Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Benarkah Kekayaan Sejati Adalah Kekayaan Harta?

jiwa
Sumber: https://www.freepik.com/

Dari Abu Hurairah RA ia mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya akan jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kekayaan sebenarnya bukan terletak pada banyaknya harta, akan tetapi ia menyapa siapa saja yang mengunggulkan kekayaan jiwa. Jiwa yang kaya ialah ia yang senantiasa bersuka cita atas apa pun yang telah diterima, senantiasa menjadikan segala yang dimiliki sebagai jalan dalam menggapai ridha-Nya.

Kekayaan Jiwa

Kaya akan jiwa menjadi kunci meraih kebahagiaan di dunia dan di keabadian kelak. Menjadikan kekayaan yang dimiliki sebagai jembatan untuk selalu melakukan amal kebajikan di dalam kehidupan yang dijalani. Semisal kebaikan berupa memberi makan kepada kerabat dekat, anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang lainnya yang membutuhkan. Mukmin yang pandai ialah ia yang senantiasa mengakomodir kekayaannya dengan baik. Sungguh, hadiah indah baginya dengan memperoleh balasan yang terbaik dari-Nya.

Allah berfirman, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang telah Allah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala besar.” (QS al-Hadid: 7)

Kekayaan hendaknya melahirkan spirit kebajikan dalam kehidupan. Yakni dengan memahami kekayaan adalah suatu kebutuhan yang hanya diperlukan saja. Namun, kekayaan sering kali dilekatkan pada situasi dan kondisi serba memiliki. Padahal, hal itu yang justru tidak tepat, dan malah mendatangkan kemudharatan, seperti halnya melahirkan sifat tamak, boros dan berlebih-lebihan.

Allah berfirman, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS al-Isra: 26)

Baca Juga  Penokohan Dalam Kisah Al-Qur'an

Ketahuilah, kekayaan sebenarnya disimbolkan pada sedikitnya keperluan. Siapa saja yang sedikit keperluannya, itulah orang yang paling kaya. Dan siapa saja yang banyak keperluannya, itulah orang yang paling miskin. Hal tersebut hendaknya menjadi prinsip setiap Mukmin yang cerdas dalam mengelola kekayaan yang dimiliki.

Kekayaan yang Bermanfaat

Kekayaan kita hendaknya dapat membawa kita pada nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupan yang dijalani. Sikap dermawan adalah salah satu upaya terbaik dalam menempatkan kekayaan pada tempat yang semestinya. Refleksi Mukmin sejati ialah menebar kemanfaatan bagi sesama dengan berbagi. Menjadikan kekayaan sebagai jalan elite untuk menggapai rahmat-Nya.

Ketahuilah, setiap yang kita miliki akan dimintai pertanggung jawaban. Segala hal yang kita lakukan semasa hidup akan menentukan nasib kita di keabadian kelak. Maka, hendaknya sebagai Muslim sejati melekatkan sikap dermawan dalam mengelola kekayaan yang dimiliki di dalam kehidupan.

Allah berfirman, ”Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS al-Baqarah: 195)

Sungguh, kekayaan yang bernilai akan senantiasa membawa kita pada-Nya. Mengelola secara tepat harta yang dimiliki untuk meraih ridha-Nya. Mengunggulkan kekayaan jiwa hingga melahirkan beragam dimensi kehidupan yang penuh dengan kebaikan. Hal tersebut menjadi bukti penghambaan terbaik seorang Muslim sejati dalam menempuh jalan untuk meraih hamparan pahala serta ridha-Nya.

Kekayaan jiwa adalah manifestasi kecintaan terhadap Sang Kuasa. Pemilik kejernihan pikiran dan keelokan hati yang paripurna. Keimanan dan ketakwaan yang terlantunkan setiap saat menjadikannya benih terbaik dalam menuai ridha-Nya. Menjadi jembatan untuk meraih kemuliaan dari-Nya yang sungguh mempesona. Wallahu a’lam.

Editor: An-Najmi Fikri R

Baca Juga  Penyebab Terbelakangnya Perkembangan Pendidikan Islam
Muhamad Yoga Firdaus
Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Gunung Djati Bandung