Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Cara Memperoleh Falah: Tafsir QS. Al-Mu’minun Ayat 1-11

Sumber: istockphoto.com

Secara umum kebahagiaan seakan-akan menjadi tujuan dan harapan yang utama yang harus dicapai dalam kehidupan manusia, dan fenomena yang terjadi dalam masyarakat menunjukkan bukti bahwa manusia senantiasa untuk berusaha semaksimal mungkin guna mencapai kebahagiaan seperti bekerja untuk memperoleh penghasilan, belajar untuk memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Segala upaya yang dilakukan itu tidak lain adalah bentuk ikhtiar yang dilakukan untuk mewujudkan kebahagiaan yang diinginkannya. Dalam kitab suci Al-Qur’an Allah SWT telah menyebutkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kebahagiaan dengan berbagai bentuk Lafadz seperti Sa’adah, Surur, Farah, Fawz dan AlFalah. Falah merupakan keberuntungan, kemakmuran, kesuksesan terhadap prestasi Yang diusahakannya, sehingga seseorang itu merasakan senang dan bahagia.

Definisi Falah

Dalam kamus al-ma’ani Fala>h bermakna sukses, kemakmuran, kemenangan, kejayaan, dan Falla>h dengan tambahan tasydid bermakna petani. Falah adalah segala kebahagiaan, keberuntungan, kesuksesan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh seseorang, baik itu yang bersifat lahir ataupun batin, baik yang bisa ia rasakan di dunia ataupun di akhirat kelak.  Suatu keberuntungan (al-Fala>h) dapat untuk diraih oleh seseorang melalui proses usaha dan kegiatan

Keberuntungan al-Falah merupakan suatu yang diharapkan oleh seorang hamba. Oleh karena itu keberhasilan atau kesuksesan yang baik itu sesuai dengan harapan; yang telah didambakan oleh seseorang melalui usaha dan kerja keras yang baik pula. Dalam kitab Suci Al-Qur’an Lafadz Falah disebutkan sebanyak 40 kali dengan derivasinya yang terdiri dari Fi’il madi, fi’il mudari dan ism fa’il.

Makna dasar dari Al-Falah yaitu keberuntungan yang itu merupakan pengertian bagi orang yang mendaptkan sesuatu yang ia harapkan. Sukses dalam menjalani kehidupannya dan lancer dalam menjalankan segala bentuk aktivitasnya. Seseorang mampu untuk dikatakan sebagai seorang yang yang beruntung yaitu Ketika ia berharap akan sesuatu dan harapan tersebut menjadi sebuah kenyataan

Baca Juga  Ayat-Ayat dan Fenomena Seputar Turunnya Al-Qur'an

Penafsiran Lafadz Falah dalam QS al-Mu’minum 1-11 Dalam Tafsir Al-Misbah

ayat al-Qur’an tentang Al-Fala>h dalam QS al-Mukminum 1-11 yang berbunyi:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ  (1)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,”

Pada ayat ini menjelaskan tentang perintah yang diberikan kepada kaum yang beriman agar melaksanakan tuntunan agama baik yang umum ataupun yang khusus. Selain itu juga perintah untuk beribadah seperti sholat, zakat, berpegang teguh dengan tali agama Allah SWT dengan harapan agar mereka mampu untuk memperoleh keberuntungan.

Dalam hal tersebut tentunya akan melahirkan sebuah kebahagiaan (salah satu makna Falah). Yang mana kebahagiaan ini bisa jadi kebahagiaan di dunia ataupun akhirat.

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)

“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,”

Ayat ini ditunjukkan khusus kepada Orang mu’minun yang keimanannya telah mantap sehingga mampu melakukan sholat dengan khuyu’. Ulama mengatakan bahwa khusyu’ yag dimaksudkan dalam ayat ini merupakan rasa takut, sehingga jangan sampai sholat yang mereka lakukan itu.

