Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hakikat Nilai Sosial Perspektif Al-Qur’an

Sumber: Freepik.com

Al-Qur’an turun sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi muslim secara dan manusia umum. Al-Qur’an banyak mengandung cerita, peristiwa dan hikmah yang dapat menjadi pedoman hidup bagi seorang muslim. Juga terdapat nilai-nilai yang mengatur segala aspek kehidupan yang meliputi aqidah, akhlaq, muamalah, ibadah, ketatanegaraan. Kesemuanya termasuk dalam nilai sosial. Lantas apa hakikat dari nilai sosial tersebut?

Akhlaq sangat erat kaitannya dengan interaksi sosial. Secara garis besar, interaksi sosial terbagi menjadi dua, yaitu interaksi antara manusia dengan manusia dan interaksi antara manusia dengan Allah SWT. Sehingga sudah tentu menjadi sifat manusia yang tidak akan bisa hidup tanpa bantuan ataupun pertolongan orang  lain dan juga Tuhannya. Untuk itu, ketika manusia dengan manusia berinteraksi, maka akhlaq menjadi bernilai dalam setiap interaksi itu.

Makna Sosial

Manusia adalah makhluk sosial karena manusia tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan bantuan orang lain. Dari pernyataan yang sering kita dengar ini mungkin kita mengetahui sedikit tentang makna makhluk sosial.

Sosial adalah hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Yakni bagaimana orang berinteraksi satu sama lain, berkembang sebagai budaya, berperilaku dan mempengaruhi dunia. Istilah kata sosial berasal dari bahasa latin yaitu socius yang berarti segala sesuatu yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan bersama. Sedangkan menurut KBBI adalah berkenaan dengan masyarakat.

Pengertian sosial menurut para ahli antara lain, Philip Wexler mendefinisikan sosial sebagai sebuah sifat dasar dari setiap individu manusia. Lewis menyatakan bahwa sosial adalah sesuatu yang dapat kita capai, hasilkan serta tetapkan dalam proses interaksi sehari-hari antara warga suatu negara dan pemerintahannya.

Adapun menurut Engine Fahri I berpendapat bahwa sosial merupakan sebuah inti dari bagaimana para individu berhubungan walaupun masih tetap ada perdebatan tentang pola berhubungan bagi masing-masing individu tersebut. Sementara Peter Herman menjelaskan bahwa sosial adalah sesuatu yang kita pahami sebagai sebuah perbedaan namun tetap merupakan suatu kesatuan.

Baca Juga  Sifat-Sifat ‘Ibaadurrahman dalam Surat Al-Furqan ayat 63-74

Nilai Sosial dalam Surah al-Hujurat Ayat 13

Al-Qur’an memiliki perhatian khusus tentang nilai sosial seperti yang tertuang pada surah al-Hujurat ayat 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia !! sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (QS. al-Hujurat: 13).

Pada ayat ke-13 surat al-Hujurat ini, terdapat suatu perintah Allah yang ditujukan kepada manusia. Perintah tersebut berisi anjuran saling mengenal satu sama lain dan menegaskan bahwa yang menjadi pembeda diantara manusia satu dengan yang lain adalah ketaqwa’annya.

Wahbah al-Zuhaily dalam kitabnya Tafsir Munir menjelaskan tentang beberapa sikap yang harus dihindari antara mukmin satu dengan mukmin yang lain. Beberapa sikap yang harus dihindari yakni saling mencela, saling menghujat, mengolok-olok, menggunjing, atau mengadu domba.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan manusia untuk memperlakukan orang lain secara setara dengan tidak membeda-bedakannya. Karena pada dasarnya semua manusia sama, sebab yang membedakan hanyalah ketaqwaan dan akhlaq yang manusia miliki.

Dalam Tafsir Jalalayn, lafal sya’b mengandung makna yang paling tinggi yakni nasab, lalu beberapa istilah mengikuti setelahnya seperti kabilah, al-‘amair, al-afkhaz dan al-fasail.

