Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Bermaksiat Tanda Menzalimi Diri: Nasehat Imam Al-Ghazali

Bermaksiat
Gambar: https://tabungwakaf.com/

Pada zaman Rasulullah, seorang sahabat bertanya tentang kapan hari kiamat itu akan tiba? Kemudian Rasulullah menjawab bahwa hari kiamat sudah dekat. Rasulullah hidup 1.300an tahun yang lalu, pada zaman itu Beliau mengatakan hari akhir sudah dekat. Lantas bagaimana dengan sekarang? Berbagai peringatan dari Allah berupa cobaan, bencana alam tidak menjadikan kita lantas bertaubat untuk mengingat-Nya.

Apalagi zaman sekarang ini kemaksiatan dimana-mana, mulai dari kaum laki-laki maupun perempuan. Banyak yang menyeleweng dari kodratnya sendiri, sehingga tidak sedikit pula yang kita jumpai terkait laki-laki yang menjadi perempuan, atau perempuan yang beralih menjadi laki-laki.

Padahal sejak kita menginjak Madrasah Ibtidaiah atau biasa disebut SD, dalam pelajaran aqidah disebutkan, ciri-ciri hari kiamat akan datang, yang salah satunya adalah lumrahnya tindak kemaksiatan entah dari orang lain atau dari dalam diri kita sendiri semisal lidah, mulut, tangan, mata dan lain-lain.

Untuk itu, Imam Abu Hamid Al-Ghazali menuliskan dalam kitab beliau “Bidayatul Hidayah” yang banyak memberikan kita kemanfaatan dalam menikmati kehidupan.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa orang yang beriman adalah orang yang melakukan dua perkara, yakni melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Diantara dua perkara ini siapapun pasti bisa dalam melakukan ketaatan, sekalipun hanya senyum kepada sesama, menyingkirkan batu di jalan, berdzikir dan lain sebagainya. Lain lagi dengan perkara meninggalkan maksiat, tidak semua orang bisa mampu menahan hawa nafsu, entah dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Terkait hal ini Rasulullah bersabda, “Orang yang berhijrah adalah yang meningalkan keburukan, sedang orang yang berjihad adalah yang berjuan melawan hawa nafsunya”.

Bermaksiat Tanda Menzalimi Diri Sendiri

Perlu digarisbawahi agar kita ingat terus bahwa ketika kita bermaksiat artinya kita juga telah berbuat zalim terhadap anggota tubuh kita. Padahal anggota tubuh adalah nikmat dan amanah yang Allah berikan kepada hambanya. Bukankah selayaknya kita menjaga dengan baik dan menggunakan dengan semestinya? Banyak orang yang tidak faham bahwa anggota tubuh juga merupakan amanah, sehingga banyak yang meremahkan perbuatan-perbuatan dosa sekecil pun.

Baca Juga  Fastabiqul Khairat: Dari Konsep ke Gerakan

Untuk itu Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin dawuh begini, “ketika seseorang itu menyadari sesuatu yang dimilikya ternyata berharga setelah hal tersebut hilang itu adalah orang yang sampai masuk ke taraf ghayatul jahli (bodoh)”. Maksudnya seperti ini, nikmat Allah berupa tangan, kaki, mata, lidah itu sudah diberikan kepada kita dan sudah kita nikmati sudah lama, mengapa kalian tidak bersyukur akan hal itu?

Jika saja Allah mengambil tangan kita yang sebelah, atau kedua mata kita, baru kita menyadari bahwa ternyata hal yang sudah tidak ada merupakan sebagian dari nikmat? Kemudian yang ada hanya penyesalan. Mengapa tidak menggunakan pada hal yang baik-baik saja sehingga Allah tidak murka. Apakah mungkin untuk kita bersyukur saja harus kehilangan sesuatu yang ada? Kalau iya berarti kita tergolong dalam golongan ghayatul jahli.

