Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Hamid Algar tentang Wahhabisme (2): Mengapa Wahhabi Begitu Berkembang?

Wahhabi
Dokumen pribadi

Hamid Algar membedakan antara Salafi dan Wahhabi dalam dua hal:

“Pertama, kaum Salafi lebih menekankan persuasi dari pada pemaksaan dalam rangka mengajak kaum muslim untuk menerima pandangan mereka. Kedua, kaum Salafi memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-ekonomi yang melanda dunia Islam.” (hal. 61)

Perbedaan Ibnu Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah

Memang dalam riwayatnya, Ibnu Abdul Wahhab menghabiskan hidupnya mendalami karya-karya Ibnu Taymiyyah serta Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, tokoh yang menjadi cikal bakal aliran Salafi. Tetapi Ibnu Abdul Wahhab itu bukan tipe pembelajar yang mengikuti persis ajaran gurunya. Ia mengembangkan pemikirannya sendiri yang berbeda.
Ibnu Abdul Wahhab empat tahun belajar di Madinah. Terutama kepada Muhammad Hayat Al-Sindi. Namun, apa yang dikembangkannya jauh berbeda dari apa yang diajarkan gurunya itu.

Tetapi, sesungguhnya, kata Hamid Algar, terdapat perbedaan antara Ibnu Abdul Wahhab dengan Ibnu Taymiyyah. Ibnu Abdul Wahhab secara total memerangi tasawuf, sementara Ibnu Taymiyyah tidak menolak seluruhnya, malahan Ibnu Taymiyyah menjadi cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyyah. Demikian pula, Wahhabisme lebih kepada watak yang keras dan progresif. Pendapat di luar mereka sudah pasti salah, wajib bagi mereka meluruskan. Jika tidak, maka harus diperangi, meski sesama muslim.

Menjamurnya gerakan pemurnian Islam, sesungguhnya menuntut orang semisal Hamid Algar untuk lebih jeli dan lebih luas dalam mengupas Wahhabisme. Seperti di kebanyakan tempat, cap Salafi-Wahabisme kerap dialamatkan kepada kelompok progresif non-tradisional. Apalagi jika terjadi insiden ketegangan antara kelompok puritan dengan kelompok tradisional.

Pada perkembangannya, Islam puritan tidak semuanya menjadi rigid. Adapula yang moderat. Pemurnian ajaran Islam dari segala bid’ah tidak mesti dengan jalan pemaksaan atau kekerasan. Bisa dengan jalan dialog, seminar, ceramah-ceramah, khutbah, serta kegiatan ilmiah yang lain.

Tidak Semua Gerakan Puritan Itu Kaku

Muhammadiyah di Indonesia adalah contoh yang bagus. Pemurnian Islam ditempuh dengan jalan mengaktifkan kegiatan berbasis amal usaha. Adagium kembali ke al-Quran dan sunnah benar-benar fungsional, realistis dan demi kemaslahatan sosial. Tidak sekadar formalitas, apalagi sampai ditempuh dengan kekerasan.

Surat al-Ma’un (barang yang berguna) menjadi contoh bagaimana ayat-ayat yang berbicara tentang wajibnya memiliki kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin. Ditafsirkan dengan mendirikan amal usaha berupa Panti Asuhan, Sekolah, Rumah Sakit, dan Universitas. Serta program pendampingan masyarakat.

Walau pendiri Muhammadiyah–KH. Ahmad Dahlan–berguru kepada ulama pembaharu, yakni Rasyid Ridha, yang katanya terpengaruh oleh Wahhabi. Tetapi tidak serta merta gerakan yang dibawanya sama dengan yang dilakukan oleh Ibnu Abdul Wahhab

Semangat utama Kiai Dahlan adalah modernisasi pemikiran umat Islam. Islam harus berkemajuan. Pendidikan agama Islam mesti digalakkan supaya umat dijauhkan dari kejumudan, yang pangkalnya adalah meyakini hal-hal takhayul, mitos, serta hal-hal yang menjauhkan diri dari agama.

Namun, kritik Hamid Algar tentang Wahhabi, lebih banyak soal gerakan politik daripada pemikiran. Bukunya yang tak sampai seratus halaman kalau saja tak menyertakan tiga lampiran itu, lebih banyak mengungkapkan bagaimana Wahhabisme yang awalnya adalah gerakan kecil tanpa preseden, tiba-tiba menjadi besar sekali. Empat bab buku itu, tak ada yang lepas dari soal gerakan transnasional Wahhabisme.

Mengapa Wahhabi yang pemahamannya begitu tidak populer di awal-awal, tiba-tiba menjadi raksasa dan dipeluk oleh semua kalangan? Termasuk mereka yang pendidikannya tinggi?. Dari buku Hamid Algar, bisa diketahui setidaknya ada dua faktor mengapa hal itu bisa terjadi:

Mengapa Wahhabi Tiba-tiba Sangat Berkembang?

