Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Buya H. Zainuddin Hamidy; Mufasir dengan Gelar “Angku Mudo”

Zainuddin Hamidy
Tanwir.id

Kemajuan demi kemajuan pengkajian al-Quran terus berkembang sampai hari ini. Ulama yang menyusun Tafsir al-Quran dengan bahasa lokal di Indonesia pada abad ke 20 pun mengalami kemajuan. Muncul beberapa literatur berbahasa Melayu yang mencoba memberikan kemudahan masyarakat dalam berinteraksi dengan al-Qur’an. Muncul nama-nama seperti Mahmud Yunus, Hassan Bandung, Zainuddin Hamidy dan H. Fachruddin HS serta mufasir lainnya

Prinsipnya, dorongan menulis tafsir adalah untuk mendermabaktikan karyanya demi kemajuan umat Islam di tanah air. Tentu saja karena ulama juga melihat, sangat sedikitnya jumlah tafsir berbahasa Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat. Sebagaimana dipahami bahwa umat Islam Indonesia tidak banyak yang bisa memahami al-Quran dalam bahasa aslinya, bahasa Arab. Padahal al-Quran adalah sumber utama dalam Islam.

Setelah Mahmud Yunus menulis tafsir Al-Qur’an yang ditulis dalam tulisan bahasa Jawi (bahasa Indonesia atau melayu yang ditulis dengan tulisan Arab), barulah Ahmad Hasan atau Hasan Bandung yang baru menafsirkan al-Quran dengan tafsirnya Al-Furqan yang diterbitkan mulai pada tahun 1940, dan masih banyak pula mufasir bermunculan dengan karyanya. Diantaranya muncul tafsir kolaborasi antara H. Zainuddin Hamidy dan H. Fachruddin HS. Dibandingkan tafsir Mahmud Yunus dan Hasan Bandung, H. Zainuddin Hamidy dan H. Fachruddin HS berhasil menyusun tafsir yang lebih baik.

Tafsir tersebut memberikan komentar lebih luas dan kaya dari segi sumber bacaannya. Banyak sisi-sisi menarik dari tafsir yang satu ini. Namun tak banyak yang mengetahui siapakah kedua mufasir ini. Berikut ini ulasan biografi dari H. Zainuddin Hamidy, seorang ulama tafsir asal Payakumbuh.

Biografi H. Zainuddin Hamidy

Haji Zainuddin Hamidy lahir di Koto Nan IV Payakumbuh pada tanggal 8 Februari 1907. Putra kedua dari dua orang bersaudara. Ia lahir dari pasangan Abdul Hamid dan Halimah. Kakaknya bemama Nahrawi, istri dari Imam Mukhtasar, seorang ulama terpandang di daerahnya. Masa kecil dihabiskan Zainuddin Hamidy di kampung halamannya.

Bisa dibilang, ia tumbuh dari keluarga yang tidak begitu religius. Ayahnya yang berani bahkan dianggap preman. Beruntunglah ia memiliki lingkungan yang mendukung serta keuletannya dalam menuntut ilmu, hal itu membuat Zainuddin Hamidy kelak dikenal sebagai seorang ulama yang cukup berpengaruh.

Zainuddin kecil tidak suka bermain seperti kebanyakan anak sebayanya, ia lebih suka belajar. Paling dia hanya bermain bola yang merupakan olah raga kesukaannya. Bahkan hobi main bola ini dibawa sampai ia dewasa. Menurut keterangan murid beliau, H. Haffash Shamah, Buya Zainuddin bila tidak mengajar, sering bermain bola dengan murid-muridnya dan pemuda sekitar pesantren yang dia dirikan.

Baca Juga  Yunahar Ilyas: Mubalig Sekaligus Pakar Tafsir Keadilan Gender

Zainuddin Hamidy adalah seorang yang ramah tamah, tapi konsekuen, ulet dan tidak pernah berputus asa. Beliau tidak banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, beliau banyak tersenyum dan memiliki wibawa yang sangat besar. Beliau adalah ahli agama dan tokoh masyarakat yang selalu berpenampilan sederhana. Karena keluasan ilmu dan kealimannya, masyarakat menggelarinya dengan gelar “Angku Mudo” yang berarti seorang ahli agama yang masih muda. 

