Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Bencana Dalam QS. Ar-Rum 41: Peringatan Atau Ulah Manusia

peringatan
Sumber: https://www.reuters.com/

Indonesia adalah negara yang rentan terjadinya bencana alam. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak awal tahun sampai 2 November 2022 sudah ada 3.052 peristiwa bencana alam di seluruh Indonesia. Bencana alam terbanyak adalah banjir, yakni 1.257 kejadian. Jumlah itu setara 41,18% dari total kejadian bencana hingga awal November tahun ini. Bencana alam dapat dipahami sebagai peringatan atau musibah.

Bencana dalam al-Qur’an mempunyai makna yang beragam. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. asy-Syura: 30, bahwa makna bencana sebagai musibah. Q.S. Al-Mulk: 2, menyatakan bahwa bencana sebagai bala’ atau ujian. Makna lain adalah fitnah (membakar), dalam al-Qur’an kata ini diulang sebanyak 60 kali. Allah seringkali mempersamakan kata fitnah dengan bala’ Q.S. al-Anbiya: 35, Q.S. al-Anfal : 28,  Q.S. At-Taghabun: 15, Q.S. Ali ‘Imran: 186.

Fenomena Bencana Alam di Indonesia

Indonesia telah mengalami beberapa bencana yang sangat serius dan butuh perhatian dari semua lapisan masyarakat. Seperti letusan gunung Tambora (1815) dan Krakatau (1883). Tetapi Setelah lebih dari satu abad, orang tidak lagi khawatir tentang bencana dan konsekuensinya. Isu bencana muncul lagi setelah adanya bencana Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh (2004), di Yogyakarta (2006) dan tragedi Situ Gintung (2008); yang kesemuanya telah menewaskan ratusan ribu manusia.

Bencana yang terbaru adalah gempa bumi di Cianjur dan erupsi semeru pada tahun 2022. Beberapa orang menganggap bencana itu murni Karena takdir dari Tuhan. Namun, pada kenyataannya itu adalah sunnatullah terjadi ketika umat manusia melupakan tugas kekhalifahan atas bumi. Allah berfirman dalam Q.s. Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Baca Juga  Analisis Semantik Makna Kata Jamilah dalam Al-Qur'an

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Penafsiran Ayat Bencana dalam Al-Qur’an

Dalam tafsir Al-Muyassar dijelaskan bahwa telah terlihat kerusakan di daratan dan di lautan seperti kekeringan, minimnya hujan, banyaknya penyakit dan wabah. Semua bencana itu disebabkan kemaksiatan-kemaksiaan yang dilakukan oleh manusia. Agar mereka mendapatkan hukuman dan peringatan dari sebagian perbuatan mereka di dunia. Kemudian supaya mereka bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya dengan meninggalkan kemaksiatan. Akhirnya keadaan mereka akan membaik dan urusan mereka menjadi lurus.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ingin mengingatkan bagi manusia, apa yang terjadi di darat terjadi di lautan merupakan hasil dari aktivitas manusia. Ini menunjukkan Musibah bukanlah inisiatif dari Allah, seperti hukuman, cobaan, maupun memperingatkan manusia. Banyak bukti menunjukkan bahwa manusia adalah pelaku atas bencana yang terjadi. Seperti penggundulan hutan yang berlebihan, perusakan lautan dengan mengeksploitasi sumber daya yang ada di dalamnya dengan tujuan memuaskan kepuasan sesaat manusia.

Sikap manusia dalam menghadapi musibah adalah mengantisipasi bencana demi meminimalisir dampaknya, bersabar dalam menghadapi musibah, dan bersikap optimis dan tidak berputus asa agar dapat bangkit cepat pasca bencana. Berpikir positif dalam menghadapi bencana adalah sebuah sikap terbaik, membawa kita lebih dekat ke pemahaman lebih pintar. Agar kita tidak terjerumus pada kesalahan fatal seperti menyalahkan korban atau menyalahkan Allah. Karena bencana adalah satu bentuk dari peringatan Allah kepada umat manusia.

Penyunting: Ahmed Zaranggi