Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Faham Feminisme Tidak Bertentangan dengan Islam?

feminisme
Sumber: freepik.com

“Aneh ketika ada kelompok yang mengatakan jika islam hadir untuk mendiskriminasi perempuan. Padahal islam dalam kitab sucinya jelas menerangkan bahwa Islam hadir untuk melindungi kaum perempuan dan memuliakannya.”

Mungkin Sebagian khalayak umum sudah tidak asing lagi mendengar kata “feminism” ini. Bahkan beberapa tahun terakhir ini sangat menggema sekali pembelaan, aksi solidaritas dari faham yang merusak ini, yaitu feminism.

Istilah ini mulai dikenal dan berkembang pada tahun 1980-sekian, munculnya pemikiran ini tidak terlepas dari gelombang westernisasi, yang di dalamnya terdapat era postmodernisasi. Pada masa inilah bangsa barat mulai memproduksi produk-produk pemikiran seperti faham relativism, equality, dan feminisme.

Jika kita melihat kembali ke sejarah, faham feminism ini lahir karena ketidakpuasan kaum perempuan terhadap dunia yang cenderung membatasi mereka untuk tidak bisa beraktifitas bebas seperti layaknya kaum lak-laki. Kaum yang membela faham ini kemudian membuat propaganda untuk bisa mendapatkan keadilan sebagaimana laki-laki mendapatkannya.

Ketika peradaban barat memasuki dunia islam, mereka banyak sekali melakukan pengkritikan terhadap syariat islam. Banyak dari mereka tidak terima dan membuat afiliasi untuk meruntuhkannya. Salah satunya adalah kaum feminism, yang dengan mengatas dalih mencapai kebebasan terhadap status dan persamaan peran antara laki-laki dan perempuan atau keseteraan gender.

Apa itu Gender ?

Melihat pengertian secara akademisi mengenai istilah gender ini, maka secara objektif tidak masalah memberikan artian gender ini. Helen Tierney misalnya, mengartikan bahwa gender sebagai sebuah konsep kultural yang berusaha membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dalam perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional dalam kehidupan sosial masyarakat.

Jika gender yang dimaksudkan adalah sebagaimana pengertian di atas, maka bisa diterima oleh islam, tetapi yang menjadi bias adalah ketika istilah gender ini dibawa oleh kaum feminisme yang mengatakan, peran gender hanya berasal dari kontruksi sosial dan bukan alamiah dari Tuhan. Dengan demikian peran gender hakikatnya adalah relative, artinya dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Hal semacam inilah yang di gagas oleh para kaum feminis dimana kesamaan atau netral atas kondisi ideal laki-laki dan perempuan diperebutkan. Jika kenetralan ini dilanggar, maka dalam pandangan mereka kaum feminisme akan menimbulkan ketimpangan sosial, yakni diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Pada umumnya kaum feminis memakai ukuran kuantitatif dalam menentukan apakah terjadi ketimpangan seperti melihat out come, lot atau keberhasilan yang telah dicapai laki-laki dan perempuan di dunia publik.

Kontradiksi antara Islam dan Feminisme

Islam jelas sangat menolak faham feminisme ini, karena dalam paradigma faham ini ingin menunjukkan bahwa muslimah itu juga berhak mendapatkan kebebasan. Dan kaum feminisme perlahan menggunakan brainwash pemikiran untuk melancarkan aksi mereka itu. Bahkan tidak sedikit Muslimah yang sudah terjerat pemahaman ini.

Faham feminisme ini lahir juga karena adanya permasalahan yang klasik, seperti contoh adalah tentang poligami. Mereka menganggap bahwa poligami adalah suatu tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Maka mereka yang mengatakan demikian sesungguhnya tidak faham tentang sejarah, mereka mengatakan demikian hanya untuk membela kepentingan mereka sendiri.

Jika kita melihat sejarah, perempuan pada masa pra islam itu sangat memalukan dan hina sekali. Perempuan pada masa pra islam di Arab bisa memiliki lebih dari satu suami, perempuan pada zaman itu juga berprofesi sebagai selir-selir kerajaan Persia dan Romawi. Maka islam datang membawa perubahan itu.

Baca Juga  Paradigma Thomas Kuhn dalam Transformasi Penafsiran Al-Qur’an

Poligami dalam islam adalah solusi terhadap masalah-masalah yang timbul dari masyarakat. Tetapi, kamu feminisme menganggap bahwa poligmai adalah sebuah tindakan diskriminasi terhadap kaum Wanita. Di sisi lain ada logika yang tidak masuk akal juga, yaitu mereka melegalkan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender).

Kontradiksi dengan ajaran agama islam adalah, bahwa orang-orang yang mendukung pemahaman feminisme seperti ini memberikan pernyataan bahwa, orang yang menjadi gay, transgender itu adalah fitrah manusia dan sunnatullah. Dan secara logika berarti mereka mengharamkan pernikahan dan menghalalkan hubungan sesama jenis, ini adalah pola fikir yang kacau.