Pada ayat tersebut terdapat kata ta’aruf yang berasal dari kata ‘arafu yang berarti mengenal. Dalam lafal tersebut terdapat perintah untuk saling mengenal karena dengan saling mengenal, seseorang dapat mengambil pelajaran atau pengalaman yang ada dalam diri orang yang kita kenal.

Baca Juga  Warisan Para Nabi Dalam Al-Quran (2): Berpesan Pada Umat

Sebaliknya, bukan agar merasa lebih tinggi atau lebih unggul dari yang lain. Sebab Islam tidak hanya untuk suku atau bangsa tertentu. Agama islam yang Nabi Muhammad SAW bawa itu terbuka untuk semua manusia. Islam tidak mengenal bangsa timur ataaupun bangsa barat, akan tetapi Islam untuk orang barat maupun juga orang timur.

Implikasi Nilai Sosial dalam Surah al-Baqarah Ayat 126-127

Implikasi dari nilai sosial itu adalah terbentuknya suatu konsep negara ideal. Sebagaimana firman Allah pada surah al-Baqarah ayat 126-127.

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

“Dan (ingatlah) Ketika Ibrahim berdo’a, “ Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” Dia (Allah) berfirman, “dan kepada orang kafir akan ku beri kesenangan sementara, kemudian akan kupaksa dia kedalam azab neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat Kembali.” (QS. al-Baqarah:126)

Menurut ar-Razi, kata baladan aminan dalam ayat ini dapat memiliki makna dua sisi. Pertama, dapat bermakna dengan negeri yang mendapat jaminan keamanan. Pada sisi ini, yang mendapat jaminan adalah negerinya. Kedua, yang mendapat jaminan keamanannya adalah penduduknya, bukan negerinya.

Adapun enurut ath-Thabari, lafal aminan memiliki makna aman dari orang-orang yang memaksa dan yang lainnya dari kemauan untuk menguasai Mekkah. Juga aman dari siksaan Allah, sebagaimana siksaan yang terjadi kepada negeri yang lain.

Terdapat perselisihan beberapa ulama mengenai maksud aminan yang nabi Ibrahim panjatkan dalam ayat tersebut. Pertama, Ibrahim memohon kepada Allah SWT suatu keamanan dari pembunuhan. Kedua, Ibrahim meminta kepada Allah SWT rasa aman dari paceklik, karena Ibrahim telah menyuruh keluarganya menetap dan tinggal dalam sebuah lembah yang kering dan tandus. Ketiga, Ibrahim memohon kepada Allah SWT rasa aman dari kekurangan dari keburukan.

Baca Juga  Ustadz Fathurrahman Kamal: Batas Rasa Sabar Manusia

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan (ingatlah) Ketika Ibrahim meninggikan pondasi baitullah Bersama ismail, (seraya berdo’a), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah:127).

Pada ayat ini Allah SWT mengisahkan tentang Ibrahim dan Ismail yang membangun ka’bah. Setelah Ismail dan Ibrahim selesai meletakkan fondasi ka’bah, mereka berdo’a: “terimalah dari kami”, Maksudnya ialah terima amalan kami sebagai amal shaleh, ridhailah dan berilah pahala.

Kesimpulan

Dari penjabaran singkat ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa hakikat dari nilai sosial itu adalah bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan atau pertolongan orang lain. Sebagaimana hal ini sejalan dengan pengertian sosial itu sendiri yaitu hal yang berkaitan dengan masyarakat. Yakni bagaimana seseorang berinteraksi antara satu dengan yang lain.

Nilai sosial tersebut tercermin dalam surah al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan suatu perintah yakni perintah untuk saling mengenal. Suatu perbedaan tidak untuk saling merasa lebih unggul, saling mencemooh, saling merendahkan dan saling mengejek.lebih jauh lagi, surah al-Baqarah ayat 126-127 memberikan gambaran nilai sosial dalam lingkup lebih luas lagi yakni bernegara. Wallahu’alam bi shawab.

Penyunting: Afiruddin