Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Fragmentasi Tafsir Abid Al-Jabiri Berbasis Kronologi

Sumber: https://tangerangupdate.com/modernitas-abid-al-jabiri-untuk-islam/

Muhammad Abid al-Jabiri merupakan seorang pemikir kontemporer kelahiran Figuig, Maroko bagian Tenggara pada 27 Desember 1936 M. Al-Jabiri memulai pendidikannya pada tingkat ibtida’iyyah di Madrasah Hurrah Wataniyyah yang merupakan sekolah agama swasta yang didirikan oleh oposisi kemerdekaan. Pada tahun 1951-1953 ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Casablanca dan memeroleh Diploma Arabic High School setelah Maroko merdeka.

Al-Jabiri turut andil dalam melahirkan gagasan-gagasan dalam penafsiran dalam karyanya Fahm al-Qur’an al-Hakim al-Tafsir al-Wadhih Hasb Tartib al-Nuzul. Mengawali mukadimahnya dalam karyanya itu, al-Jabiri memulai dengan mendiskusikan urgensitas al-Qur’an untuk dipahami sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Tafsir dan Horison Penafsir

Menurutnya, penafsiran memiliki horisonnya tersendiri. Analogi penting tentang hal ini dapat dengan mudah dipahami. Misalnya tentang bagaimana filsafat berani untuk menyandarkan pada proses berfikir dengan mendiskusikannya, lalu menemukan hakikat kebenaran. Dalam kerangka penafsiran, al-Jabiri menganggap ini sebagai sesuatu yang sangat krusial dan penting. Namun pada saat yang bersamaan ada banyak subjek (mufassir) tidak membaca hal-hal tersebut; dengan cara mengulang-ulang tradisi yang telah lalu dalam memproduksi penafsiran. Karyanya jelas ditujukkan sebagai respon terhadap model penafsiran klasik dengan cara menguji relevansi sebuah pemahaman terhadap teks; dan melakukan usaha menemukan (ijtihad) hal baru dalam pembacaan teks al-Qur’an guna menemukan spirit kekinian al-Qur’an.

Dengan posisi itu, jelas al-Jabiri menginginkan sebuah karya yang sesuai dengan tuntutan zamannya. Hal ini tidak terlepas dari tanggung jawabnya untuk membuka ruang komunikasi antara teks dengan (experience/ mughamarah) yang terkait langsung dengan realitas. Sebagai aspek paling menonjol dalam karyanya. Dari usaha inilah, kemudian al-Jabiri mendaku berusaha untuk memahami teks dengan menghadirkan data-data dan informasi kekinian. Berdasarkan horison dan cakrawala segala kandungannya.

Baca Juga  Tafsir Q.S Al-Baqarah Ayat 222-223 (1): Ketentuan Hukum Tentang Haid

***

Motivasi penulisan karya ini. Tidak lain adalah usahanya yang biasa disebut dengan istilah Washl al-Qari bi al-Maqru (menghubungkan antara pembaca dengan yang dibaca). Proyek ini diharapkan akan menemukan pembaharuan yang berdasarkan otentisitas (al-Ashalah), yakni suatu ijtihad yang berpijak pada kesinambungan dengan tradisi.

Dalam penafsirannya, al-Jabiri terlebih dahulu membuat catatan awal atau prolog (Istihlal). Dalam kasus surah al-‘Alaq, al-Jabiri terlihat mengemukakan top of mind ayat ini dengan menggambarkan dominasi prinsipil tentang tujuan ayat ini diturunkan. Menurutnya, objek utama pada ayat ini adalah nabi Muhammad dan kaum-kaum yang memusuhinya. Meskipun demikian, al-Jabiri sendiri tidak menampik bahwa tema-tema penting seputar Nubuwwah, Rububiyyah, Uluhiyyah yang menjadi pembahasan pokok.

Melalui penafsiran ayat-ayat awal periode Mekkah itu, al-Jabiri berusaha menggambarkan peran dan fungsi Muhammad yang sangat kompleks, karena Muhammad bertanggung jawab untuk mengemukakan wacana teologis baru di kalangan Arab, selain memiliki tugas-tugas perintah ibadah yang tidak mudah, seperti perintah ibadah, hubungan sosial dengan menciptakan kerangka-kerangka etis melalui syariat.

