Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Bakri Syahid dan Ilmu Sangkan Paran dalam Tafsir Al-Huda

Sumber: https://bangkitmedia.com/

Biografi Singkat Bakri Syahid

Salah satu mufasir yang populer di kalangan masyarakat muslim Indonesia adalah Bakri Syahid. ia adalah seorang purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI (sekarang TNI) dan pernah menjadi rektor IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga tahun 1970 an. Banyak jabatan yang disandang beliau semasa hidup antara lain: menjadi kepala Pusroh ABRI di Jakarta, wakil Pusroh ABRI Indonesia, dan lain sebagainya.

Bakri lahir di Yogyakarta, sebuah kota legendaris di Indonesia. Ia terlahir dari keluarga yang taat beragama dan penuh dengan nilai-nilai budaya Jawa. Yogyakarta memang dari dahulu dikenal dengan budaya Jawa yang kental. Selain itu, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota pelajar. Kedua iklim inilah yang kemudian membentuk kepribadian Bakri ketika dewasa.

Dilihat dari berbagai gelar jabatan yang ia miliki, terlihat bahwa ia bukanlah seorang yang sembarangan dan bukan tipe ‘kaum rebahan’. Berbagai posisi atau jabatan yang diemban, menuntut ia untuk tidak menjadi kaum rebahan. Iya, Bakri merupakan tipe orang yang ‘sibuk’.

Namun demikian, tidak lantas kegiatannya sehari-hari mengurungkan niatnya untuk membuat buah tangan. Bakri termasuk orang yang memperhatikan dunia akademik, sehingga sebagian waktunya disisihkan untuk menulis suatu karya. Selama hidupnya, Bakri telah menghasilkan sekitar 8 karya berwujud buku salah satunya tafsir al-Huda.

Mengenal Tafsir Al-Huda

Tafsir al-Huda ditulis Bakri kurang lebih selama delapan tahun. Tercatat, ia menulis sejak menjadi anggota ABRI dan dilanjutkan ketika ia menjadi Rektor IAIN Yogyakarta. Sungguh waktu yang tidak singkat. Namun berkat usaha kerasnya, tafsir al-Huda berhasil ia selesaikan genap tiga puluh juz.

Nama lengkap tafsir tersebut ialah al-Huda: Tafsir Qur’an Basa Jawi. Dilihat dari judulnya sudah dapat ditebak, tafsir tersebut ditulis dengan bahasa Jawa dengan aksara latin. Bahasa Jawa yang digunakan adalah krama inggil menjadikan ciri khas tafsir kara Bakri. Hal ini berbeda dengan tafsir-tafsir berbahasa Jawa lainnya seperti tafsir al-Ibriz karya Bisri Muthofa, Fayd Rahman karya Shalih Darat, dan al-Iklil karya Misbah Musthofa yang ketiganya menggunakan bahasa ngoko dengan tulisan pegon.

Baca Juga  Tafsir Qur'an Al-Huda: Tafsir Bahasa Jawa Karya Bakri Syahid (1)

Tafsir al-Huda dicetak dalam satu jilid tebal, yang mencapai seribu halaman lebih. Format tulisan dalam tafsir ini terbagi menjadi empat bagian. Pertama, teks Arab yang berada di posisi bagian kanan. Kedua, transliterasi dengan huruf latin berada tepat di bawah teks Arab. Ketiga, terjemah ayat yang berada di sebelah kiri. Keempat, penjelasan berada di bawah seperti footnote.

Ilmu Sangkan Paran dalam Tafsir Al-Huda

Nuansa-nuansa budaya Jawa dalam tafsir al-Huda sangat terasa. Selain dengan bahasa yang digunakan, terdapat istilah-istilah lain yang semakin menguatkan nuansa lokal Jawa dalam tafsir tersebut. Salah satunya ungkapan “Sangkan Paraning Dumadi”.

Ungkapan di atas sangat populer di kalangan orang Jawa. Karena ungkapan tersebut merupakan salah satu ajaran yang diajarkan oleh para leluhur tanah Jawa. Ungkapan tersebut terdiri dari tiga rangkaian kata, ‘sangkan’ yang berarti berasal, ‘paraning’ berarti tujuan, dan ‘dumadi’ yang berarti menjadi, yang menjadikan atau pencipta. Berarti secara istilah sangkan paraning dumadi disebut sebagai “darimana manusia berasal dan akan kembali kemana”.

Ungkapan ini meski singkat dan padat, namun jika digali lebih dalam akan penuh dengan makna. Ungkapan ini berasal dari pitutur-pitutur leluhur Jawa yang dapat ditelusuri, salah satunya dalam serat Wulangreh karya Pakubuwono IV.

Ajaran ini juga biasa disebut dengan “Ilmu Sangkan Paran”. Ilmu ini mengajarkan bagaimana hakikat hidup dan bagaimana cara menyikapi hidup di dunia. Dalam konsep sangkan paran, tujuan akhir setiap manusia adalah Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, para leluhur Jawa mengajari para penduduk Jawa dengan nilai-nilai berbudi luhur seperti, jujur, adil, sabar, dan lain sebagainya.

Keselarasan Dua Dimensi

Konsep ini mengajarkan keselarasan dua dimensi, lahir dan batin. Dari sisi lahir terwujud dalam alam badaniah dan segala materi yang dapat di indra. Sementara dari sisi batin terwujud dalam dunia ruh beserta hal-hal lain yang berkaitan dengan dunia abstrak. Keselarasan ini sesuai dengan konsep Islam yang mengajarkan kemoderatan. 

Baca Juga  Penafsiran Ibnu 'Asyur (1): Penafsiran Ayat-Ayat Tauhid Hakimiyah

Dalam dunia tasawuf, konsep sangkan paran selaras dengan konsep tasawuf Sunni Ortodox yang terlahir dari pemikiran al-Ghazali. Dimana ajaran yang ia tuturkan menyelaraskan dimensi syariat dan hakikat.Dari sebagian penafsiran Bakri dalam Tafsir al-Huda, tampak menggunakan istilah ini pada beberapa ayat untuk menjelaskan isi yang  terkandung dalam suatu ayat.

Dengan penjelasan demikian, pada dasarnya Bakri berharap untuk menjadikan tafsirnya agar mudah dipahami oleh masyarakat pembacanya yang mayoritas orang Jawa. Dengan penjelasan tersebut, Bakri telah menerobos teks Al-Qur’an yang ‘terbatas’ dan mendialogkan konteks ‘yang tak terbatas’.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho