Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Bagaimana Menafsirkan Al-Qur’an dengan Pendekatan Semiotika?

Semiotika
Gambar: binus.ac.id

Al-Qur’an seperti yang diketahui mengandung berbagai macam mukjizat yang dapat dilihat dari berbagai aspek. Baik itu dari sisi pemilihan katanya, rangkaian kalimat yang indah, hingga informasi dan berbagai ilmu yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa al-Qur’an memiliki keunikan tersendiri apabila dibandingkan dengan teks-teks maupun kitab lainnya.

Keunikan al-Qur’an tersebut telah memikat hati para ilmuwan untuk mengkaji dan menyelami berbagai makna yang terkandung di dalam al-Qur’an. Dengan berbagai bentuk metode dan pendekatan. Al-Qur’an yang dikemas dengan bahasa Arab sebagai bahasa ibu utusan-Nya dapat dianggap sebagai kode maupun simbol yang digunakan Allah SWT dalam menyampaikan ajaran-ajarannya. Di samping itu sebagai mukjizat yang diturunkan untuk menantang kaum Arab jahiliyah yang begitu membanggakan bahasa dan syair-syair mereka.

Maka berangkat dari fakta tersebut, sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri merupakan simbol yang dipilih oleh Allah SWT. Oleh karenanya sebagai sebuah simbol, al-Qur’an sangat mungkin untuk diluaskan kandungan maknanya dengan menggunakan pendekatan semiotika.

Mengenal Semiotika dan Sejarahnya

Kata “semiotika” berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda. Sebagai suatu disiplin ilmu, semiotika ini merupakan ilmu yang mengkaji mengenai peran tanda sebagai bagian dari kehidupan social. Bisa juga diartikan sebagai ilmu tentang tanda. Dengan kata lain, objek studi dari semiotika yang akan kita bahas ini ialah tanda. Dengan kata lain, ruang lingkup semiotika ini bergantung dari seluas apa seseorang dalam memaknai tanda (Sanusi, 2011, hal. 157.)

Pertanyaan mendasar dalam tulisan ini ialah, bagaimana jika semiotika ini diterapkan dalam kajian al-Qur’an? Maka lahirlah sebuah cabang yang menarik dengan nama semiotik al-Qur’an. Semiotika al-Qur’an merupakan penafsiran yang cenderung melihat pada analisa mengenai bagaimana sistem penandaan berfungsi kepada teks al-Qur’an. Dan menafsirkan kode di balik tanda dari teks al-Qur’an tersebut.

Baca Juga  Memahami Al-Qur'an Tidak Cukup dengan Terjemahan

Di samping itu, jika berbicara mengenai sejarah semiotik, maka tokoh yang berperan besar dalam kajian ini ialah Charles Sanders Pierce dan Ferdinand de Saussure. Mereka dikenal dengan bapak semiotika modern. Semiotika sendiri pada awalnya merupakan salah satu cabang ilmu filsafat dan hanya berkembang pada bidang bahasa. Namun seiringnya waktu berkembang lagi dan merambah ke dalam bidang seni.

Menurut Arkoun, al-Qur’an dapat menjadi objek kajian ilmiah dengan pendekatan semiotik tersebut. Karena al-Qur’an menggunakan bahasa sebagai media dan itu menjadikannya sebagai tanah yang subur bagi kajian semiotika ini.

Menafsirkan Al-Qur’an dengan Pendekatan Semiotika

Tafsir semiotik yang dimaksud dalam tulisan ini ialah model penafsiran yang lebih melihat pada analisa mengenai bagaimana sistem penandaan itu berfungsi pada teks al-Qur’an. Dalam konteks bahasa sebagai tanda, maka aspek penandanya itu berupa kata yang dapat dibaca. Sementara pertandanya berupa makna dari kata tersebut.

Masih bingung? Penulis akan memperlihatkan contoh dari kata “ibu”. Kata “ibu” merupakan penanda yang mengacu kepada “manusia jenis perempuan yang dapat melahirkan manusia”. Maka penjelasan mengenai ibu tadi sebagai petandanya.

Penulis mengambil surah al-Anfal ayat 60 sebagai contohnya. Kemudian akan ditafsirkan dengan menggunakan pendekatan semiotik yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Pierce.

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Contoh Penafsiran

Tanda yang akan dikaji dengan pendekatan semiotika ialah kata (تُرْهِبُونَ) yang berasal dari kata (رْهِب) yang memiliki arti takut atau gentar. Mayoritas mufassir menjelaskan bahwa kata (تُرْهِبُونَ)  berarti menakut-nakuti. Dan kata tersebut memiliki posisi sebagai penanda. Di samping itu, petanda dari lafal tersebut berupa konsep yang muncul dari kata (تُرْهِبُونَ)  yang dapat berupa tindakan menakut-nakuti saja, atau bisa juga muncul konsep lain dari kepala kita ialah tindakan menakut-nakuti diikuti dengan tindakan gangguan, ancaman ataupun  teror.

Baca Juga  Mengenal 4 Keistimewaan Surat Al-Fatihah

Disini lewat pendekatan De Saussure dapat ditegaskan bahwa hubungan antara penanda (تُرْهِبُونَ)  dengan petanda darinya yang berupa ” menakuti-nakuti/menggetarkan” itu bersifat sewenang-wenang. Berbeda dengan pendekatan semiotik Pierce terhadap ayat tersebut. Ia memposisikan kata (تُرْهِبُونَ)  sebagai tanda. Kemudian tanda tersebut “takut” akan dihubungkan dengan objek yang berupa “kekuatan militer”.

Dari hubungan tersebut, akan muncul suatu interpretasi bahwa tindakan “menakut-nakuti” sama dengan “pengerahan kekuatan militer” Maka menurut semiotika versi Pierce akan dihubungkan dengan objek “meneror”. Dan hubungan tersebut lagi-lagi menghasilkan interpretasi yang baru yaitu “menakut-nakuti disertai dengan tindakan terror”. Maka demikianlah proses semiotik ini berlangsung. Sehingga dalam proses tersebut akan dikembangkan dan ditemukanlah makna-makna yang baru dari sebuah teks.

Kesimpulan

Penafsiran teks al-Qur’an dengan pendekatan semiotika ini akan senantiasa memunculkan ragam makna dan penafsiran atas ayat-ayat al-Qur’an yang akan ditafsirkan. Tentu, hal tersebut akan lebih memudahkan bagi umat Islam secara khusus. Terutama dalam menerapkan ajaran-ajaran al-Qur’an dan menjadikannya sebagai petunjuk maupun hidayah dengan lebih luas.

Namun perlu untuk diperhatikan, sesungguhnya penafsiran dengan pendekatan yang seperti ini bukan satu-satunya model yang ideal dalam menyelami dan mengungkapkan makna al-Qur’an. Oleh karenanya, masih diperlukan berbagai macam pandangan, perhatian dan kontribusi para kaum akademis dalam mempertimbangkan model pendekatan seperti ini.

Penyunting: Bukhari