Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Benarkah Orientalis Membutuhkan Al-Qur’an?

Sumber: Islampos.com

Hari ini kita banyak melihat, tidak sedikit yang mengagumi dan bahkan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat sejati. Dari sekian banyak pengaggum itu, percaya atau tidak, beberapa di antaranya adalah kaum-kaum terpelajar dari kesarjanaan Barat yang notabenenya bukan beragama Islam. Pertanyaanya, benarkah mereka membutuhkan Al-Qur’an?

Sebutlah Orientalis, orang yang dipersiapkan khusus sebagai misioner dan pioner, bertengger di ranting-ranting ajaran Islam untuk menggapai buah manis kejayaan pengaruh Barat terhadap kajian-kajian keagamaan terkhusus pada studi Al-Qur’an.

Secara sederhana, mereka (orientalis), belajar dan memahami seputar dunia ketimuran. Kemudian akan menjadi bahan mereka untuk melemahkan Islam dari segi pemikiran yang akan berpengaruh pada akidah.

Sumber Al-Qur’an dan Orientalis

Kita semua sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang dipercayakan oleh Tuhan untuk menerima wahyu yang bernama Al-Qur’an. Kita juga meyakini bahwa Al-Qur’an bersumber dari Allah sebagai petunjuk untuk umat manusia. Kepercayaan dan keyakinan demikian, itu sudah menjadi standar dalam teologi islam. Jika tidak, mengakui bahwa kita sebagai seorang muslim, tidak dibenarkan dalam agama.

Namun, bagaimana ketika dihadapkan dengan para sarjana barat, apakah mereka juga seperti itu dalam berkeyakinan? jika boleh menjawab, penulis pribadi berkata, iya. Namun, para orientalis enggan untuk mengakui keyakinannya tentang keberadaan sang pencipta yang merupakan sumber dari Al-Qur’an itu sendiri.

Penulis berkeyakinan, bahwa orientalis mempunyai niat besar untuk memiliki kitab yang luar biasa itu, Al-Qur’an. Sehingga, dengan semangatnya yang membara, menghafal Al-Qur’an sekalipun, mereka laksanakan. Tudingan-tudingan miring digaungkan, penafsiran-penafsiran rasional dikemukakan, yang pada akhirnya mampu menarik sekelumit umat islam. Lalu patuh dan mengimani suara-suara sihir yang mereka lontarkan. Benarkah demikian?

Dua Masa Kajian Al-Qur’an oleh Orientalis

Kajian barat tentang sumber Al-Qur’an sekiranya terbagi menjadi dua masa dengan karakteristik yang berbeda. Pertama, adalah masa abad pertengahan. Hasil kajiannya menitikberatkan pada Al-Qur’an bersumber dari sesuatu hal yang bersifat mistik, dari roh-roh jahat misalnya.

Baca Juga  Meninjau Kembali Childfree Melalui Al-Qur'an dan Hadits

Pada dasarnya, para peniru nabi sudah ada sejak nabi menyebarkan ajaran Al-Qur’an. Nabi Muhamad yang pada kenyataannya adalah orang yang menerima wahyu, namun dituduh sebagai seorang penyhir yang pandai membuat syair sedemikian indahnya. Bahkan mampu membuat mata mengeluarkan air.

Yang kedua, pada masa modern. Hasil kajian dari masa ini adalah Al-Qur’an itu bersumber dari ajaran-ajaran Yahudi, menurut orientalis Yahudi. Sedang menurut orientalis Kristen, Al-Qur’an itu bersumber dari kebiasaan dan ajaran-ajaran umat kristiani. Kemudian melupakan bahwa Al-Qur’an bersumber dari Tuhan pencipta alam semesta.

Kajian Al-Qur’an di Barat

Di dalam buku “Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an”, yang ditulis oleh Taufik Adnan Amal, dijelaskan bahwa awal mula kajian barat modern tentang Al-Qur’an bermula pada 1833. Adapun publikasi pertamanya adalah karya Abraham Geiger yang berjudul “Apa yang Telah Diadopsi Muhammad dari Agama Yahudi?’’, yang pada hasilnya, kajian ini menitikberatkan pada anasir Yahudi dalam Al-Qur’an.