Setelah memahami bahwa anggota tubuh kita merupakan nikmat dan amanah, dalam hadis Buhkari disebutkan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya”

Maka perhatikan dengan baik bagaimana kamu menggembalakan mereka. Allah juga berfirman dalam QS. An-Nur: 24

Pada hari dimana lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas perbuatan yang kalian lakukan”

Atau pada QS. Yasin: 65

“Pada hari ini, kami tutup mulut mereka sedangkan tangan mereka berbicara pada kami dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan”

Pelihara Anggota Tubuhmu

Dalam kita Bidayatul Hidayah Imam Al-Ghazali juga menyebutkan bahwa peliharalah anggota tubuhmu, teruatama tujuh anggota tubuhmu, terutama dari bermaksiat. Karena neraka jahannam itu ada tujuh pintu masuk dan masing-masing mereka mempunyai bagian tersendiri. Tujuh anggota tubuh itu adalah mata, lidah, telinga, perut, kemaluan, tangan dan kaki.

  • Mata
Baca Juga  Perkembangan Kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir di Indonesia

Allah memberikan kenikmatan berupa mata agar senantiasa kita bisa melihat betapa menakjubkan ciptaan-Nya. Agar kita bisa melihat di tengah kegelapan, melihat kejaiban yang ada di langit maupun bumi, sehingga kita dapat mengambil pelajaran. Kemudian Imam Al-Ghazali mengatakan, “Peliharalah mata dari empat hal: melihat yang bukan mahram, melihat gambar bagus dengan syahwat, melihat seorang muslim dengan pandangan meremehkan, serta melihat aib seorang muslim”. Artinya kita dilarang menggunakan mata bermaksiat.

  • Lidah

Senantiasa diciptakan agar kita bisa berdzikir menyebut nama-Nya, membaca kalam indah-Nya, mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam hati, dll. Lidah merupakan angoota tubuh yang paling dominan. Tidaklah manusia itu dimasukkan ke neraka karena disebabkan oleh lidahnya. Menurut Imam Al-Ghazali selayaknya kita menjaga lidah dari delapan perkara: tidak berdusta, melanggar janji (menyalahi janji), ghibah, mendebat orang, mengklaim diri bersih dari dosa, mencela, mendoakan keburukan, mengejek

Menjauhkan Diri dari Bermaksiat

  • Telinga

Peliharalah telinga itu dari perbuatan bid’ah, perkataan keji, tacit kebatilan, kejelekan orang, ghibah (sekalipun hanya mendengarkan, hukumnya tetap menjadi ghibah). Mengapa tidak kita gunakan untuk kepentingan mendengar hal-hal yang baik-baik saja seperti pengajian para kiai, dsb.

  • Perut

Semestinya kita menjaga perut dari barang yang haram dan syubhat. Tidak mekan dengan berlebihan karena bisa menyebabkan bekunya hati, merusak akal, menghilangkan hafalan, memberatkan anggota badan untuk beribadah. Itu semua penyebab kita makan berlebihan (makanan halal). Lantas bagaimmana bila kita memakan yang haram? Maka hal itu diibaratkan dengan membangun di atas kotoran hewan.

  • Kemaluan

Menjaga kehormatan diri dengan cara menjaga kemaluan kita merupakan wajib hukumnya. Sekalipun di zaman sekarang ini banyak wanita yang sudah menyerahkan kehormatannya dengan cuma-cuma atau laki-laki yang tiap harinya bergilir sana-sini. Jadilah manusia yang sebagaimana disebutkan Allah dalam QS. Al-Mukminun: 5-6

Baca Juga  Meraih Kenikmatan Tertinggi dengan Menjaga Ibadah

“Mereka yang menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri mereka atau sahaya yang mereka milki, maka mereka tak dapat dicela”

  • Tangan

Selayaknya kita menjaga kedua tangan agar tidak ikut andil dalam kemaksiatan, seperti menjadikan alat untuk memukul sesame muslim, mendapat harta haram, menyakiti sesame mahluk, atau lebih parahnya menuliskan sesuatu yang memang dilarang, karena pena merupakan lidah pula. Maka, peliharalah keduanya.

  • Kaki

Janganlah kalian menggerakkan ke tempat maksiat, atau menuju ke pemimpin yang lalim. Karena hal itu termasuk sifat tawadlu kepada orang yang salah. Allah berfirman dalam QS. Hud: 113:

“Janganlah kalian condong kepada mereka yang telah berbuat lalim, niscaya kalian tersentuh api neraka dan kalian tidak mempunyai penolong selain Allah. Lalu kalian tidak ditolong”

Penyunting: Bukhari