Tafsir Berbasis Kronologi Al-Jabiri

Dalam menjelaskan hubungan-hubungan sejarah, Abid Al-Jabiri konsisten menggunakan pola dan struktur penafsiran yang tertib dan runut berdasarkan urutan sejarah (sabab al-nuzul). Kesan yang muncul dari penafsirannya, jika dilihat dari perspektif pelaku dan misi kenabian maka dapat di simpulkan bahwa Muhammad sebagai pembawa risalah bagi umat manusia (saat itu kelompok Arab yang belum dapat menerimanya) dengan pesan-pesan yang dibawa, berkaitan dengan kenabian dan ketuhanan.

Pada masa-masa awal pula, dengan kondisi yang dihadapinya, Muhammad menggunakan strategi-strategi dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi. Melalui penjelasan ini, maka al-Jabiri sesungguhnya berhasil menggambarkan konstruksi historis, setidaknya pada 3 hal pokok: perspektif pelaku (Nabi Muhammad), konten risalah (syariat) dan strategi menyampaikan risalah tersebut.

Baca Juga  Semiologi Ferdinand De Saussure dalam Menafsirkan Q.S Al-Hujurat: 13

Postur penafsiran al-Jabiri dengan cara mengemukakan ayat-ayat yang hendak ditafsirkan terlebih dahulu, kemudian memberikan gambaran-gambaran historis yang mendasari teks. Oleh karena itu, maka tradisi dan adat kebiasaan bangsa Arab menjadi forma penting dalam tafsirnya. Hal ini dapat tergambar melalui penafsiran al-Jabiri mengenai pewahyuan, “Iqra’ bismi rabbikal-lażī khalaq”.

Abid Al-Jabiri menjelaskan bahwa ayat ini adalah sebuah permulaan dalam membaca dengan mengingat dzat Tuhan; sebagai optimisme pengharapan dan permohonan atas kebaikan. Dalam konteks historisnya, hal ini berlaku dalam kehidupan adat orang Arab untuk melakukan al-Tabarruk (memohon keberkahan), kepada salah satu dari Tuhan mereka, dalam contoh misalnya, mereka berkata: “dengan nama lata…. dengan nama al-‘Uza.

***

Abid Al-Jabiri, ingin menerangkan lebih lanjut konteks historis yang sedang terjadi pada saat itu, dengan mengutip hadis Nabi, bahwa kejadian ini terjadi pada saat Nabi memerintahkan ‘Ali bin Abi Talib mengenai perjanjian Hudaybiyah, kemudian berkata: “Tulislah Bismi Allah al-Rahman alRahim, lalu perwakilan dari kelompok Quraisy mengucapkan: “Kami tidak mengetahui Bism Allah alRahman al-Rahim, tetapi tulislah apa yang kami ketahui: Bismika Allahumma.” Dalam aspek ini, terlihat al-Jabiri menginginkan adanya relevansi historis antara tradisi orang Arab dan tradisi kenabian.

“Da’wahum giha sub-hanakallahumma”, menurut al-Jabiri, orang-orang Arab menggunakan istilah ini, karena sesungguhnya mereka mengenal Allah, dan meyakininya. Namun mereka pula menyekutukannya melalui perantara-perantara dari golongan malaikat, bintang-bintang, berhala, mereka percaya bahwa perantara-perantara tersebut mendekatkan mereka kepada Allah. Selain itu mereka juga memohon pertolongan kepada mereka. Berdasarkan analisis terhadap surah al-‘Alaq, beberapa hal dapat disimpulkan. Di antaranya adalah bahwa secara metodis karya al-Jabiri dapat dikategorikan sebagai tafsir dengan metode sabab nuzuli dengan corak historis (tarikhi).

Baca Juga  Ragam Pendapat Ulama Tentang Munculnya Qiraat Al-Quran

Sebagai konsekuensi metodologis dan kecenderungan corak historisnya, maka ada banyak riwayat yang dimunculkan dan didudukkan oleh al-Jabiri sebagai data sejarah. Dari sumber penafsirannya, al-Jabiri tidak membatasi dirinya terhadap karya-karya tafsir kontemporer, ia juga mengakomodasi tafsir-tafsir klasik.