Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Dakwah Itu Harus yang Mendamaikan Sains dan Agama, Bukan Sebaliknya!

Sains dan agama
Gambar: merdeka.com

“Sains bisa saja mengatur batas-batas ilmu pengetahuan, tetapi tak mungkin membatasi imajinasi.” (Bertrand Russel)

Akhirnya, kali ini saya harus menulis hal yang sesungguhnya klise, amat klise: masalah integrasi ilmu dan agama. Sudah beberapa kali saya mendengar khutbah yang mengajak untuk memunggungi sains, masih seperti di tahun-tahun yang lalu. Alasannya sama: karena agama lebih menjanjikan keselamatan di atas segalanya, dan sains tidak ada apa-apanya, bahkan melalaikan dari jalan Tuhan.

Sains dan Agama Tidak Bertentangan

Di sisi lain, ada banyak cendekiawan yang berusaha membuktikan bahwa sains dan agama sesungguhnya tidak memiliki pertentangan. Malah sebagiannya ada yang bersusah payah menulis buku tentang integrasi ilmu dan agama. Jika kita tak mau menyebut ilmuan atau filosof klasik semisal al-Kindi atau Ibnu Rusyd, baiklah kita ajukan saja cendekiawan yang lebih mutakhir, supaya tidak terlalu jauh.

Sebut saja Prof. Mulyadhi Kertanegara. Ia menulis buku-buku “mengislamkan nalar” (kalimat ini tidaklah spesifik ke satu judul buku, melainkan itu sekaligus warna beberapa bukunya) yang diterbitkan oleh Penerbit Erlangga. Lainnya, kita akan bertemu dengan Kuntowijoyo dengan esai-esainya. Terkhusus kepada buku kumpulannya “Muslim Tanpa Masjid”, integrasi ilmu dan agama dinarasikan ke dalam ilmu-ilmu sosial profetik; pengilmuan Islam. Sekaligus hal ini sesungguhnya memajukan satu langkah dari sekadar integrasi, yakni pengilmuan–Islam sebagai ilmu.

Soal bagaimana Islam melalui sumbernya tidak bisa dipisahkan dari penjelasan yang saintifik, mari kita mendaras buku-buku Harun Yahya. Walau penulisnya belakangan dikecam di kalangan umat Islam karena “kitti-nya”, tetapi buku-buku karangannya amat bagus untuk dibaca. Bagi sebagian kawan saya di HMI, Harun Yahya mengantarkan mereka pada akidah yang semakin kokoh.

Al-Quran dan Sains Saling Mendukung

Atau, kita bisa membuka kembali Murice Buchaille–pengarang berkebangsaan Prancis sekaligus dokter keluarga Raja Faisal di Arab Saudi itu–berjudul “The Bible, The Qur’an and Science”. Memang gara-gara buku ini, The Wall Street Journey menjulukinya dan orang-orang sepertinya dengan Buchailleism, sebutan untuk gerakan mencocok-cocokkan ayat al-Quran dengan fakta-fakta sains. Namun setidaknya upayanya ini berciri menggunakan sains demi mendakwahkan kebenaran al-Quran sebagai sumber ajaran Islam.

Di masa yang lebih baru, selain dalam bentuk buku, kita bisa memutar berulangkali video ceramah Dr. Zakir Naik–cendekiawan cum dokter muslim asal Mumbay itu–yang membuktikan kemukjizatan al-Quran melalui ayat-ayat sains. Memang dia menegaskan bahwa al-Quran bukan kitab sains (science), melainkan kitab tanda-tanda; ayat-ayat (signs–antara science dan signs sama-sama dibaca sains). Namun menggunakan argumentasi sains dapat membantu dua hal: memahami kebenaran dengan yakin seyakin-yakinnya, dan mematahkan argumentasi para penyangkal kebenaran al-Quran.

