Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hakikat Idul Kurban: Menyembelih Sifat Kebinatangan

menyembelih
Gambar: gramedia.com

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. اَمَا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”

(QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Saat ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia sedang merayakan Hari Raya Idul Adha 1443 H. Seperti halnya Idul Fitri, tahun ini Idul Kurban kita masih dalam suasana pandemi. Seharusnya, pandemi yang telah memasuki tahun ketiga ini dapat menyadarkan umat manusia atas keagungan-Nya. Pandemi ini telah membuktikan bahwa manusia ternyata adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Hanya Dialah yang Maha Kuasa. Seraya kemudian mengucapkan syukur, betapa pandemi ini adalah bukti ke Maha BesaranNya.  

Pandemi ini menyadarkan kita betapa nikmat yang telah Allah berikan kepada kita selama ini begitu banyak dan tidak terhingga. Syukur ini harus dibuktikan dengan cara meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Salah satu wujud sukur yang dapat diwujudkan adalah dengan melaksanaan ibadah kurban.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dimuliakan Allah…

Hakikat Idul Adha bukan hanya wujud spirit dalam menyembelih hewan kurban semata. Namun hakikat Idul Adha yang sesungguhnya adalah wujud spirit dalam menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita. Ketika kita menyembelih hewan kurban, maka pada saat itu pula seharusnya kita juga menyembelih sifat-sifat kebinatangan kita. Sehingga lenyaplah nafsu-nafsu kebinatangan kita seperti sikap merasa paling hebat, merasa paling kuat, merasa paling benar, merasa paling pintar, tidak peduli pada sesama, menindas, serakah, rakus, acuh tak acuh dan lain-lainnya. Itulah yang kita harapkan dari menyembelih sifat kebinatangan kita.

Baca Juga  Ismail atau Ishak yang Disembelih? Begini Penjelasan Dosen Tafsir UIN Jakarta

Bukankah perbedaan manusia dengan binatang terletak pada akal dan pikirannnya? Dengan akal dan pikiran yang dimilikinya, manusia seharusnya mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk; antara yang halal dan yang haram; antara perintah dan larangan.

 Manusia yang tidak menggunakan akal dan pikirannya seumpama binatang yang berjalan dalam wujud manusia. Hari ini, betapa banyak binatang dalam wujud manusia yang bertebaran di muka bumi dan telah merusak tatanan alam dunia dengan keserakahan dan kerakusannya.

Dalam Surat Ar-Rum [30] ayat 41 Allah swt telah mengingatkan kita:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia;

Perbuatan tangan manusia yang tidak didasari akal dan pikirannya hanya akan menimbulkan kerusakan dunia. Sebab itu, peranan akal sangat penting karena disitulah letak perbedaan kita dengan makhluk-makhluk yang lainnya.

Aristoteles (384-322 SM) seorang filusuf besar dari Yunani, pernah mengemukakan bahwa manusia adalah termasuk jenis hewan yang berakal sehat, yang berbicara dan bertindak berdasarkan akal dan pikirannya. Sehingga, tepat, jika manusia dalam berbicara dan bertindak tidak berdasarkan akal dan pikirannya taubahnya binatang dalam wujud manusia.

Dalam Al-Qur’an penggunaan kata ‘akal’ dan ‘pikiran’ dengan berbagai macam derivasinya tidak kurang disebut sebanyak 189 kali. Hal ini menunjukkan betapa peranan akal dan pikiran sangat penting dalam kehidupan manusia. Misalnya dalam Al-Qur’an disebutkan “Afala Ta’qilun: apakah kamu tidak menggunakan akalmu” (QS. Al-Baqarah [2]: 44) dan “Afala Tatafakkarun: apakah kamu tidak memikirkan” (Al-An’am [6]: 50). Ibadah kurban mengingatkan kembali bahwa manusia haruslah hidup selayaknya manusia yang menggunakan akal dan pikirannya, bukan selayaknya binatang yang memperturutkan hawa nafsunya.

Baca Juga  Khutbah Idul Fitri: Menggapai Bahagia Di Hari Raya

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd

Jamaah Shalat Idul Adha yang Berbahagia…

Ibadah kurban merupakan warisan dari napak tilas dan sejarah penting Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Ibadah kurban mengandung unsur kepasrahan dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya seraya dilanjutkan dalam bentuk penguatan relasi kemanusiaan. Hakikat kurban tidak hanya ekspresi keshalihan individual saja, namun hakikat kurban adalah wujud dari keshalihan sosial yang mengandung unsur penguatan relasi kemanusiaan melalui momen berbagi antar sesama. 

Semangat kemanusiaan di balik ibadah kurban menjadi sangat penting untuk diaktualisasikan saat ini khususnya di tengah masyarakat yang kesulitan ekonomi karena pandemi. Baik itu dalam bentuk hewan kurban atau dalam wujud lainnya seperti dikonversi berupa dana dan didistribusikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan.

Ibadah Kurban mengandung pesan moral yang kuat untuk merekatkan ikatan persaudaraan dalam bentuk ta’awun: berbagi dan peduli. Semangat kemanusiaan di balik ibadah kurban harus melahirkan sikap empati antar sesama. Sehingga pasca berkurban kadar keshalihan sosial kita semakin meningkat. Seraya lahir sebagai pribadi yang hebat. Pribadi yang bukan hanya taat, namun pribadi yang senantiasa menebar kebaikan dan kasih sayang di tengah masyarakat. 

Bukankah Nabi saw. pernah mengingatkan kita  bahwa umat Islam antara yang satu dengan yang lainnya harus saling mencintai, mengasihi dan menyanyangi. Seumpama tubuh, jika ada satu anggota tubuh kita ada yang sakit, maka angota tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit (HR. Muslim).

Nabi saw. juga telah berpesan bahwa orang mukmin dengan orang mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan yang fungsinya saling menguatkan satu sama lain (HR. Muslim).

Allah swt juga berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

 “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.…” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Baca Juga  Teladan Kebangsaan KH Hasyim Asy'ari

Begitulah hakikat persaudaraan dalam Islam. Mari, kita jadikan ibadah Idul Kurban sebagai momentum terbaik untuk bangkit dan mempererat tali persaudaraan. Demikian khutbah yang bisa kami sampaikan. Semoga dapat kita renungkan. Mari kita tutup khutbah ini dengan berdoa.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً. َللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَلّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌعَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْن. وأَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ   

Penyunting: Bukhari