Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Fatimah dan Ali: Inspirasi Kisah Cinta dalam Diam

Cinta
Sumber: istockphoto.com

Telah tersebar di seluruh penjuru dunia tentang kisah cinta dua insan dalam diam. Yaitu kisah Ali dan Fatimah yang menjadi contoh teladan bagi muslim dan muslimah ketika jatuh cinta. Perasaan cinta yang membawa keduanya untuk menggapai ridho dari Rabbnya. Cinta yang dijemput dengan jalan yang baik dan pada akhirnya berbuah manis. Berikut ini adalah kisah teladan rumah tangga putri kesayangan Rasulullah, Fatimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Sosok Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib sejak kecil telah hidup bersama Rasulullah. Ketika itu, Abu Thalib, paman Rasulullah dalam keadaan miskin. Rasulullah dan Abbas kemudian berunding untuk membantu kesulitan pamannya ini. Mereka mengusulkan untuk merawat anak-anak Abu Thalib agar sedikit meringankan beban beliau. Maka Abu Thalib merespon dengan meminta Muhammad untuk menjaga Ali dan Abbas menjaga Ja’far, sedangkan anak laki-lakinya yang satunya, Uqail, masih tetap bersama Abu Thalib.

Saat wahyu kenabian turun kepada Rasulullah, Ali telah mantap beriman sejak hari pertama risalah turun kepada Nabi. Ali bersyahadat di rumah Rasulullah setelah melihat Rasulullah dan Khadijah beribadah menyembah Allah dan bertanya tentang agama Islam. Ali tumbuh dalam pendidikan yang senantiasa Rasulullah ajarkan. Di samping itu, Fatimah juga tumbuh dengan pendidikan dari Rasulullah.

Pada akhirnya tumbuhlah dua remaja ini dan saling merahasiakan perasaan di antara mereka. Sampai akhirnya mereka hijrah ke Madinah. Ketika proses hijrah, Ali mendapatkan tugas yang berat karena harus menggantikan Rasulullah tidur di mana malam itu kaum Quraisy berencana ingin membunuh Rasulullah. Singkat cerita Ali juga berhijrah ke Madinah.

Ali Melamar Fatimah

Pada saat sudah hijrah di Madinah, Ali bekerja sebagai kuli penimba air untuk menyambung hidup. Upah seharinya hanya segenggam kurma. Kebun kurma tempatnya menjemput rezeki ini adalah kebun milik orang Yahudi. Hidupnya kala itu benar-benar pas-pasan. Pada saat kondisinya seperti ini, terdengar kabar bahwa Abu Bakar melamar Fatimah. Ya sudah, pikir Ali pastilah Rasulullah akan menerima pinangan sahabat istimewanya itu. Lelaki yang kaya, mampu, saleh dan yang orang terbaik di antara umatnya.

Baca Juga  QS. Al-Baqarah 233: Duhai Ayah dan Ibu, Berilah Kami Perhatianmu!

Ternyata, lamaran yang diajukan Abu Bakar ditolak oleh Rasulullah. Kenapa Rasulullah menolak? Para ulama menjelaskan karena Rasulullah tahu isi hati putrinya yang sesungguhnya. Dan Rasulullah juga menjaga agar jangan sampai ini menjadi permasalahan nantinya karena Rasulullah sudah menikah dengan putri Abu Bakar, Aisyah. Jika Abu Bakar menikah dengan putri Rasulullah, hal ini bisa menjadi adat yang tidak baik.

Ketika Abu Bakar mundur, ternyata Umar bin Khattab maju. Ketika itu Rasulullah belum menikahi Hafsah. Lagi-lagi Umar mendapat penolakan dari Rasulullah. Melihat fakta ini, akhirnya orang-orang anshar menyemangati Ali untuk melamar Fatimah. Ali sebenarnya tidak percaya diri. Melihat menantu Rasulullah yang lain seperti Utsman dan Abu Ash, sedangkan mereka dari golongan orang kaya.

Setelah berpikir matang, akhirnya Ali membulatkan tekad. Ali maju dan datang kepada Rasulullah. Ternyata respon Rasulullah ketika itu menjawab, “Ahlan wa sahlan, silahkan kembali ke tempatmu.” Ali bingung, kenapa kok disuruh pulang? Maka kemudian ketika Ali berkonsultasi dengan teman-teman ansharnya, mereka menjelaskan bahwa artinya ahlan wa sahlan itu Rasulullah menerima, Yes of course, why not.

Setelah diterima, Ali kebingungan juga dan menimbulkan berbagai pertanyaan. Seperti bagaimana nanti kehidupan pasca menikah? Akan tinggal di mana? Akan diberikan nafkah apa putri Rasulullah? Teman-teman anshar Ali yang mendukungnya kemudian menyumbangkan kepada Ali tempat tinggal, peralatan, perlengkapan dapur dan kebutuhan lain yang sekiranya menunjang kehidupan Ali dan Fatimah. Pada akhirnya Fatimah dan Ali menikah.

Kehidupan Pernikahan Ali dan Fatimah

Setelah menikah, Rasulullah mengunjungi tempat tinggal putrinya. Saat itu Rasulullah merasa heran karena banyak perabot rumah tangga dan mempertanyakan asalnya dari mana. Ali pun menjelaskan bahwa semuanya berasal dari teman-teman ansharnya. Dengan tegas, Rasulullah melarang keluarganya untuk menerima sedekah. Ali bingung dengan respon Rasulullah yang seperti itu. Apakah harus Ali kembalikan? Lalu Rasulullah merespon lagi, boleh memakai semua itu. Akan tetapi akadnya perlu diperbaiki, menjadi hutang yang harus dibayar dan dikembalikan.

Baca Juga  Rasulullah Pun Pernah Dianggap Gila

Rumah tangga Fatimah dan Ali terkenal dengan keadaan yang memprihatinkan dan serba terbatas. Suatu ketika Fatimah menggiling gandum sampai tangannya melepuh, sedangkan Ali menimba air sampai punggungnya nyaris patah. Kemudian Fatimah datang kepada Rasulullah untuk mengadukan kondisinya dan meminta untuk disediakan pembantu agar meringankan pekerjaan rumahnya. Ketika itu yang menerima kedatangan Fatimah adalah Aisyah dan menyampaikannya kepada Rasulullah.

Usulan dari Fatimah tersebut ternyata Rasul tolak dan memberikan solusi agar Fatimah dan Ali senantiasa berdzikir kepada Allah Swt. Hal tersebut tercantum dalam hadits berikut.

Dari Ali r.a., ia berkata, Fathimah telah mengadu kepadaku tentang kedua tangannya yang capek membuat adonan dari tepung gandum. Lalu aku berkata, “Jika kamu datang ke bapakmu, maka mintalah pembantu kepadanya.” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik untuk kalian dari pada seorang pembantu? Jika kalian hendak mendatangi kasur kalian, maka ucapkanlah 33 kali tahmid, 33 kali tasbih, dan 34 kali takbir.” (HR. At-Tirmidzi).

Rumah tangga Fatimah dan Ali ini merupakan contoh teladan yang mengajarkan kaum muslimin agar senantiasa bersabar dan berdzikir kepada Allah Swt. Dari ujian yang mereka hadapi, menunjukan keistimewaannya dihadapan Allah Swt. Dari pernikahan mereka ini lahirlah cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Husein.

Demikian kisah singkat dari kehidupan rumah tangga Ali dan Fatimah. Semoga menginspirasi para pembaca untuk meneladani mereka dalam hiruk pikuk kehidupan berumah tangga.

Penyunting: Bukhari