Baca Juga  Corona Sedang Menjalankan Tugasnya

Dr. Zakir Naik dalam debat-debatnya, selalu membuat kesepakatan, yakni menilai al-Quran dan selainnya dari satu sudut yang dapat dipercayai semua orang, yaitu sains. Menjelaskan al-Quran dari sudut pandang al-Quran, sudah barang tentu akan membenarkan al-Quran. Pun demikian dengan yang lainnya. Dr. Zakir Naik tidak ingin diskusi berjalan amat subjektif seperti itu.

Dakwah yang Mengajak Memunggungi Sains

Baiklah saya ilustrasikan bagaimana khutbah memunggungi sains itu dibacakan:

(1) Dalam diri kita bersemayam Nur Muhammad, serpih cahaya yang dikeluarkan dari dzat Allah yang menjadi alasan mengapa alam semesta diciptakan. Maka dengan Nur Muhammad sebagai raja di dalam diri, niscaya makhluk lemah bernama korona itu tidak ada apa-apanya. Dia akan mati berhadapan dengan kita.

(2) Senantiasa tebarkan senyum kepada saudaramu. Jangan sembunyikan senyum itu di balik masker, “Saya takut senyum kepada yang pakai masker, jangan-jangan dia lagi marah.” Olehnya itu, ketika berpapasan dengan saudara kita, buka maskermu, lalu senyumlah kepada dia.

(3) Katanya varian Delta itu jauh lebih berbahaya, hanya dengan berpapasan orang bisa terpapar. Seandainya ini benar, berapa orang yang akan mati tergeletak di pasar setiap harinya? Berapa mayat yang akan kita angkut dari pasar?

Diskusi Sufi dan Wabah

(4) Dahulu ada seorang sufi yang punya kemampuan berkomunikasi dengan wabah. Kepada wabah, sang sufi bertanya, “Hendak ke mana engkau?” wabah menjawab, “Aku hendak memusnahkan seribu warga di kampung A, karena kedurhakaan mereka.” Menurut kisah, yang mati malah sepuluh ribu, bukan lagi seribu. Lalu tanya sang sufi, “Katanya seribu, kok malah sepuluh ribu?” wabah menjawab, “Seribu mati kerenaku, sembilan ribunya karena ketakutan.” Lalu kesimpulannya: kebanyakan orang mati di masa wabah adalah ketakutan, dan wabah itu sendiri dikirim untuk orang yang durhaka kepada Allah.

Keempat poin ini memiliki tendensi untuk tidak memerlukan sains, yang kini diterjemahkan dalam hal yang lebih teknis. Protokol kesehatan yang diterapkan kini merupakan hasil kajian terhadap sifat virus yang ada. Sudah barang tentu yang mengkaji hal ini adalah mereka yang ahli di bidangnya.

Baca Juga  Memaknai Covid-19 Sesuai Kitab Wabah Karya Atsqolani (2)

Protokol kesehatan ini, begitu sampai ke tangan para ulama, mereka bukannya menolak, tetapi malah mendukung. Seperti imbauan MUI pada awal-awal korona melanda negeri; di mana daerah ditetapkan sebagai zona merah. Maka “untuk sementara waktu, salat berjamaah (termasuk salat jumat) di masjid dipindahkan ke rumah masing-masing”. Di sini ada dua syarat yang diajukan, yaitu zona merah dan sementara waktu.

Wabah Tidak Memandang Keberimanan

Mari kita lihat satu persatu. Saya yakin kita akan sampai pada satu kesimpulan yang sama, yaitu wabah tidak mengenal siapa beriman dan siapa tidak. Wabah hanya tahu bahwa dia menjangkiti siapa saja yang bisa dijangkitinya.

Pertama, seolah semua orang memiliki amalan yang lebih tidak akan dijangkiti korona, atau tidak semua orang yang zikirnya mantap selamat dari maut akibat Covid-19.

