Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hakikat Idul Kurban di Tengah Pandemi

Kurban pandemi

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. اَمَا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”

(QS. Al-Kautsar [108]: 2)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahil-Hamd.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Berbahagia…

Di tengah gelombang pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, marilah kita terus tingkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan kita. Disaat krisis seperti saat ini, jangan sampai kadar keimanan dan ketaqwaan kita melandai. Cukuplah Covid-19 yang melandai. Dengan iman dan taqwa yang kita pegang teguh, niscaya kita akan mampu melalui badai pandemi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjung kita Nabi Muhammad saw. sang rasul pembawa perubahan.  

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah…

Hari ini umat Islam di seluruh penjuru dunia sedang merayakan Hari Raya Idul Adha 1442 H. Seperti halnya Idul Fitri yang lalu, tahun ini Idul Kurban kita masih dalam suasana pandemi. Namun demikian, makna “merayakan” ini bukan berarti kita harus hura-hura dan berpesta pora ditengah gempuran pandemi yang belum mereda. Makna “merayakan” Idul Kurban yang sesungguhnya adalah menumbukan rasa kemanusiaan dan sikap solidatiras terhadap saudara-saudara kita yang terdampak pandemi. Makna “merayakan” bisa dipahami dengan cara bersatu padu, gotong royong dan saling bahu membahu dalam membantu sesama.

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Melindungi Keselamatan Jiwa

Idul Kurban adalah momen terbaik kita untuk menumbuhkan sikap empati antar sesama. Benar, bahwa untuk sementara ini jarak fisik kita harus direnggangkan karena pandemi, namun rasa kemanusiaan dan solidaritas (kurban) kita harus semakin dirapatkan. Pandemi Covid-19 adalah ujian kemanusiaan. Sebagai ujian kemanusiaan, pandemi ini seharusnya adapat membuka pikiran dan mata hati kita akan pentingnya sikap ta’awun; saling membantu, peduli, berbagi dan bekerjasama dalam menghadapi musibah kemanusiaan ini.

Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Jamaah Shalat Idul Adha yang Dimuliakan Allah…

Sesuhgguhnya, hakikat Idul Adha bukan hanya wujud spirit dalam menyemblih hewan kurban semata. Namun hakikat Idul Adha yang sesungguhnya adalah wujud spirit dalam menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita. Ketika hewan kurban disembelih, pada saat itu pula seharusnya sifat-sifat kebinatangan kita juga ikut disembelih. Sehingga lenyaplah nafsu-nafsu kebinatangan kita seperti sikap merasa paling hebat, merasa paling kuat, merasa paling benar, merasa paling pintar, tidak peduli pada sesama, menindas, serakah, rakus, acuh tak acuh dan lain-lainnya.

Perbedaan manusia dengan binatang terletak pada akal dan pikirannnya. Dengan akal dan pikiran yang dimilikinya, manusia seharusnya mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk; antara yang halal dan yang haram; antara perintah dan larangan; antara yang menyelamatkan dan yang membahayakan; antara yang haq dan yang bathil. Manusia yang tidak menggunakan akal dan pikirannya seumpama binatang yang berjalan dalam wujud manusia.

Hari ini, betapa banyak binatang dalam wujud manusia yang bertebaran di muka bumi dan telah merusak tatanan alam dunia dengan keserakahan dan kerakusannya. Manusia yang tidak menggunakan akal dan pikirannya hidupnya semaunya; semua rambu-rambu diterjang, tidak patuh terhadap norma sosial maupun norma agama, tidak peduli dengan keselamatan orang lain, bahkan keselamatan nyawa diri dan keluarganya ia abaikan. Seperti mengindahkan protokal kesehatan dan keselamatan di tengah pandemi yang masih mengancam.

Baca Juga  Khutbah Idul Fitri: Menggapai Bahagia Di Hari Raya

Aristoteles (384-322 SM) seorang filusuf besar dari Yunani pernah mengemukakan bahwa manusia adalah termasuk jenis hewan yang berakal sehat, yang berbicara dan bertindak berdasarkan akal dan pikirannya. Sehingga, tepat jika manusia dalam berbicara dan bertindak tidak berdasarkan akal dan pikirannya taubahnya binatang dalam wujud manusia.

Dalam Al-Qur’an penggunaan kata ‘akal’ dan ‘pikiran’ dengan berbagai macam derivasinya tidak kurang disebut sebanyak 189 kali. Hal ini menunjukkan betapa peranan akal dan pikiran sangat penting dalam kehidupan manusia. Misalnya dalam Al-Qur’an disebutkan “Afala ta’qilun: apakah kamu tidak menggunakan akalmu” (QS. Al-Baqarah [2]: 44) dan “Afala Tatafakkarun: apakah kamu tidak memikirkan” (Al-An’am [6]: 50).  Ibadah kurban mengingatkan kembali bahwa manusia haruslah hidup selayaknya manusia yang menggunakan akal dan pikirannya, bukan selayaknya binatang yang memperturutkan hawa nafsunya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillahil-Hamd.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Ibadah kurban merupakan warisan dari napak tilas dan sejarah penting Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. Ibadah kurban mengandung unsur kepasrahan dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya seraya dilanjutkan dalam bentuk penguatan relasi kemanusiaan. Hakikat kurban tidak hanya ekspresi keshalihan individual saja, namun hakikat kurban adalah wujud dari keshalihan sosial yang mengandung unsur penguatan relasi kemanusiaan melalui momen berbagi antar sesama. 

Semangat kemanusiaan di balik ibadah kurban menjadi sangat penting untuk diaktualisasikan saat ini khususnya di tengah masyarakat yang terdampak pandemi. Baik itu dalam bentuk hewan kurban atau dalam wujud lainnya seperti dikonversi berupa dana dan disalurkan melalui lazismu untuk didistribusikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan. Ibadah Kurban mengandung pesan moral yang kuat untuk merekatkan ikatan persaudaraan antar sesama.

Baca Juga  Khutbah Idul Adha: Perjuangan Nabi Ibrahim Menuju Suri Tauladan yang Sesungguhnya

Semangat kemanusiaan di balik ibadah kurban harus melahirkan sikap empati antar sesama, sehingga pasca berkurban tidak ada lagi penolakan jenazah pasien positif Covid-19, tidak ada lagi pengusiran dan pengucilan terhadap saudara-saudara kita yang terinfeksi, tidak ada lagi yang kesusahan dan kelaparan karena isoman atau lockdown dan lain-lainnya. Cara terbaik agar kita bisa melalui ujian kamanusiaan ini adalah dengan saling menguatkan satu sama lain.

Nabi saw. telah berpesan bahwa orang mukmin dengan orang mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan yang fungsinya saling menguatkan satu sama lain (HR. Muslim). Nabi saw. juga mengingatkan bahwa umat Islam antara yang satu dengan yang lainnya harus saling mencintai, mengasihi dan menyanyangi. Seumpama tubuh, jika ada satu anggota tubuh kita ada yang sakit, maka angota tubuh yang lain juga ikut merasakan sakit (HR. Muslim).

Begitulah hakikat persaudaraan dalam Islam. Mari, kita jadikan ibadah Idul Kurban sebagai momentum terbaik untuk bangkit dan mempererat tali persaudaraan. Dengan Idul Kurban kita perkuat dan rapatkan kembali solidaritas dan akhlak kamanusiaan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً. َللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَلّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌعَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْن. وأَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ

Penyunting: M. Bukhari Muslim