Setelah kajian yang dilakukan Geiger, muncullah kajian baru untuk memperkuat kajian sebelumnya. Kajian tersebut dilakukan oleh Hirschfeld pada tahun 1878 dengan judul “Anasir Yahudi dalam Al-Qur’an”. Dari kajian-kajian itulah hingga menyuluh api panas terjadinya perang akademik antara Sarjana Yahudi dan Kristen yang sama-sama keras mempertahankan eksistensi agamanya sebagai sumber pokok Al-Qur’an.

Di samping untuk melemahkan dan memudarkan iman masyarakat Islam, penulis berkeyakinan, hal yang dilakukan orientalis demikian itu, adalah bagian dari rasa ingin memiliki Al-Qur’an. Lalu, benarkah rasa ingin memiliki itu didasari oleh ketakutan akan berkembangya umat Islam jika mengkaji Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat banyak pengetahuan Ilmiah. Boleh jadi benar demikian.

Jika hari ini kita selaku masyarakat islam, hanya sekedar mengakui, lalu kemudian menjadikannya alat untuk mengkriminalkan orang lain, apa bedanya kita dengan orientalis yang mengklaim Al-Qur’an dari kebiasaan dan pemikiran meraka kemudian dengan Al-Qur’an, mereka mengkriminalkan kita sebagai umat yang mengimani kitab mulia itu.

Baca Juga  Menyoal Tren Hijrah: Menilik Hakikat Hijrah dalam Al-Qur'an

Respon Al-Qur’an Terhadap Orientalis

Bisa dikatakan bahwa sumber inspirasi kajian orientalis terhadap Al-Qur’an berawal dari sikap para oposan nabi di masa dakwah Rasulullah. Al-Qur’an sendiri sudah merekam dan merspon mereka tentang asal-usul dan sumber wahyu. Tertuang dalam surat Al-Furqon ayat 4-9.

Dan orang-orang kafir berkata, “Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain, ” maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, “Benarkah dongengan-dongengan orang-orang dahulu dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” Katakanlah, “Al-Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan mereka berkata, “Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia? Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (benarkah) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang yang zalim itu berkata, “Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir.” Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).

Jika kita melihat dan mencermati ayat ini, nampak jelas terdapat kemiripan antara oposan di masa Nabi dan kajian orientalis. Nabi Muhammad, di Barat pada abad pertengahan diagagas sebagai seorang penipu, tukang sihir serta dianggap mengajarkan ajaran kristen yang sedemikian sesatnya.

Kesimpulan

Kemiripan lainnya adalah terletak pada pendapat dari opsan Nabi bahwa Al-Qur’an itu berasal dari kitab kaum Yahudi dan Kristen, kemudian pendapat itu diilhami oleh kelompok orientalis modern.

Baca Juga  Mengenal 3 Tokoh Orientalis dalam Kajian Al-Qur'an

Seberapa pun tajamnya pendapat yang dikemukakan oleh penentang Nabi Muhammad itu, Al-Qur’an merespon dan membatahnya. Dalam Q.S Al Ankabut ayat 48 Allah berfirman bahwa Nabi tidak pernah membaca satu kitab pun sebelum Al-Qur’an, seandainya Nabi pernah membaca, maka para penentang nabi akan mempunyai argumen yang kuat untuk melemahkan bahwa Al-Qur’an bersumber ilahiyah.

Jadi, penulis pribadi sepakat bahwa, orientalis memang sangat membutuhkan Al-Qur’an karena banyak mengambil  gagasan-gagasan serta ilmu-ilmu yang ada di dalamnya. Penulis berani berkata demikian, karena pada kenyataannya mereka sampai mengklaim bahwa sumber pokok dari Al-Qur’an adalah kebiasaan dan dari kitab-kitab mereka.

Serta sudah begitu banyak banyak mengambil referensi Ilmu pengetahuan di dalam Al-Qur’an. Namun, betapapun banyaknya ilmu yang diambil dan ayat yang dihafal, mereka tetaplah tidak beretika. Sebab tidak mau untuk mengakui keberadaan Allah sebagai sumber dari Al-Qur’an dan Muhammad sebagai penyampai wahyu kepada umat manusia.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho