Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Dua Makna Kemudahan Dari Allah dalam Surah Al-Lail

Sumber: istockphoto.com

Apa reaksimu ketika mendengar dua firman Allah tentang dua makna kemudahan dalam surah al-Lail ini:

“Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan”

dengan firman Allah:

“Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesulitan”

Betapa indah dan mengena retorika dan maknanya. Ayat yang satu dan yang satu lagi hanya berbeda lafadz terakhir, namun maknanya sangatlah bersebrangan. Bila ayat yang satu berisikan kabar baik. Sedangkan yang satu lagi berisikan  kabar pahit.

Hal ini semakin menunjukan keindahan ayat demi ayat dalam alquran. Perhatikan gaya bahasa yang Allah sampaikan dalam kitab-Nya tersebut. Muqabalah yang tertera dalam surat al-Lail tersebut tentunya memiliki pesan penting yang harus kita pahami.

Maka pada kesempatan ini, penulis akan mengkaji surat al-Lail dengan fokus utama makna at-taisir dengan rincian berikut ini.

Makna At-Taisir Lil Yusra

At-taisir lil yusra maksudnya adalah kemudahan dari Allah kepada hamba-Nya menuju jalan kemudahan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Lail ayat 7. Ayat ini merupakan sambungan dan sebagai satu kesatuan dari dua ayat sebelumnya:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَ اتَّقَى  وَ صَدَّقَ بِا الْحُسْنَى  فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرَى

Maka barang siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)” [Q.S. Al-Lail ayat 5-7].

Ayat di atas memberi kabar baik, sebab di dalamnya terdapat password kemudahan. Dengan kata lain, bila kita menginginkan dimudahkan Allah pada kemudahan, maka harus melakukan hal-hal di atas: bersedekah, bertakwa, dan mengimani adanya pahala surga.

Sebagaimana di dalam tafsir as-Sa’di, bahwa ayat di atas menyimpan tiga kunci kebahagiaan yang bila semuanya dikerjakan, maka ia akan memperoleh at-taisir lil yusra dari Allah. Kunci kebahagiaan tersebut adalah:  melakukan yang diperintahkan (أعطى); menjauhi larangan (اتّقى), dan mengimani apa yang diberitakan Allah dan rasul-Nya (صدّق با الحسنى).

Baca Juga  Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Prespektif Al-Quran

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya: huruf sin dalam lafadz fasanuyassiruka, menunjukan tahqiq. Artinya, pasti terwujud. Siapapun yang mengerjakan  ketiga hal di atas, pasti Allah akan membalasnya dengan at-taisir lil yusra, baik dimudahkan dalam urusan dunia maupun agama.

At-taisir lil yusra juga terdapat dalam ayat yang lain dengan redaksi:

وَ نُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى

Dan akan Kami mudahkan bagimu jalan menuju kemudahan” (Q.S. Al-A’la ayat 8).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat-ayat at-taisir lil yusra ini (baik dalam surat al-Lail maupun al-A’la) mengisyaratkan bahwa satu amal yang membawa seseorang pada kebenaran, oleh Allah akan dibalas dengan kemudahan-kemudahan berikutnya di jalan kebenaran: Allah mudahkan jalan untuknya agar terus menuju jalan kebenaran.

Makna At-Taisir Lil ‘Usra

At-taisir lil’usra maksudnya adalah kemudahan dari Allah kepada hambaNya menuju jalan kesulitan. Makna ayat ini sangat pahit dan merinding. Karena Allah memudahkan seseorang pada jalan kesulitan, dan ini adalah hukuman Allah yang kita semua berlindung diri darinya.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menggambarkan bahwa boleh jadi urusan mereka dimudahkan, tetapi hati mereka dalam kesempitan. Kenikmatan yang mereka peroleh akan menjadi bencana bagi mereka di kemudian hari. Itupun hanya kenikmatan jasad dan tanpa kenikmatan batin. Beliau pun menggambakan bahwa dunia ini surga bagi mereka, namun tidak di akhirat.

وَ أَمَّا مَنْ بَخِلَ وَ اسْتَغْنَى  وَ كَذَّبَ بِا الْحُسْنَى  فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرَى

Maka barang siapa yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), dan mendustakan (pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesulitan (kesengsaraan)” [QS. Al-Lail ayat 8-10].

At-Taisir lil’usra dalam ayat di atas menunjukan hukuman Allah bagi hamba-Nya yang: kikir, merasa tidak memerlukan pertolongan Allah, serta orang yang mendustakan kebenaran yang disampaikan Allah dan rasulNya.

Baca Juga  Mengapa Tidak Percaya Allah?

Dalam tafsir Ibnu Katsir, sebagian salaf mengatakan: pahala dari suatu amal baik adalah dimudahkan dalam kebaikan, dan hukuman dari suatu amal buruk adalah dimudahkan dalam keburukan.

Juga berdasarkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Suraqah bin Malik bertanya kepada beliau:

“….Lalu apa guna beramal?” Rasulullah menjawab: “Beramal-lah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya.)” [HR. Muslim no. 2648].

Penjelasan

Orang beriman akan dimudahkan dengan amalan-amalan penghuni surga, sedangkan orang yang tidak beriman akan dimudahkan dengan amalan-amalan penghuni neraka. Menurut Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, semakin seseorang bertakwa, semakin Allah mudahkan urusannya. Dan semakin seseorang jauh dari Allah, maka ia akan semakin kesusahan dalam urusannya.

Secara lebih khusus, bahwa at-taisir lil yusra sebagai pahala dari Allah bagi yang gemar berderma, sedangkan at-taisir lil’usra sebagai hukuman dari Allah bagi yang bakhil (kikir). Maka, untuk memperoleh at-taisir lilyusra: kita harus gemar berderma, bertakwa, dan membenarkan yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya (beriman). Dan agar dijauhkan dari at-taisir lil’usra, maka kita harus menghindari sifat kikir, merasa bisa tanpa Allah, serta mendustakan kebenaran Allah dan rasulNya.

Artinya, bila kita selalu dimudahkan dalam jalan kebaikan, maka teruslah berdoa pada Allah agar diteguhkan dalam kebaikan.Namun, bila kita dimudahkan dalam jalan keburukan, segera istighfar dan bertaubat, sebab boleh jadi, itu adalah hukuman Allah atas dosa yang diperbuat.

Wallah a’lam.

Editor: An-Najmi