Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Dosa besar adalah buah dari amal perbuatan yang sangat dilarang keras dalam al-Qur’an dan hadis Rasulullah. Disebut dosa besar karena bahaya yang diakibatkannya sangat keji dan besar. Apabila kita berbuat dosa, maka akan memberikan dampak terhadap keIslaman dan kehidupan kita. Di antaranya: terhalang dari ilmu yang haq, terhalang dari kemudahan memperoleh rezeki dan urusannya dipersulit, hati terasa jauh dari Allah, ...

Manusia diciptakan dalam keadaan yang suka, sering, dan mudah untuk berkeluh kesah. Jika ada halangan atau rintangan yang menghadang langkah hidupnya, maka dengan mudah ia akan berkeluh kesah. Dengan keadaan yang menghimpit tersebut ia akan ingat dengan Allah, mendatangi rumah-Nya dan berdoa khusyuk di dalamnya. Dalam sedu-sedan tangisnya, ia meminta pertolongan Allah agar memudahkan permasalahan yang sedang dihadapinya. Allah berfirman ...

Kemunduran umat Islam salah satunya dipengaruhi oleh ketidak ikut sertaan peran prempuan dalam membangun umat. Perempuan sebelum datangnya Islam sangat terpojokkan. Hak-hak perempuan dirampas dan kebebasannya dibelenggu. Fenomena yang terjadi pada umat Islam kepada prempuan semakin merosot. Malah fenomena ini umat Islam sendiri yang memojokkan saudari prempuannya sendiri. Perempuan dilarang keluar rumah seakan rumahnya menjadi penjara. Perempuan diharamkan ke masjid ...

“Dan bukan jalan mereka yang sesat”. (ujung ayat 7) Adapun orang yang sesat ialah orang yang berani-berani saja membuat jalan sendiri di luar yang digariskan Tuhan. Tidak mengenal kebenaran, atau tidak dikenalnya menurut maksudnya yang sebenarnya. Sebagaimana telah kita kenal pada keterangan-keterangan di atas, tentang kepercayaan akan adanya Tuhan, sampai orang-orang Arab mengkhususkan nama Allah buat Tuhan Yang Maha Esa. ...

“Bukan jalan mereka yang dimurkai atasnya.” (Ayat 7) Siapakah yang dimurkai Tuhan? Ialah orang yang telah diberi kepadanya petunjuk, telah diutus kepadanya rasul-rasul, telah diturunkan kepadanya kitab-kitab wahyu, namun dia masih saja memperturutkan hawa nafsunya. Telah ditegur berkali-kali, namun teguran itu, tidak juga diperdulikannya. Dia merasa lebih pintar dari pada Allah, rasul-rasul dicemuhkannya, petunjuk Tuhan diletakkannya ke samping, perdayaan syaitan ...

Kemudian permohonan petunjuk jalan yang lurus itu kita jelaskan lagi: “Jalan orang-orang yang telah Engkau karuniai nikmat atas mereka.” (pangkal ayat 7) Kita telah mendengar berita, bahwa terdahulu dari kita, Tuhan Allah telah pernah mengaruniakan nikmatNya kepada orang-orang yang telah menempuh jalan yang lurus itu, sebab itu maka kita mohon kepada Tuhan agar kepada kita ditunjukkan pula jalan itu. Telah ...

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (ayat 6). Meminta ditunjuki dan dipimpin supaya tercapai jalan yang lurus. Menurut keterangan setengah ahli tafsir, perlengkapan menuju jalan yang lurus, yang dimohonkan kepada Allah itu ialah, pertama al-lrsyad,artinya agar dianugerahi kecerdikan dan kecerdasan, sehingga dapat membedakan yang salah dengan yang benar. Kedua at-Taufiq, yaitu bersesuaian hendaknya dengan apa yang direncanakan Tuhan. Ketiga al-llham, diberi ...

“Engkaulah yang kami sembah, don Engkaulah tempat kami memohon pertolongan” (ayat 5). Kalimat iyyaka, kita artikan Engkau lah, atau boleh dilebih dekatkan lagi maknanya dengan menyebut hanya Engkau sajalah yang kami sembah. Di sini terdapat iyyaka dua kali; hanya Engkau sajalah yang kami sembah dan hanya Engkau saja tempat kami memohonkan pertolongan. Kata na’budu kita artikan, kami sembah, dan nasta’inu ...

Kepemimpinan dan negara merupakan bagian integral dari agama Islam. Nabi Muhammad saw adalah role model pemimpin masyarakat Madinah dengan sebuah tatanan sosial tertentu. Peran tersebut merupakan salah satu unsur dari fungsi kenabian. Ibnu Taymiyah menjelaskan dalam Siyasah asy-Syar’iyah, ada dua jalan yang buruk; yaitu agama tanpa mementingkan kekuasaan, dan jalan kekuasaan (termasuk kekayaan) tanpa agama. Hal tersebut dapat dilihat dari ...

“Yang menguasai Hari Pembalasan.” (ayat 4)’ Klta artikan yang menguasai, apabila maliki kita baca dengan memanjangkan ma pada maliki. Dan kita artikan “Yang Empunya Hari Pembalasan”, kalau kita baca hanya maliki saja dengan tidak memanjangkan ma. Di sini dapatlah kita memahamkan betapa arti ad-din. Kita hanya biasa memberi arti ad-din dengan agama. Padahal dia pun berarti pembalasan. Memang menurut Islam ...