Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Hadis Tarbawi: Mendidik Anak di Masa Pandemi

Sumber: https://depositphotos.com/vector-images/actions.html

Berbicara mengenai pendidikan, maka pendidikan adalah hal paling mendasar dalam diri manusia. Pendidikan sendiri tidak bisa dipisahkan dari manusia, karena manusia dan kehidupan yang mengitarinya adalah pusat pendidikan. Baik sebagai subjek maupun objek. Tujuan pendidikan sendiri dalam kacamata Islam adalah membentuk pribadi muslim seutuhnya. Dengan mengembangkan kemampuaan jasmani maupun rohani, menumbuhkan kesadaran dan hubungan harmonis diri manusia kepada Allah, manusia, dan alam.

Pendidikan pertama bagi manusia berasal dari keluarganya (family education). Keluarga menjadi pondasi dasar bagi seorang anak. Keluarga memegang peran penting terhadap tumbuh kembang dan pembentukkan kepribadian seorang anak. Termasuk di dalam wadah keluarga, seorang anak mendapatkan pengalaman dan gambaran pertamanya. Seperti mengenal baik dan buruk, bersosial, berkomunikasi, bekerjasama, dan nilai-nilai  dasar pendidikan  lainya.

Perihal pendidikan keluarga sebagai pondasi dasar pembentukkan kepribadian anak, sudah dimaklumatkan oleh Nabi, dengan sabdanya,

Dari Abu Hurairah, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. (HR. Muslim: 4803)

Hadis di atas menegaskan bahwa keluarga adalah penentu dari tumbuh kembang dan keberlanjutan hidup seorang anak. Mudahnya, keluarga adalah pondasi paling dasar. Jika pondasinya baik dan kokoh, maka bangunan yang beridiri di atasnya juga akan baik dan kokoh.

Pendidikan di Masa Pandemi

Kita tahu bahwa kasus positif Covid-19 di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir melonjak. Hal ini disebakan persebaran varian baru Covid-19 yang tingkat penularanya sangat cepat, juga kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan yang menurun. Sehingga pemerintah merespon lonjakan kasus ini dengan kebijakan menarik rem darurat Perberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Hal ini tentu sangat berdampak bagi kegiatan masyarakat. Salah satunya adalah lini pendidikan. Dimana kegiatan belajar-mengajar yang sedarinya akan dilakukan hybrid (daring dan luring) pada kisaran bulan Juli-Agustus kembali dilaksanakan daring.

Baca Juga  Khutbah 'Idul Fitri: Kemenangan Sejati di Hari yang Fitri

Untuk anak-anak yang belajar di lembaga non formal (Pesantren, lembaga kursus, dan sejenis), beberapa sudah kembali ke lembaga pendidikanya masing-masing. Sehingga, sedikit banyak dari mereka sudah dapat berinteraksi dengan para guru atau pembimbing pembelajaran mereka. Sedangkan untuk anak-anak yang belajarnya di lembaga formal, otomatis kembali melakukan pembelajaran secara daring. Implikasinya, kegiatan belajar itensif dilakukan dari rumah. Sehingga orang tua berperan langsung sebagai pengawas atau pembimbing dalam keseharianya. Sebagai catatan, meski orang tua tidak melakukanya secara full time, tetap saja hal ini tidak menghilangkan peran dan fungsi orang tua mendidik anak. Khususnya pembelajaran pada masa pandemi.

Nabi Muhammad saw adalah teladan yang mulia bagi umat muslim, bahkan segala makhluk Allah. Sehingga segala tindak laku maupun ucapanya dijadikan pedoman dalam berislam. Yang mana kita pahami sebagai hadis; sunnah. Dan hadis-hadis Nabi tidak hanya berbicara mengenai persoalan hukum saja. Akan tetapi, Nabi juga memberikan teladan dan kiat mendidik anak dalam beberapa riwayat hadis.

Nabi menegaskan, salah satu kewajiban orang tua adalah mendidik anak dengan pengajaran yang baik. Kedua orang tua menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter dan kepribadian seorang anak. Mudahnya, tumbuh kembang seorang anak tergantung pada kedua orang tuanya. Dalam konteks pandemi, kedua orang tua adalah pihak yang sepenuhnya mengawasi pembelajaran anak. Kedua orang tua bertanggung jawab terhadap proses belajar dari rumah.

Mendidik Anak dengan Pendekatan Hadis Tarbawi

Mendidik anak di masa Pandemi memiliki tantangan tersendiri. Orang tua yang bijak, akan memahami situasi dan keadaan, bukan malah melepas anaknya begitu saja. Di masa seperti ini, ada alternatif yang bisa dilakukan orang tua untuk memotivasi dan mendisiplinkan anak. Nabi sendiri memberikan teladan atau kiat yang dapat menjadi solusi problematik ini dalam beberapa riwayat hadis. Nabi bersabda,

Baca Juga  Memahami Sisi Universal dan Temporal Hadis

Telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] ia berkata; [Al Walid bin Katsir] Telah mengabarkan kepadaku, bahwa ia mendengar [Wahb bin Kaisan] bahwa ia mendengar [Umar bin Abu Salamah] berkata; Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ghulam, bacalah Bismilillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.” Maka seperti itulah gaya makanku setelah itu. (HR. Bukhari: 4957)

Hadis di atas menginformasikan urgensi pembiasaan dan keteladanan (motivasi) kepada anak. Bahwa orang tua dapat melakukan pendekatan-pendekatan keteladanan untuk memberikan gambaran baik dan buruk kepada anak. Seyogyanya, orang tua yang tidak memiliki waktu intensif terhadap jam pembelajaran anak dapat menanamkan nilai-nilai tersebut. Sehingga anak terbiasa mengimplementasikannya dalam keseharianya. Khususnya dalam proses belajar daring.

Bagaimanapun juga, keluarga adalah garda terdepan dalam pendidikan anak. Bahkan, Alquran mengabadikan doa Nabi Ibrahim kepada keluarga dan anak-anaknya sebagai pengingat kita. Sehingga, sudah sepatutnya kedua orang tua berkerja sama dalam menyukseskan proses belajar anak. Jika pun dalam masa pandemi kedua orang tua memiliki halangan. Maka Nabi sudah meneladankan sikap dan kiat-kiat solusi dan alternatifnya. Wallahu A’lam.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho