Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Demonstrasi sebagai Ladang Dakwah

Demonstrasi
Gambar: merdeka.com

Beberapa pekan terakhir kita kerap mendapati berbagai aksi demonstrasi yang digalang di berbagai daerah yang ‘menenteng’ berbagai tuntutan. Semua itu bermula dari pertimbangan atas kebijakan yang justru tidak mampu memberi keadilan serta kesejahteraan bagi masyarakat. Setiap elemen masyarakat pun turut terlibat mengambil peran, baik dari mahasiswa, masyarakat umum, akademisi dan praktisi di berbagai sektor sosial, dan lain-lain.

Penetapan kebijakan dan peraturan yang dirasa tidak menejunjung nilai keadilan, pelemahan KPK, selain itu penggusuran lahan di berbagai tempat, dan tak lupa bagian paling terpenting yakni sektor ekonomi masyarakat yang kian hari kian timpang. Pada gilirannya hal tersebut mendefinisikan kondisi sosial bahwa negara kita tidak sedang baik-baik saja.

Pada tulisan kali ini, penulis ingin melanjutka beberapa argumentasi yang nampaknya perlu dielaborasi dari tulisan sebelumnya, yang berjudul “Selamat(k)an Jogja”. Tulisan tersebut ditulis tepat pada saat aksi sedang berlangsung, di lokasi aksi penulis memuat opini tentang apa yang pada saat itu tengah terjadi.

Sehari kemudian, sebuah pesan Whatsapp masuk dari kawan yang memberi tanggapan. Salah satunya, “Jika ingin menyelamatkan Jogja, lebih baik pergi ke seluruh pelosok Jogja yang mana kurang dalam pendidikan, khususnya keagamaan. Cetak mereka.” kurang lebih seperti itu.

Bermula dari tanggapan tersebut, penulis merasa perlu menambahkan beberapa argumentasi mengenai demonstrasi. Bahwa demonstrasi juga bagian dari dakwah. Dan kita mampu menjadikan demonstrasi sebagai lahan basah untuk berdakwah.

Dakwah dalam Demonstrasi

Demonstrasi atau demo secara sederhana dapat kita katakan sebagai bentuk unjuk rasa yang biasanya dilakukan di jalanan dengan membawa tuntutan agar sengkarut masalah yang membuat resah dapat berubah atau diubah. Secara sosiologis, aksi demonstrasi yang digelar oleh masyarakat menuntut akan adanya berubahan fakta sosial yang ada, lantaran kebijakan yang dilahirkan oleh negara tidak sesuai dengan amanah. Maka dari itu tuntutannya tak jauh-jauh dari kesejahteraan dan keadilan.

Baca Juga  Menyelami Sunatullah dan Kenapa Kita Mesti Hijrah

Adapun kaitannya dengan dakwah, sejatinya dakwah pun juga demikian. Dakwah secara bahasa yang artinya mengajak, memanggil, dan lain-lain. Secara istilah sebagaimana yang telah terkandung dalam al-Qur’an. Biasanya kita sebut sebagai amar ma’ruf dan nahi munkar.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali-Imran: 104)

Empat Paradigma Dakwah

Secara tidak langsung, sejatinya yang dituntut dalam dakwah bukan saja sampai pada kesadaran individual yang pada akhirnya hanya sampai pada fakta individual. Lebih dari itu, dakwah merupakan upaya transformasi sosial melalui berbagai perubahan kolektif. Maka dari itu, dakwah dapat diturunkan pada empat paradigma; pertama, tabligh (komunikasi massa) yang dipahami bahwa dakwah ialah menyampaikan ajaran agama Islam serta nilai yang terkandung di dalamnya kepada khalayak ramai.

Kedua, irsyad (konseling) biasa orang menyebut mereka yang menjadi ‘aktor’ yakni para mursyid. Menunjukkan bagaimana menjalani kehidupan dengan baik namun dalam skala mikro (lebih kecil dari tabligh). Ketiga, tathwiir (perluasan). Tathwiir ialah upaya dakwah yang dilakukan secara struktural-institusional untuk memperluas ranah dakwah dan memperkokohnya melalui posisi strategis. Selain itu, kerap tathwiir dilakukan dengan pendekatan politis; dengan mengeluarkan kebijakan, menggunakan jabatan sebagai amanah dakwah, dan lain sebagainya.

Keempat, tadbiir (pemberdayaan masyarakat). Dalam hal ini, pemberdayaan seperti pendidikan, pelatihan, pendampingan untuk memperkuat masyarakat di beragam sektor merupakan suatu perwujudan dari dakwah yang juga memiliki nilai ibadah. Tak dipungkiri lagi sejarah telah mencatat begitu banyak kisah inspiratif dalam perjalanan dakwah rasul yang melalui pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga  Al-Jabiri (2), Kritik Nalar Arab dan Tradisi dengan Modernitas

Pada konteks demonstrasi, aksi unjuk rasa tersebut merupakan Gerakan yang memiliki tujuan politis; perubahan kebijakan. Tidak sekadar orasi seperti ‘tabligh jalanan’, akan tetapi upaya yang dilakukan memiliki tujuan transformasi social. oleh karenanya, secara sederhana penulis merasa bahwa demonstrasi juga bentuk dari dakwah. Dengan catatan bahwa tujuannya untuk maslahah ummat.

Menjadikan Demonstrasi sebagai Ladang Dakwah

Kerap kekeliruan yang sering dilakukan bahkan bagi mahasiswa pergerakan islam sekalipun, merasa bahwa demonstrasi merupakan wujud kongkrit dari perjuangan atas nama kemanusiaan. Tak perlu mengambil contoh, sepulang dari aksi demonstrasi., biasanya Mahasiswa Kembali pada rutinitas masing-masing; mengerjakan tugas kuliah dan rapat pengurus.

Sebenarnya, demonstrasi hanya sebatas proses. Ia bukan final apalagi tujuan. Demonstrasi hanya satu tahapan yang perlu dijalani dan kemudian dilanjutkan dengan Gerakan kerakyatan yang lainnya. Bahkan seorang teoretikus ilmu social mengatakan bahwa aksi demonstrasi di jalan hanya seperti “menyingsingkan lengan baju”.

Dalam hal ini, kita dapat membuat demonstrasi menjadi agenda strategis dalam dakwah. Namun tak sekadar itu, perjuangan tetap harus dilanjutkan. Contohnya dengan melakukan riset baik peninjauan kepustakaan untuk memberikan tawaran kebijakan, atau mengevaluasi kebijakan melalui penelitian evaluasi kebijakan pada masyarakat yang terdampak.

Selain dari pada itu, diperlukan Gerakan-gerakan pemberdayaan masyarakat. Sehingga demonstrasi tidak mengalami disposisi yang sepatutnya memiliki basis kerakyatan. Di sisi lain, ini merupakan kerja nyata pada masyarakat.

Pemberdayaan dapat dilakukan dengan proses pengorganisiran, Pendidikan, dan pelatihan yang mana dari hak tersebut masyarakat memiliki keterampilan dan kecakapan serta kemandirian bagi keberlangsungan hidupnya sendiri. Karena dakwah ialah usaha kemanusiaan yang perlu diupayakan secara sistematis dan kemprehensif dengan beragam pendekatan; tabligh, irsyad, tathwiir, dan tadbiir.

Baca Juga  The Power of Shalat

Catatan Akhir untuk Demonstran Muslim

Demonstrasi hanyalah proses, bukan tujuan. Maka ber-demonstrasilah sebagaimana kita hendak beribadah. Tidak melupakan kewajiban yang lain seperti beribadah, menjaga kebersihan, tetap mampu untuk memberi keteladanan. Kerap banyak dari kita yang menolak untuk ber-demo. penulis merasa itu adalah pilihan, karena dakwah dapat dilakukan dengan banyak cara.

Namun demonstrasi tidak bisa untuk dinegasikan sebagai salah satu jalan dakwah, jika ada yang berpendapat bahwa “demo itu bikin kita gak solat, karena habis di jalan” atau ada yang berpendapat “demo itu mengotori jalanan, sampah berserakan”.

Menurut penulis, bukan berarti aksinya yang ditiadakan, melainkan bagaimana kita mampu membuat demonstrasi yang dapat mengakomodir ruang serta waktu untuk sholat. Begitu juga dengan kebersihan, bukan aksinya yang dibersihkan, namun ketika aksi kita perlu bertanggung jawab atas sampah baik dari diri sendiri maupun orang lain.

Oleh karena itu, aksi jalanan perlu diiringi dengan agenda penelitian, pemberdayaan, dan lain sebagainya untuk melanjutkan perjuangan kita dalam ber-amar ma’ruf dan nahi munkar.

Penyunting: M. Bukhari Muslim

Hizba Muhammad Abror
Hizba Muhammad Abror dari Samarinda, Kalimantan Timur. Saat ini menempuh masa studi S1 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Fakultas FAI program studi Pendidikan Agama Islam. Dan aktif di Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FAI UMY.