Pendidikan H. Zainuddin Hamidy

Pendidikan formal dan non-formal ia lalui. Selama lima tahun, ia sekolah di sekolah Governement di Payakumbuh. Tamat dari sekolah ini, Zainuddin Hamidy masuk sekolah Darul Funun el Abbasiy di Padang Japang pimpinan Syekh Abbas. Madrasah Darul Funun, sebuah lembaga pendidikan yang telah mengalami perubahan baik dalam sistem pendidikan maupun dalam fasilitas yang digunakan. Di sekolah ini, para muridnya telah belajar dengan mempergunakan fasilitas bangku, meja dan berpakaian rapi seperti memakai kemeja, dasi dan jas.

Di Madrasah Darul Funun inilah, Zainuddin Hamidy belajar ilmu tafsir, hadits, Bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Zainuddin Hamidy dikenal sebagai murid yang cerdas. Hal ini terbukti, ketika ia duduk di kelas akhir, ia dipercaya untuk mengajar di kelas lima. Karena kepintarannya ini, pimpinan Madrasah Darul Funun Padang Japang, Syekh Abdullah Abbas menyuruh dan merekomendasikan Zainuddin Hamidy untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah.

Sebelum berangkat ke Mekkah, Zainuddin Hamidy terlebih dahulu menikah dengan Rahmah. Kelak, dari Rahmah Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak.

Sesampainya di Mekkah, ia menuntut ilmu agama di salah satu perguruan terkenal masa itu, Ma’had Islamy. Zainuddin Hamidy merupakan orang Indonesia pertama yang sekolah di perguruan ini. Ia belajar beberapa tahun disana. Setelah merasa cukup waktu dalam menuntut ilmu agama, Zainuddin Hamidy pulang ke kampung halamannya dalam usia yang relatif muda. Setelah sampai di Payakumbuh, beliau kemudian menikahi Desima Jasin. Dengan Desima Jasin ini, Zainuddin Hamidy memiliki 7 orang anak pula.

Kembali dan Membangun Kampung

Di kampung halamannya, Minangkabau, Zainuddin Hamidy kemudian mencurahkan pemikirannya dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Terbukti, setelah kembalinya Syekh Haji Zainuddin Hamidy dari Mekkah, ia kemudian mendedikasikan ilmunya pada Madrasah tempat pertama ia menuntut ilmu yang madrasah tersebut telah berganti nama dengan Darul Funun. Ia kemudian mendirikan lembaga pendidikan Islam Ma’had Islamy di Koto Nan IV Payakumbuh.

Baca Juga  Apakah Al-Quran adalah Wahyu?

Ma’had Islamy merupakan lembaga pendidikan Islam yang awalnya bernama Diniyyah School. Pengambilan nama Ma’had Islamy ini dilatarbelakangi oleh romantisisme Buya Haji Zainuddin Hamidy ketika ia menuntut ilmu di perguruan Ma’had Islamy Mekkah. Dibawah pimpinannya inilah ma’had ini mengalami kemajuan yang sangat pesat dan membutuhkan kelas untuk belajar.

***

Pada tahun 1940, gedung baru yang didanai secara sukarela dan patungan oleh masyarakat ini, selesai dibangun. Gedung baru ini berjumlah 10 lokal. Mayoritas permanen, Setelah gedung baru ini tuntas dibangun dan diresmikan pemakaiannya, pada tanggal13 Februari 1941 terjadi angin puting beliung yang merobohkan gedung yang baru dibangun tersebut. Kesedihan kemudian menghinggapi hati masyarakat dan para pengurus Ma’had Islamy, tak terkecuali Syekh Haji Zainuddin Hamidy.

Untuk menenangkan hati masyarakat dan pengurus, Syekh Haji Zainuddin Hamidy berusaha untuk tampil tabah dan selalu mengatakan: “Asa Rabbuna an Yubdillana Khairan Minha.” Semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik dari yang ini. Dibawah komando Syekh Haji Zainuddin Hamidy, mereka mulai kembali membangun gedung yang roboh tersebut.

Untuk merealisasikan keinginan ini, maka dibentuk panitia pembangunan gedung baru. Panitia ini diketuai oleh Fakhruddin HS. Dt. Majo Indo, Ahmad Hamid Ibrahim, Arbi, Kari Lazim dan lain-lain, berkat kerja keras panitia dan dukungan dari masyarakat, pada tahun 1942, gedung baru ini selesai dibangun.

Ulama Produktif dari Tanah Minang

H. Zainuddin Hamidy terkenal sebagai ulama sekaligus politikus yang produktif pada masanya dan telah banyak menghasilkan karya tulisan tidak hanya dalam bidang tafsir tetapi juga hadis, sehingga wajar banyak tanggapan positif ketika dia menghasilkan karya bahkan rekomendasi untuk mengambilnya seperti yang dilakukan Syaikh Sulaiman ar-Rassoeli Tanjung ketua Mahkamah Agung atas tafsirnya agar diambil sebagai pedoman dan lain-lain.

Ia merupakan salah satu ulama ternama Sumatera Barat dan beberapa karya tulisnya, antara lain: Tafsir al-Quranul Karim, merupakan tafsir al-Quran pertama di Indonesia yang dikarangnya bersama-sama dengan Fakhruddin HS. Kemudian, Terjemahan Shahih Bukhari, dilakukan bersama dengan Darwis Z. dan Fakhruddin HS., Terjemahan Hadits Arba’in dan Musthala’ah Hadits.

Baca Juga  Imam Ath-Thabari: Biografi dan Perjalanan Intelektualnya

Bersama Fakhruddin HS Menulis Tafsir

Ulama terkenal dimasanya dengan karya-karya tulis yang dihasilkannya memperluas khazanah Islam di Nusantara. Salah satu kitab tafsirnya yang beliau karang bersama Fakhruddin HS adalah Tafsir Qur’an. Dalam penulisan kitab, penulis menggunakan langkah tartib mushafi dimana dituliskan nomor surat, nama surat, serta arti dari nama surat itu sendiri, jumlah ayat, dan tempat turun Makkiyah-Madaniyyah.

Metode penafsiran tafsir al-Qur’an ini dalam menafsirkan ayat menggunakan metode ijmali yaitu menafsirkan ayat al-Qur’an secara umum atau keseluruhan dan menafsirkan pada ayat yang dianggap penting karena beliau tidak menafsirkan semua ayat yang terdapat dalam al-Qur’an.

Kemudian dalam sistematika penulisan kitab tafsir ini Zainuddin Hamidy menggunakan metode tahlili, karena beliau menafsirkan ayat al-Qur’an secara urut sesuai dengan urutan ayat dan surah dalam al-Qur’an. Manhaj atau jalan yang ditempuh dalam menafsirkan ayat al-Qur’an menggunakan manhaj tafsir bi al-ra’yi atau tafsir bi al-ijtihadi. Mengenai corak yang terdapat dalam kitab Tafsir Qur’an berupa corak sosial kemasyarakatan (Adabi Ijtima’i).

***

Ada beberapa pendapat ulama tentang Tafsir Qur’an salah satunya Syeikh Ibrahim Musa Parabek:

Setelah saya perhatikan tafsir yang dusahakan oleh saudara Fachruddin HS dan H. Zainuddin Hamidy baik tentang isi ataupun susunannya dapatlah saya kemukakan disini bahwa usaha ini telah membukakan pintu dan memberi jalan untuk mendapat ilmu dan hikmah yang terkandung di dalam al-Qur’an, terutama bagi mereka yang tiada dapat memahami dari bahasanya yang asli. Tentulah usaha ini akan mendapat sambutan dari masyarakat sebagai satu sumbangan yang berharga dalam memperluas pengetahuan dan memperdalam jiwa keislaman di tanah air kita ini.”

H. Zainuddin Hamidy wafat pada Hari Jum’at tanggal 29 Maret 1997 secara tiba-tiba di kamar di samping sekolahnya, Ma’had Islamy, setelah kembali dari Jakarta berunding dengan Presiden Soekarno. Beliau meninggalkan 2 orang istri, yaitu Rahmah binti Abu Bakar dan Desima dari keduanya beliau dikaruniai 14 orang anak. Dari istri pertama beliau memiliki 7 orang anak, begitu juga istri kedua beliau dikarunia 7 orang anak.

Meninggalnya Syaikh Haji Zainuddin Hamidy membuat Sumatra Barat berkabung. Umat Islam, khususnya masyarakat Payukumbuh merasa kehilangan tokoh yang seluruh hidupnya di dedikasikannya untuk kemajuan pendidikan dan kemaslahatan umat Islam Sumatera Barat dan Indonesia pada umumnya.

Ananul Nahari Hayunah
Mahasiswi di UIN Jakarta Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir