Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Bahaya Penafsiran dengan Pendapat Pribadi (Bira’yi)

Sumber: https://pt.dreamstime.com/ilustração-stock-/

Berbagai metode dan pendekatan telah digunakan untuk memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, ada metode yang perlu dan wajib dihindari dalam tafsir Al-Qur’an. Yakni, metode dengan pendapat pribadi atau lebih dikenal dengan tafsīr bira’yī.

Dalam artikel ini, akan diuraikan secara singkat definisi tafsir bira’yī dan pembagiannya. Selanjutnya, akan disampaikan mengapa ia bahaya dan bagaimana jenis bahaya tersebut. Mari kita simak penjelasan ringkasnya!

Maksud Metode Tafsir Bira’yī

Metode ini bermakna bahwa seseorang datang kepada Al-Qur’an bukan berposisi menjadi murid, melainkan menjadi guru bagi Al-Qur’an. Dengan kata lain, ia datang dengan membawa pendapat pribadinya kemudian dicarikan ayatnya untuk mendukung pendapatnya.

Metode memahami Al-Qur’an seperti ini adalah pemaksaan terhadap Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an coba dicocokkan terhadap kepentingan pribadinya. Atau, dalam bahasa yang lebih popular dikenal dengan adalah “Politisasi Al-Qur’an”.

Pada hakikatnya, ini bukanlah tafsir Al-Qur’an, melainkan pemaksaan atau bahasa kasarnya “pemerkosaan” terhadap Al-Qur’an. Alih-alih menjadikan Al-Qur’an menjadi petunjuk, malahan ia terjerumus pada kesalahan dan penyimpangan yang membawanya pada jurang ketersesatan. Hasilnya, Al-Qur’an hanya dijadikan alat untuk mendukung dan melegitimasi pandangan pribadinya. Dan ini adalah paling berbahayanya metode dalam penafsiran Aqluran.

Istilah dan Pembagiannya

Dalam disiplin ilmu tafsir, metode ini sangat dijauhi karena di dalamnya terkandung kecenderungan pribadi. Dari segi istilah dan penamaan, menurut pembagian yang datang dari Adz-Dzahabi, tafsīr bira’yī ada dua macam. Pertama, tafsīr bira’yī mamdūh (yang diperbolehkan) dan tafsīr bira’yī madzmūm (yang dilarang). (Tafsir wa Al-Mufassirūn, Adz-Dzahabi)

Adapun menurut pembagian Ali Ridho Isfahani, tafsir bira’yī yang diperbolehkan disebut tafsir bliaqlī ijtiihādī. Sementara tafsir bira’yī adalah dilarang. Pendapat ini sama saja, hanya berbeda dalam istilah penamaan. Artinya, keduanya menolak metode tafsir bira’yī yang madzmūm. (Manāhij at-Tafsir wa al-Ittijahātuhu)

Terlepas dari perbedaan istilah dan penamaan, tafsir dengan pendapat sendiri sebagaimana yang telah dijelaskan memang terlarang dan sangat berbahaya, bahkan pada level sesat sekaligus menyesatkan.

Baca Juga  Al-Quran dan Jihad Lingkungan Muhammadiyah

Bahaya Tafsir Bira’yī

Metode semacam ini bukan hanya sesat, tapi juga menyesatkan. Tampaknya membawa nilai Al-Qur’an, padahal di dalamnya terkandung pendapat pribadi yang ingin disampaikan dengan nama Al-Qur’an, atas nama Al-Qur’an.

Kita semua perlu berhati-hati dengan metode tafsir semacam ini. Jika tidak diwaspadai, penafsiran semacam ini hanya akan membawa kita pada titik terjauh dari nilai-nilai Al-Qur’an. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa:

Artinya: “Barang siapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri (bira’yīhi), maka tempatnya adalah adalah neraka”.

Dengan ini semoga dapat menambah pengetahuan kita tentang metode tafsir yang baik dan buruk dalam rangka memahami Al-Qur’an. Dan semoga setiap dari kita dapat terhindar dan menghindari tafsir dengan pendapat pribagi yang berbahaya ini. Kemudian kita datang ke hadapan Al-Qur’an hanya semata-mata menjadi murid yang membutuhkan pencerahan dan petunjuk pada jalan kebenaran dan kebijaksanaan.

Wallahu’alam bishawab.