Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Budaya Jawa dan Doa Nabi Isa as. di dalam Al-Qur’an

doa isa
Sumber: https://www.thejakartapost.com

Masyarakat di Indonesia merupakan masyarakat yang multikultur. Beragam adat budaya dan agama tumbuh subur di Indonesia. Masyarakat di Jawa melakukan upacara di setiap daur hidup seseorang. Di daerah lain juga ditemukan tradisi demikian namun dengan nama yang bermacam-macam. Adat seperti ini sudah berlangsung sejak dahulu sebelum hadirnya Hindu-Buddha di Nusantara. Lantas bagiamana Islam memberikan pengaruh esensi religi di mayarakat berkebudayaan saat ini? Doa Nabi Isa AS memberikan petunjuk adanya hari-hari krusial di kehidupan manusia.

Doa Nabi Isa AS di QS Maryam ayat 33:

وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.

Kata salam di doa Nabi Isa AS

Hari kelahiran dan kematian seseorang merupakan hari-hari krusial bagi setiap manusia. Nabiyullah Isa AS memohon kepada Allah agar disertai keselamatan padanya ketika di tiga hari pergantian hidup manusia. Seseorang akan merasakan pertama kali kehidupan dunia ketika ia telah lahir dari rahim ibu. Setelahnya manusia akan berproses beriringan dengan bertambahnya usia mereka setiap harinya. Manusia akan tumbuh dan berkembang sampai di fase dewasa dan sistem anggota badan tidak bekerja lagi ketika ia meninggal dunia.

Dan fase kehidupan berpindah di alam kubur, biasa juga disebut alam barzakh. Di sini manusia sudah tidak disibukkan dengan pernak-pernik duniawi namun melakukan penantian hingga hari akhir tiba. Hari di mana manusia akan diperhitungkan amalnya di dunia, dan sistem akan menyeleksi siapa yang berhak mendapatkan kenikmatan surga ataupun menetap di hunian penuh siksa yakni neraka.

Kata Salam di ayat ini mengandung makna kedamaian, penuh dengan kecukupan dan terhindar dari mara bahaya. Bahkan tidak ada tandingan lain dari kata salam dalam Al Qur’an. Allah pun menempatkan ucapan salam untuk mengakhiri ibadah salat.

Baca Juga  Abu Al-Aswad Ad-Du’aliy Sang Penggagas Ilmu Nahwu
***

Menurut keterangan Hamka di tafsir Al-Azhar, Isa AS memohon kepada Allah agar diberi keselamatan dalam tiga pergantian hidup; Pertama, ketika ia dilahirkan “Janganlah sampai kekurangan suatu apa hendaknya, karena lahirku ganjil, lain dari yang lain.” Kedua, dihari ia wafat “Kelak jangan sampai menjadi fitnah.” Ketiga, di hari ia dibangkitkan yakni kiamat kelak. Kiamat sendiri memiliki makna bangun.

Tafsir Al Ibriz karya KH Bisri Mustofa dengan makna pegonnya memberikan maksud dari kata keselametan dengan penegasan tetepa marang ingsun. Hal ini mengindikasikan permohonan yang sangat. Benar-benar disertai kedamaian pada saat waktu-waktu tersebut.

Upacara untuk kelahiran dan kematian di Jawa

Hingga sekarang masayarakat Jawa masih melestarikan budaya warisan turun temurun moyang mereka. Yakni mengadakan acara syukuran bertepatan dengan fase daur hidup seseorang. Upacara daur hidup dimulai ketika diketahuinya kehamilan hingga pasca wafatnya seseorang.

Upacara tingkeban merupakan upacara di masa-masa ibu mengandung. Tergantung dengan kehendak keluarga kapan upacara ini dilakukan. Ada pilihan Ngloroni, Neloni, Ngapati, Nglimoni, Ngwoloni dan Nyangani. Varian ini boleh dilakukan setiap bulannya, namun kebanyakan ibu hamil akan ditingkebi pada bulan ketujuh. Makanan wajib dari upacara ini adalah rujak pedas-manis. Setelah kelahiran, sang bayi akan digelarkan syukuran brokohan, sepasaran, pupak puser (fase tali pusar bayi telah putus) dan terakhir selapanan.

Begitu pula dengan upacara kematian di Jawa. Keluarga akan mengadakan selametan nyelameti pati untuk anggota keluarganya yang meninggal. Keluarga akan menggelar doa bersama di hari pertama hingga ketujuh dari hari wafatnya. Setelah itu akan dilanjutkan dengan doa bersama Patang Puluh Dina (empat puluh hari), Satus Dina (seratus hari), Pendhak Pisan (satu tahun pertama), Pendhak Pindho (tahun kedua kematian), hingga Sewu Dina (seribu hari).

Baca Juga  Tafsir Ramah Gender Ala Amina Wadud
***

Adat tasyakuran dan peringatan kematian di Jawa berlaku hingga sekarang. Di era modern seperti ini upacara tersebut masih lestari dengan diwarnai inovasi kekinian. Walaupun sifatnya tidak wajib, bagi orang Jawa adat tersebut sama dengan pengharapan keluarga untuk kebaikan dalam berlangsungnya hidup hingga kematian seseorang. Acara tersebut lumrahnya dengan menggelar doa bersama dengan mengundang sanak famili dan tetangga hingga mengadakan pengajian umum.

Di setiap acara memiliki karakteristik berbeda-beda, baik dari hidangan ataupun tahapan ritual yang dijalankan. Walaupun ada perbedaan, substansi dari setiap ritual tersebut adalah harapan kebaikan untuk seseorang yang dituju. Agar pertumbuhan dan perkembangan bayi berjalan dengan baik sehingga ia bisa menjadi dewasa yang sesuai harapan orang tua, berbakti kepada kedua ibu-bapak, bermanfaat bagi sekitarnya. Dengan menghadiahkan pahala bagi orang yang meninggal, keluarga bermaksud agar almarhum/ah bisa diberikan kenikmatan kubur, amal ibadahnya diterima sehingga ia bisa beristirahat dengan tenang.

Korelasi Budaya Jawa dengan QS Maryam ayat 33

Masyarakat Jawa memperhatikan betul fase daur hidup ini. Bahkan hingga sekarang ada orang tua yang rutin bersedekah di setiap weton anaknya. Dengan bersedekah di Dina Pasaran kelahiran anaknya, orang tua meniatkan tolak bala untuk sang anak dan memohon setiap langkahnya direstui Tuhan.

Budaya Jawa memperlihatkan bahwa masyarakatnya memberikan rasa mawas di setiap kelahiran dan kematian seseorang. Sama dengan doa Nabi Isa di QS Maryam ayat 33, untuk diberikan keselamatan di tiga fase pergantian hidupnya. Keduanya memiliki substansi yang sejalan, tidak hanya mengharapkan kebaikan yang tampak ketika lahir dan mati seseorang namun juga restu Tuhan. Rida Allah SWT yang selalu menjadi puncak penghambaan seseorang. Keselamatan di hari kebangkitan hanya dapat diraih dengan ridaNya.

Baca Juga  Jejak Lailatul Qadar Pasca Ramadhan