Pola berfikir yang seperti inilah yang menjadikan bangsa arab menjadi liberal, mereka hidup dengan kesenangan mereka sendiri. Maka dari itu salah satu peneliti bernama Adian Husaini menuliskan sebuah buku tebal berjudul “Wajah Peradaban Orang Barat” dimana dalam buku tersebut menjelaskan bagaimana buruknya tingkah laku orang-orang barat, terutama pada faham feminism ini.

Maka faham feminisme ini sangat bertentangan dengan ajaran agama islam, dari segi bahasa dan makna pun tidak memiliki relasi. Sudah sangat jelas dalam islam kehidupan persamaan hak perempuan dan laki-laki dibatasi. Tetapi dalam ajaran feminisme persamaan antara laki-laki dan perempuan harus sama, tidak boleh ada diskrimansi, dan harus adil. Ketika laki-laki mendapat posisi yang sentral di dalam masyarakat, maka perempuan juga harus mendapatkannya.

Sedangkan dalam ajaran feminisme radikal lebih parah lagi, disana diajarkan doktrin, jika wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, maka perempuan juga mempunyai hak yang sama dalam memperoleh kepuasan seksual. Bagaimana cara mereka memperolehnya? Dengan melakukan LGBT demikian tadi. Jadi cara berfikir mereka dengan logika sangat kacau, kelompok mereka mengharamkan poligami tapi dengan bebas melakukan hubungan sesama jenis. Dan sangat rentan sekali muslimah terpengaruh cara berfikir seperti ini.

Perempuan dalam Islam

Tujuan final yang diajarkan dari faham feminisme ini adalah ingin memberikan kebebasan yang luas kepada kaum perempuan, mereka yang mendukung faham ini menginginkan keadilan dan hilangnya diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Islam sebagai agama peradaban yang jelas tujuannya telah mengembangkan ilmu pengetahuan dan akal yang dipandu oleh wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perempuan sebelum datangnya islam sangat kurang dalam kehidupaannya, mereka dianggap sebagai manusia yang derajatnya jauh dibawah laki-laki.

Namun, setelah datangnya islam, secara perlahan telah mengembalikan hak-hak perempuan sebagai makhluk yang sempurna. Islam telah memberikan status yang mulia bagi perempuan, sangat dihargai dan dimuliakan. Maka jangan sampai kemuliaan ini hilang karena hanya ingin mengikuti hawa nafsu semata.

Islam tidak memberikan batas ruang gerak bagi perempuan yang di dalam kehidupan mereka. Islam juga tidak melarang kaum perempuan bekerja, Adapun perintah untuk tinggal di rumah bertujuan untuk melindungi dari berbagai macam fitnah. Dengan demikian islam telah memberikan tempat yang proporsional bagi perempuan karena merekalah kunci untuk membangun peradaban dunia.  

Baca Juga  Tafsir At-Tanwir: Kafir Bukan Hanya Untuk Orang Non-Muslim

Mungkin Sebagian khalayak umum sudah tidak asing lagi mendengar kata “feminism” ini. Bahkan beberapa tahun terakhir ini sangat menggema sekali pembelaan, aksi solidaritas dari faham yang merusak ini, yaitu feminism.

Istilah ini mulai dikenal dan berkembang pada tahun 1980-sekian, munculnya pemikiran ini tidak terlepas dari gelombang westernisasi, yang di dalamnya terdapat era postmodernisasi. Pada masa inilah bangsa barat mulai memproduksi produk-produk pemikiran seperti faham relativism, equality, dan feminisme.

Jika kita melihat kembali ke sejarah, faham feminism ini lahir karena ketidakpuasan kaum perempuan terhadap dunia yang cenderung membatasi mereka untuk tidak bisa beraktifitas bebas seperti layaknya kaum lak-laki. Kaum yang membela faham ini kemudian membuat propaganda untuk bisa mendapatkan keadilan sebagaimana laki-laki mendapatkannya.

Ketika peradaban barat memasuki dunia islam, mereka banyak sekali melakukan pengkritikan terhadap syariat islam. Banyak dari mereka tidak terima dan membuat afiliasi untuk meruntuhkannya. Salah satunya adalah kaum feminism, yang dengan mengatas dalih mencapai kebebasan terhadap status dan persamaan peran antara laki-laki dan perempuan atau keseteraan gender.

Apa itu Gender ?

Melihat pengertian secara akademisi mengenai istilah gender ini, maka secara objektif tidak masalah memberikan artian gender ini. Helen Tierney misalnya, mengartikan bahwa gender sebagai sebuah konsep kultural yang berusaha membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dalam perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional dalam kehidupan sosial masyarakat.

Jika gender yang dimaksudkan adalah sebagaimana pengertian di atas, maka bisa diterima oleh islam, tetapi yang menjadi bias adalah ketika istilah gender ini dibawa oleh kaum feminisme yang mengatakan, peran gender hanya berasal dari kontruksi sosial dan bukan alamiah dari Tuhan. Dengan demikian peran gender hakikatnya adalah relative, artinya dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Hal semacam inilah yang di gagas oleh para kaum feminis dimana kesamaan atau netral atas kondisi ideal laki-laki dan perempuan diperebutkan. Jika kenetralan ini dilanggar, maka dalam pandangan mereka kaum feminisme akan menimbulkan ketimpangan sosial, yakni diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Pada umumnya kaum feminis memakai ukuran kuantitatif dalam menentukan apakah terjadi ketimpangan seperti melihat out come, lot atau keberhasilan yang telah dicapai laki-laki dan perempuan di dunia publik.