Kedua, senyuman seseorang tidak hanya dikenali dari keharusan membuka wajah secara penuh. Tarikan alis dan ujung mata masih sangat kuat menandakan senyum atau tidak. Lagipula semua kita sudah memahami bahwa kini zamannya wabah Covid-19, semoga ini hanya sementara. Justru di antara kita mesti membiasakan, kemanusiaan masih terjalin walau tetap menggunakan prokes. Lagian, senyum bukan jaminan selamat dari wabah. Senyum dan tak senyum, wabah tidak tahu itu.

Ketiga, memang kita tidak menjumpai kematian massal di tengah jalan, misalnya mati mendadak di tengah pasar. Tetapi ingat, tidak jarang yang terjangkit virus malah setengah mati bernapas hingga membutuhkan oksigen. Lalu ada pertanyaan, “Mengapa kebanyakan kasus pasien Covid-19 meninggal di rumah sakit?” karena rumah sakit hanya akan menerima pasien yang gejalanya parah, lalu tak jarang yang mati setelah dirawat; juga pasien yang menjalani isolasi mandiri (isoman) bukan mustahil banyak yang meninggal.

Siapa saja yang meninggal dunia atau belum, memang semuanya adalah kehendak Allah. Namun kita memiliki kehendak untuk berikhtiar. Setidaknya, jika bukan untuk mencegah korban jiwa lebih banyak karena wabah, paling tidak mengurangi potensi penularan yang menyebabkan sesak napas, sesesak perekonomian kita.

Baca Juga  Memaknai Covid-19 sesuai Kitab Wabah Karya Atsqolani (1)

Keempat, Prof. Quraish Shihab sesungguhnya telah menulis sebuah buku digital berjudul “Corona Ujian Tuhan” (saya telah menulis ulasannya di autoafeksi.blogspot.com dengan judul “Bagaimana Seharusnya Muslim Menghadapi”). Tipis saja, buku itu menepis argumentasi yang mengarah pada kesimpulan bahwa virus korona adalah tentara Allah. Mungkin saja argumentasi yang dimaksud terpengaruh oleh kisah dialog antara sang sufi dan wabah, seperti yang telah dikemukakan di atas.

Musuh Kita adalah Kaum Fanatik Sains dan Agama

Jika memang wabah, atau virus korona secara khusus adalah kiriman Tuhan kepada para pendurhaka, lalu bagaimana kita akan mengatakan para alim ulama yang meninggal gegara terjangkit Covid-19 adalah orang-orang yang memunggungi Tuhan, tidakkah ini berlebihan?

Hal yang mesti membuat kita prihatin, mengapa agama selalu dibuat beradu dengan sains? Saya yakin, sikap membenturkan agama dan sains berangkat dari gagalnya memilah antara agama dan pengikutnya yang fanatik. Serta antara sains dan para pengagumnya yang fanatik. Perbenturan agama dan sains tak lain berangkat dari sikap pemeluk dan pengagumnya masing-masing.

Orang yang fanatik agama, mencemooh mereka yang tunduk kepada sains sebagai orang-orang yang cinta dunia, takut mati. Sedang para pengagum sains mencemooh para pembela agama sebagai orang-orang yang kolot. Ini bagai sekam yang jika terpercik nyala api, kedua belah pihak akan memulai lagi sikapnya masing-masing.

Mengapa tak dibuat saja dakwah itu mendukung temuan-temuan sains, dan sains membuat kita bisa lebih arif dalam memperlakukan kehidupan layaknya diajarkan agama selama ini?

Mestinya pertentangan agama dan sains disebabkan sikap keras kepala para ilmuan ateis, dan kejumudan para fanatik agama tidak perlu diwarisi turun temurun dari mimbar ke mimbar. Apalagi di sidang Jumat, khutbah jelas tidak bisa disanggah atau disela dengan sejumput pertanyaan dan interupsi.

Terkecuali jika jumatan dibuat seperti yang pernah dilakukan oleh Cak Nur di masjid Paramadina di tahun 2000-an. Setiap usai salat Jumat diselenggarakan dialog-dialog terutama berkenaan dengan tema khutbah pada setiap pekannya. Agenda ini terekam dalam buku “Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi”.

Penyunting: M. Bukhari Muslim