafsu, maka yang dibenci atau diperangi dari itu adalah dirinya sendiri, sekian semoga bermanfaat.