Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Belajar 4 Pegangan Hidup dari Imam Ash-Shadiq

Sumber: https://wdrfree.com/stock-vector/

Kehidupan selalu memberikan tantangan sekaligus kejutan bagi setiap orang. Seseorang yang tidak memiliki pegangan dalam hidupnya akan terus dirundung kecemasan dan kebingungan. Oleh karena itu, setidaknya, setiap orang harus memiliki serangkaian prinsip dalam hidupnya.

Prinsip setiap orang boleh berbeda-beda, akan tetapi prinsip itu akan berguna bagi setiap orang untuk terus melanjutkan hidup. Semangat hidup boleh jadi dihidupkan oleh energi pegangan hidup seseorang. Bahkan, satu saja pegangan hidup dapat mengeluarkan seseorang dari jurang keputusasaan.

4 Pegangan Hidup

Berbicara perihal pegangan hidup, kali ini kita akan belajar dari Imam Ja’far Ash-Shadiq. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai guru para Imam Madzhab, seperti Imam Hanafi dan Imam Maliki. Nah, suatu sore, Imam Ash-Shadiq ditanya oleh sahabatnya.

Salah seorang sahabat bertanya, “wahai Imam, apa saja pegangan hidupmu?”

Imam menjawab, “Aku berpegangan dengan 4 prinsip dalam hidupku.”

Pertama, Aku yakin bahwa amalku tidak akan dikerjakan oleh orang lain, karena itu aku bersungguh-sungguh dalam beramal. Kedua, aku yakin bahwa Allah selalu melihatku, karena itu aku malu. Ketiga, aku yakin bahwa rezekiku tidak akan dimakan oleh selainku, karenanya aku tenang. Keempat, aku yakin bahwa akhir dari segala urusanku adalah kematian, karena itu aku selalu bersiap-siap.”

Melalui dialog antara Imam dan sahabatnya, kita dapat memahami empat prinsip penting dalam hidup. Keempat prinsip ini dapat menguatkan seseorang dalam hidup, memotivasi serta menjadikan seseorang terus mengaktualkan segala potensi dalam hidupnya.

Apabila kita bedah satu per satu, maka kita akan menemukan bahwa keempat prinsip ini memiliki keselarasan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Berikut akan kita uraikan.

Bersungguh-Sungguh Dalam Beramal

Pegangan hidup yang pertama adalah bersungguh-sungguh dalam beramal. Keyakinan bahwa setiap orang bertanggung jawab dengan amalnya sendiri akan mendorong pada kesungguhan. Keyakinan semacam ini juga membuat seseorang melakukan yang terbaik dalam segala segi kehidupannya.

Baca Juga  Beda Pendapat Dengan Orang Tua, Ini Etikanya dalam Al-Qur'an.

Ayat yang berkaitan dengan prinsip yang pertama ini adalah surat An-Najm ayat 39:

Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”

Menurut para mufasir, ayat ini berkaitan dengan tanggung jawab amal dan balasan atasnya. Bahwa, seseorang hanya dibebani tanggung jawab mereka sendiri tidak orang lain. Selain itu, apa yang ditanam adalah apa yang ditunai. Oleh karena itu, tanaman yang terbaik akan menghasilkan hasil yang terbaik pula.

Perasaan Malu

Perasaan malu adalah prinspin yang kedua. Rasa malu di sini bermakna malu melakukan perbuatan yang buruk, bukan malu melakukan kebaikan. Kondisi malu semacam ini merupakan hasil dari keyakina bahwa Allah selalu mengawasi perbuatan kita.

Dengan pengetahuan dan kekuasaan Allah, Ia menjangkau segala perbuatan manusia. Selain itu, segala amal manusia, baik lahir dan batin juga diawasi oleh Allah. Dengan demikian, seseorang dengan keyakinan ini akan terus waspada terhadap apa yang ia pikirkan dan lakukan.

Hal ini berkaitan dengan surat An-Nisa’ ayat 1:

Artinya: “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

Ayat ini dengan jelas berbicara tentang penjagaan dan pengawasan Allah atas manusia. Pesan dari ayat ini adalah untuk manusia selalu menjaga dan mengawasi perbuatannya. Jangan sampai ia melakukan perbuatan yang tidak disukai Allah dan sebaliknya, ia meninggalkan sesuatu yang disukai Allah.

Tenang Atas Rezeki

Rezeki menjadi satu hal yang penting dalam kehidupan manusia. dan prinsip kedua adalah tenang atas rezeki. Artinya, rezeki adalah karunia dari Allah yang sudah disediakan untuk setiap orang. Sehingga, setiap orang tidak perlu risau terhadap rezeki akan tetapi fokus untuk mencarinya dengan segala usaha.

Baca Juga  Rasulullah Pun Pernah Dianggap Gila

Prinsip ketiga ini selaras dengan surat Hud ayat 6:

Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”

Ayat ini menyebutkan setiap binatang melata di bumi. Artinya, jangankan manusia yang diberi akal dan segala potensi, bahkan hewan yang melatapu sudah dijamin rezekinya oleh Allah sang Maha Pemberi Rezeki.

Mengingat Kematian

Prinsip terakhir adalah mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, maka seseorang akan selalu mempersiapkannya dalam segala keadaan. Karena, kematian adalah sebuah jembatan yang membawa manusia dari alam dunia menuju alam akhirat; dari alam untuk beramal menuju alam untuk menuai.

Pegangan terakhir ini juga sejalan dengan surat Ali Imran ayat 185:

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

Karena setiap jiwa akan mengalami kematian, maka satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan mempersiapkannya. Persiapan yang matang, dengan beramal sebaik-baiknya. Dengan begitu, kematian dapat disambut dengan tenang dan penuh persiapan.

Semoga keempat prinsip hidup ini juga dapat kita jadikan pegangan dalam hidup kita. Melalui pegangan hidup Imam Ash-Shadiq ini dapat membuat kita lebih baik dalam menjalani hidup. Mengingat, situasi kehidupan akan selalu mengguncang hati dan jiwa kita. Oleh karena itu, prinsip-prinsip ini dapat menjadi senjata kita untuk meneruskan hidup dengan ketangguhan.

Wallahu’alam bishawab.