Faktor pertama, upaya Ibnu Abdul Wahhab secara terus-menerus membangun aliansi dengan penguasa. Dakwahnya dan juga ajakannya bekerjasama awalnya memang ditolak di pelbagai daerah. Tetapi pada akhirnya ia mendapat dukungan yang sangat kuat dari penguasa kota Al-Dir’iyyah, yaitu Ibnu Sa’ud.

Aliansi kuat Wahhabi-Sa’ud kemudian mengumandangkan resolusi jihad memerangi semua yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid ala Wahhabi. Sasaran utama mereka adalah daerah-daerah yang mayoritasnya pemeluk mazhab Syiah. Dalam pandangan Ibnu Abdul Wahhab, Syiah adalah kelompok yang paling banyak berbuat bid’ah, praktik keagamaan mereka menyimpang dari ajaran Islam yang asli.

Pasca Ibnu Abdul Wahhab wafat pun, para pengikut Wahhabi banyak melakukan serangkaian penyerangan dan penghancuran terhadap apa saja yang tidak sesuai dengan pandangan keagamaan mereka. Makam Rasulullah, ahlul bait, dan para sahabat, (kubahnya) menjadi sasaran empuk penghancuran itu (hal. 42). Masjid-masjid tempat kelompok Syiah beribadah juga dihancurkan. Sesuai visinya, memberantas bid’ah, dan mengembalikan pemahaman kepada Islam yang murni.

Dan anehnya, sasaran gerakan Wahhabi adalah umat Islam sendiri. “Perlu dicatat, misalnya, bahwa ‘Abdal-Aziz bin Sa‘ud, yang berkuasa dari 1902 hingga 1953, pernah berkata kepada St. John (“Abdullah”) Philby, dengan Kantor Luar Negeri Inggris sebagai perantaranya, bahwa ia lebih memilih kalangan Kristen dari pada orang-orang muslim yang bukan Wahhabi.” (hal. 37-38)

Jadi, Wahhabisme memang “berkaki”. Meminjam istilah Muhidin M. Dahlan, mereka didorong oleh turbo kekuasaan. Bukan hanya karena membangun aliansi kekuasaan Ibnu Sa’ud, tetapi juga keberhasilan ekspansi ajarannya dengan bantuan Inggris, dan juga belakangan Amerika, dua kekuatan yang berkepentingan dengan rezim Ibnu Sa’ud.

Persekongkolan dengan Kekuasaan

Paham Wahhabi ternyata efektif untuk dijadikan alat tempur kekuasaan Ibnu Sa’ud, untuk membangun kerajaannya, dan juga menguntungkan pihak Inggris dalam mendirikan negara sekular Turki, serta dinasti Pahlevi di Iran (lihat hal. 57)

Faktor kedua, simplifikasi ajaran Islam. Jargon Islam murni begitu menarik untuk menegaskan ada Islam yang tidak murni, bercampur dengan hal-hal yang tidak Islam. Intinya, Islam sudah lengkap dengan adanya al-Quran dan hadis. Adapun praktik-praktiknya, paling minimal sesuai dengan yang dikerjakan Nabi dan para sahabat.

Padahal, apa yang berkembang di dunia Islam yang tidak sekadar al-Quuran dan hadis, seperti munculnya ajaran sufisme, seni dan sastra, filsafat, tidak lain adalah hasil dari satu priode sejarah yang disebut dengan era kodifikasi. Era itu kemudian dijadikan Abed Al-Jabiri–dalam Formasi Nalar Arab–sebagai sandaran untuk lahirnya ketiga model nalar Arab-Islam: nalar bayani, nalar irfani, dan nalar burhani.

Simplifikasi meniadakan itu semua, akhirnya segala hal yang baru bertentangan dengan Islamnya Rasulullah. Islam dengan embel-embel adalah Islam yang terkooptasi, tercemar oleh pelbagai produk manusia. Dengan pandangan seperti ini, sangat gampang sekali untuk mengajak masyarakat luas, apalagi yang malas untuk belajar dan memahami Islam secara kaffah, ikut dalam barisan gerakan Wahhabi.

Hal yang luput dari bahasan Hamid Algar mengenai Wahhabisme ini adalah bentuk-bentuk Wahhabisme yang telah bertransformasi belakangan ini. Keberadaan ISIS tentunya juga perlu diidentifikasi sebagai Wahhabisme. Gerakannya sama persis dengan yang dikupas oleh Hamid Algar.

Tentu juga jaringan terorisme internasional, neo-Wahhabisme, dan pelbagai kelompok beraliran Wahhabi belum disentuh oleh Hamid Algar. Ya, karena memang, pembahasan itu semua tidak akan dimasukkan, jika memang rencana semula hanya untuk menulis sebuah buku tipis.

***

Judul Buku: Wahhabisme: Sebuah Tinjauan Kritis (Edisi Digital)
Penulis: Hamid Algar
Alih Bahasa: Rudy Harisyah Alam
Penerbit: Democracy Project
Tahun Terbit: 2011
Tebal: 107 Halaman

Editor: M. Bukhari Muslim