Kontradiksi antara Islam dan Feminisme

Islam jelas sangat menolak faham feminisme ini, karena dalam paradigma faham ini ingin menunjukkan bahwa muslimah itu juga berhak mendapatkan kebebasan. Dan kaum feminisme perlahan menggunakan brainwash pemikiran untuk melancarkan aksi mereka itu. Bahkan tidak sedikit Muslimah yang sudah terjerat pemahaman ini.

Faham feminisme ini lahir juga karena adanya permasalahan yang klasik, seperti contoh adalah tentang poligami. Mereka menganggap bahwa poligami adalah suatu tindakan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Maka mereka yang mengatakan demikian sesungguhnya tidak faham tentang sejarah, mereka mengatakan demikian hanya untuk membela kepentingan mereka sendiri.

Jika kita melihat sejarah, perempuan pada masa pra islam itu sangat memalukan dan hina sekali. Perempuan pada masa pra islam di Arab bisa memiliki lebih dari satu suami, perempuan pada zaman itu juga berprofesi sebagai selir-selir kerajaan Persia dan Romawi. Maka islam datang membawa perubahan itu.

Baca Juga  Ratu Balqis: Pemimpin Perempuan Demokratis yang Dikisahkan dalam Al-Qur’an

Poligami dalam islam adalah solusi terhadap masalah-masalah yang timbul dari masyarakat. Tetapi, kamu feminisme menganggap bahwa poligmai adalah sebuah tindakan diskriminasi terhadap kaum Wanita. Di sisi lain ada logika yang tidak masuk akal juga, yaitu mereka melegalkan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender).

Kontradiksi dengan ajaran agama islam adalah, bahwa orang-orang yang mendukung pemahaman feminisme seperti ini memberikan pernyataan bahwa, orang yang menjadi gay, transgender itu adalah fitrah manusia dan sunnatullah. Dan secara logika berarti mereka mengharamkan pernikahan dan menghalalkan hubungan sesama jenis, ini adalah pola fikir yang kacau.

Pola berfikir yang seperti inilah yang menjadikan bangsa arab menjadi liberal, mereka hidup dengan kesenangan mereka sendiri. Maka dari itu salah satu peneliti bernama Adian Husaini menuliskan sebuah buku tebal berjudul “Wajah Peradaban Orang Barat” dimana dalam buku tersebut menjelaskan bagaimana buruknya tingkah laku orang-orang barat, terutama pada faham feminism ini.

Maka faham feminisme ini sangat bertentangan dengan ajaran agama islam, dari segi bahasa dan makna pun tidak memiliki relasi. Sudah sangat jelas dalam islam kehidupan persamaan hak perempuan dan laki-laki dibatasi. Tetapi dalam ajaran feminisme persamaan antara laki-laki dan perempuan harus sama, tidak boleh ada diskrimansi, dan harus adil. Ketika laki-laki mendapat posisi yang sentral di dalam masyarakat, maka perempuan juga harus mendapatkannya.

Sedangkan dalam ajaran feminisme radikal lebih parah lagi, di sana diajarkan doktrin, jika wanita mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, maka perempuan juga mempunyai hak yang sama dalam memperoleh kepuasan seksual. Bagaimana cara mereka memperolehnya? Dengan melakukan LGBT demikian tadi. Jadi cara berfikir mereka dengan logika sangat kacau, kelompok mereka mengharamkan poligami tapi dengan bebas melakukan hubungan sesama jenis. Dan sangat rentan sekali muslimah terpengaruh cara berfikir seperti ini.

Perempuan dalam Islam

Tujuan final yang diajarkan dari faham feminisme ini adalah ingin memberikan kebebasan yang luas kepada kaum perempuan, mereka yang mendukung faham ini menginginkan keadilan dan hilangnya diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Islam sebagai agama peradaban yang jelas tujuannya telah mengembangkan ilmu pengetahuan dan akal yang dipandu oleh wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perempuan sebelum datangnya islam sangat kurang dalam kehidupaannya, mereka dianggap sebagai manusia yang derajatnya jauh dibawah laki-laki.

Namun, setelah datangnya islam, secara perlahan telah mengembalikan hak-hak perempuan sebagai makhluk yang sempurna. Islam telah memberikan status yang mulia bagi perempuan, sangat dihargai dan dimuliakan. Maka jangan sampai kemuliaan ini hilang karena hanya ingin mengikuti hawa nafsu semata.

Islam tidak memberikan batas ruang gerak bagi perempuan yang di dalam kehidupan mereka. Islam juga tidak melarang kaum perempuan bekerja, Adapun perintah untuk tinggal di rumah bertujuan untuk melindungi dari berbagai macam fitnah. Dengan demikian islam telah memberikan tempat yang proporsional bagi perempuan karena merekalah kunci untuk membangun peradaban dunia.  

Editor: An-Najmi Fikri R