***

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3)

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,”

Seseorang yang telah melakukan sholat dengan baik dan benar maka akan menjauhkannya dari suatu hal-hal yang buruk. Dan pada ayat ini menjelaskan tentang sifat yang tidak memberikan perhatian kepada hal yang tidak bermanfaat.

Meninggalkan laghw memanglah bukan suatu yang mudah akan tetapi hendaknya  memikirkan terlebih dahulu sesuatu yang akan dilakukan tersebut membawa keuntungan ukhrawi atau keuntungan duniawi saja.

وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4)

“Dan orang-orang yang menunaikan zakat,”

Seseorang akan memperoleh kebahagiaan ketika mereka bersedekah dan melakukannya dengan sempurna dan tulus. Bagi seseorang yang memiliki keimanan yang mantap, pasti akan mendorong dirinya untuk menafkahkan Sebagian dari hartanya sehingga orang lain juga ikut merasakan kebahagiaan.

Baca Juga  Tafaqquh sebagai Pemahaman Khusus

Dengan memberikan zakat, infaq dan shadaqah lainnya dapat mempererat hubungan sosial. Sehingga masing-masing dari anggota masyarakat akan merasakan dan memiliki tanggung jawab atas derita yang dialami oleh ornag lain.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (5) Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (6) Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.(7)”

Pada ayat ini menjelaskan tentang penyucian diri manusia dan yang utama untuk disucikan yaitu alat kelamin. Orang mukmin akan memperoleh kebahagiaan yaitu orang yang senatiasa menjaga kemaluannya dengan tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya melalui hal atau cara yang tidak dibenarkan oleh agama.

***

وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8)

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya,”

Setiap manusia memiliki amanat yang dipikul diatas pundaknya. Dalam menjalankan sebuah Amanah dibutuhkan sebuah kepercayaan dan kepercayaan itu akan melahirkan ketenangan batin.

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9)

“Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya”

Amanah yang penting antara manusia dengan Allah SWT yaitu Sholat. Seorang mukmin akan memperoleh kebahagiaan apabila mereka memelihara sholatnya. Yaitu memelihara waktu melaksanakan sholat sehingga terlaksana pada waktu yang ditetapkan serta memelihara rukun, wajib beserta sunah-sunahnya.

Pada ayat ini merupakan ayat penutup dari sifat-sifat terpuji bagi orang mukmin yang penyandangnya masing-masing akan memperoleh kebahagiaan.

أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

“Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi (10), (Yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (11)

***

Setelah menyebutkan macam-macam orang mukmin dan bagi orang yang memiliki sifat-sifat tersebut akan mendapat keberuntungan. Ayat-ayat diatas menunjukkan kepada orang-orang mukmin itu dengan menyatakan: mereka itulah yang menyandang sifat-sifat yang sangat tinggi dan luhur.

Baca Juga  Urgensi kalimat Syukur dan Hamdalah dalam Islam

Mereka adalah pewaris-pewaris yaitu orang-orang yang pasti dipenuhi janjinya dan mendapatkan anugrah dari Allah, yang akan mewarsi dan memperoleh surga Firdaus yang merupakan puncak surga bagi orang yang teristimewa, dan secara khusus mereka akan berada didalamnya, bukan berada di temat lain dan disana mereka adalah orang-orang yang kekal dalam kenikmatan dan kebahagiaan.

Penutup

Setiap manusia yang hidup dan tinggal di muka bumu ini memiliki tujuan dan harapan yang sama yaitu pasti menginginkan kebahagiaan, ketenangan dalam menjalanu kehidupan sehari-harinya. Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa melakukan segala amalan dan perintah yang telah diberikan oleh Allah Swt untuk hambanya, sehingga nanti akan tercipta kebahagiaan kita dengan sendirinya.  

Editor: An-Najmi

Nur Halizatul Maghfiroh
Mahasiswi Prodi IAT sekolah tinggi ilmu Al-Qur’an dan sains al-Ishlah (STIQSI) Lamongan,