Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Christoph Luxenberg: Syro-Aramaik adalah Bahasa Al-Quran

Syro-Aramaik
Gambar: https://www.amazon.fr/

Rasanya tidak akan ada habisnya jika membahas mengenai tokoh-tokoh orientalisme yang pemikirannya melalui kajian terhadap kitab suci Al Qur’an yang sudah terlampau jauh dan mendalam. Ya, salah satunya adalah Cristhoph Luxenberg.

Biografi C. Luxenberg

Christoph Luxenberg atau Ephraem Maliki adalah seorang missionaris-orientalis Jerman, kebangsaan Lebanon, dan penganut agama Kristen. Serta sebagai dr. phil. di bidang Arabustik. Luxenberg dikenal sebagai tokoh sarjana Barat kontemporer yang mengkaji Al-Qur’an melalui bahasanya.

Lalu kalau kita flashback, sebenarnya yang mengkaji Al Qur’an dengan sudut pandang kebahasaan bukan hanya Christhoph Luxenberg. Akan tetapi hampir semua orientalisme; salah satunya Abraham Geiger, pendiri Yahudi liberal di Jerman.

Tidak banyak referensi yang menjelaskan biografi Luxenberg. Akan tetapi karya-karyanya sangat terkenal dan banyak yang tertarik untuk mengkajinya; salah satunya Die Siro-Aramaische Lesart des Koran: Ein Beitrag zur Entschlusselung der Koransprache (2000).

Selain karya itu, ada juga Weihnachten im Quran di Streit um den Quran, Die Luxemberg Debatte: Standpunkte und Hintergrunde (2004), Der Koran zum Islamische Kopftuch (2004), Relike Siro-aramaischer Buchstaben di fruhen Korankodizes im hejazi- und kufi-duktus di Der fruhe Islam (2007).

Dari semua karyanya yang sudah ada terjemahan dalam bahasa Inggris hanya Die Siro-Aramaische Lesart des Koran: Ein Beitrang zur Entschlusselung der Koransprache (2000). Diterbitkan Hans Schiler Publishers dengan total 352 halaman. Karya inilah yang menjadi titik keberangkatan tulisan ini.

30% Bahasa Al Qur’an adalah Bahasa Syro-Aramaik

Luxenberg dalam mengkaji Al Qur’an dari sudut pandang bahasanya menyatakan kalau dalam kitab suci itu 30% nya merupakan bahasa Syro-Aramaik. Sehingga kitab suci (Al-Qur’an) itu tidak autentik (asli).

Bahasa Syro-Aramaik merupakan bahasa Syiria dengan dialeknya Aramaik. Ia menjadi alat komunikasi di wilayah Timur pada abad ke-2 M sampai 7 M. Bahasa itu juga digunakan di kawasan Eddesa, Mesopotamia sebagai alat untuk menyebarkan agama Kristen dan budaya Syriak ke Asia.

Baca Juga  Tiga Langkah Membangun Sikap Toleransi Ala Hasbi

Luxenberg menyatakan kalau ingin memahami betul Al Qur’an, maka dia harus memahami dengan baik bahasa Syro-Aramaik. Dikarenakan Al-Qur’an tidak ditulis dengan bahasa Arab, akan tetapi bercampur dengan bahasa Syro-Aramaik. Syro-Aramaik diyakini sebagai lingua franca pada masa itu.

Pemikirannya yang kontroversi bukan itu saja. Dia juga menyatakan kalau isi ajaran Al-Qur’an mengambil dari tradisi kitab suci Yahudi dan Kristen Syiria. Dan dari situlah dia mencoba untuk mengkaji kembali, kemudian mengedit ulang. Dan dia memutuskan kalau Al-Qur’an tidak autentik. 

Berangkat dari pemikirannya itu, Luxenberg memberikan metode dengan analisis historical ciriticism; (1) seseorang harus mencari makna kata sulit di Qur’an ke Jami’ al Bayan (Ath Thabari), dan (2) jika tidak ada, maka harus cari homonimnya dalam bahasa Syro-Aramaik.

Apabila langkah kedua di atas gagal, maka (3) cari dalam bahasa Syro-Aramaik/bahasa Arab melalui rasm; (4) kalau gagal lagi, maka terjemahkan ke bahasa Aramaik melalui kesamaan semantik Syro-Aramaik, dan itu lanjut sampai langkah akhir adalah membaca kata Arabnya dengan sistem fonetik Syro-Aramaik.

Ada beberapa contoh untuk penerapannya di Al Qur’an; kata “qaswarah” di QS. 74:51 dibaca “qasuurah”, kata “sayyiaat” di QS. 4:18 dibaca “saniyyat”; yang dari bahasa Syiriak “sanyata”, kata “adhannaka” di QS. 41:47 dibaca “idh-dhanaka”, dan kata “utullin” di QS. 68:13 dibaca “alin”.

Disamping itu, Luxenberg juga menyatakan kalau Al-‘Alaq isinya sama dengan Al-Fatihah. Diambil dari lingtury Kristen Syiriac tentang jamuan malam terakhir Jesus (Yesus). Dia mencoba menyimpulkan Qur’an sebagai turunan Bible.

Kritik Pemikiran Luxenberg

Dari pemikirannya itu sudah jelas mengandung kontroversi. Pemikirannya bukan hanya dikritik oleh sarjana Muslim, akan tetapi juga tokoh orientalis. Terbukti saat ada event Simposium Kajian Orientalistik se-Eropa di Bamberg yang menyatakan kalau pemikiran Christoph kelewatan serta tidak kontemporer.

Baca Juga  Polemik Qira’at atas Otentisitas Al-Qur’an

Orientalis Jenewa; Dr. Tayler mengkritik kalau Al Qur’an berbeda dengan kitab lainnya dan ditegaskan kalau di dalamnya Al Qur’an itu tidak saling bertentangan, punya sanad. Sehingga tidak bisa dikatakan kitab suci yang tidak autentik dari Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, ada tokoh Hermut Bobzin (Prof. Studi Qur’an Erlangen) mengkritik tesis Luxenberg yang dapat menjadi benalu bagi perkembangan kajian Al-Qur’an yang objektif. Di samping tokoh yang disebutkan, ada juga Prof Hans Deiber, dan Syamsudin Arif; sarjana Muslim.

Penyunting: Bukhari

Atika Hafsah Aliyah
Mahasiswa S1 Ilmu Al Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya