Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Difabel dalam Al-Quran: Tidak Untuk Dimarginalkan!

Difabel
Gambar: klikdokter.com

Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Namun, ada beberapa orang menggangap beberapa manusia terlahir tidak sempurna, hal ini mengarah kepada keterbatasan dan kekurangan secara fisik (difabel). Padahal penciptaan manusia bukan menyoal tentang itu. Namun lebih kepada kamampuan yang dimiliki.

Antara Difabel dan Disabilitas

Difabel merupakan istilah yang berkonotasi positif untuk merujuk kepada seseorang yang mempunyai kemampuan berbeda. Al-Quran sendiri berbicara mengenai kaum difabel, namun tidak merujuk pada keterbatasan fisik melainkan berkaitan kepada perilaku.

Kata difabel berasal dari kata different abbility, yang berarti orang-orang yang berkemampuan berbeda atau khusus. Penggunaan kata ini dimaksudkan untuk mengganti kata disable atau disability yang memiliki arti penyandang cacat. Karena penggunaan kata disable ini dianggap diskriminatif dan mengandung unsur negatif terhadap para penyandang cacat.

Difabel dalam Al-Qur’an

Al-Quran tidak disusun secara tematis dan surat-suratnya sering mengandung berbagai tema. Begitu juga dengan difabel ini. Ia tidak tersusun secara tematis dalam al-Quran, namun tersebar diberbagai surah dalam al-Quran.

Setidaknya ada lima kata dalam al-Quran yang merupakan bagian dari difabel: a’ma (tuna netra atau buta); a’mah (tunanetra yang tidak total); bukmun (tunawicara atau bisu); shummun (tunarungu atau tuli); a’raj (tunadaksa atau memiliki kecacatan fisik seperti pincang dll). Keseluruhan term ini tedapat pada 26 surat dalam 38 ayat.

Yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 18, 171, Ali Imron ayat 49, Al-Maidah ayat 71, 110, Al-An’am ayat 39, 50, 104, Al-A’raf ayat 65, Al-Anfal ayat 22, Yunus ayat 42, 43, Hud 24, 28. Kemudian Ar-Ra’du ayat 16, 19, An-Nahl ayat 76, Al-Isra ayat 72, 97, Thaha 124, 125, Al-Anbiya’ ayat 45. Lalu Al-Hajj ayat 46, An-Nur ayat 61, Al-Furqon 73, An-Naml ayat 66, 80, 81, Al-Qashash ayat 66, Ar-Rum ayat 18, 52, 53, 171, Fathir 19, Ghafir ayat 58, Fushilat ayat 17, Az-Zukhruf ayat 40, Muhammad ayat 23, Al-Fath ayat 17, dan Abasa ayat 2.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 102: Cerita Harut dan Marut (2)

Fisik dan Mental

Al-Qur’an, dalam penjelasannya membagi difabel menjadi dua bagian, yakni difabel fisik dan difabel mental. Difabel fisik yang dimaksud dalam Al-Qur’an digunakan untuk menyebutkan keterbatasan atau ketidaksempurnaan yang terdapat pada diri atau fisik seseorang.

Sedangkan difabel mental yang dimaksud dalam Al-Qur’an digunakan untuk menyebut orang-orang yang buta, tuli, dan bisu terhadap petunjuk kebenaran yang diberikan oleh Allah. Kepada mereka atau dapat dikatakan sebagai orang-orang yang mengingkari nikmat iman yang diberi oleh Allah kepada mereka (orang-orang yang cacat secara teologi).

Adapun ayat-ayat yang menjelaskan terminologi difabel atau cacat secara fisik bukan secara teologi, dalam Al Qur’an terdapat lima. Surat Abasa ayat 2, Ali Imran ayat 49, An-Nur ayat 61, Al-Fath 17, dan Al-Maidah ayat 110. Kata a’ma yang berati buta secara mental fisik itu digunakan oleh Allah dalam firman-Nya surat abasa ayat 1-2:

عبس وتولى ١  أن خاءه الأعم  ٢

Artinya: Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling. Karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi)

Ayat diatas merupakan bentuk teguran dari Allah kepada Nabi Muhammad atas sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Ummi. Ia datang kepada Rasulullah untuk belajar tentang ajaran Islam lalu Rasulullah berpaling dari padanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar kaum Quraisy dengan harapan pembesar ini mau masuk Islam. Maka turunlah ayat ini untuk menegur rasulullah. Di sisi lain ayat ini diperuntukan untuk mengangkat derajat seorang difabel harus didahulukan apalagi soal agama.

Akan tetapi term difabel itu tidak dapat diartikan hanya secara bahasa saja tetapi juga bisa digunakan sebagai sindiran bahkan ancaman balasan terhadap suatu kaum yang tidak percaya kepada Allah, mendustakan risalah Nabi, dan berpaling di hari akhir .

Baca Juga  Penafsiran Khalifah dalam QS. Al-Baqarah Ayat 30: Perspektif Abduh

Tuli, Bisu dan Buta

Kata seperti a’ma, shummun, dan bukmun digunakan sebagai tamsil (umpama) dalam ayat-ayat al-Quran.

صم بكم ع عمي فهم لا يرجعن

Artinya: Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.” (Al-Baqarah: 18)

Dalam ayat di atas tuli, bisu, dan buta tidak membicarakan kondisi fisik tertentu Melainkan sebagai perumpamaan. Mengutip pendapat Ibn Katsir dan Al-Mmaraghi terhadap ayat di atas  orang kafir itu sama dengan orang buta. Seorang yang buta bisa saja mengetahui sesuatu, tetapi pengetahuannya atas dasar pandangannya sama sekali nihil hingga pada akhirnya pengetahuannya sangat kurang dan diliputi oleh ketidakpastian.

Kalaupun mengetahui sesuatu, yang diketahuinya hanyalah fenomena kehidupan duniawi, bukan fenomena kehidupan ukhrawi. Karena ia tidak dapat memiliki pandangan hati yang mampu menunjukkan kepadanya makna hidup ukhrawi itu.

Penjelasan Lain

Keberadaan ayat-ayat dalam al-Quran yang menjelaskan difabel ini merupakan bukti bahwa sejak Islam diturunkan misi yang dibawa ialah selalu mengajak amal baik. Juga termasuk kepada kelompok-kelompok yang sering termajinalkan, seperti kaum difabel.

Sedikitnya ayat-ayat difabel dalam al-Quran ini bukan berarti Islam menjadikan mereka kelompok yang terpinggirkan. Akan tetapi, karena dalam Islam atau di hadapan Allah semua manusia adalah sama. Hanya iman dan takwa dan amal baiklah yang membedakannya.

Oleh sebab itu kesempurnaan fisik seseorang belum tentu lebih mulia di hadapan Sang Pencipta dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang berkemampuan berbeda atau difabel. Islam mengajarkan untuk saling toleransi dan mewujudkan kasih sayang di tengah keberagaman tanpa memandang ras, suku, dan agama.

Penyunting: Bukhari