Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ketika para malaikat mengajukan sebuah pertanyaan, sebagaimana yang tercantum dalam Q.S. al-Baqarah (2) ayat 30: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”. Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.“ ...

Padahal, adanya embel-embel Islam Nusantara, atau Islam Berkemajuan, adalah manifestasi dari zaman yang terus berkembang. Ia adalah akibat dari perkembangan pemikiran manusia. Sementara, Islam dengan doktrinnya yang bersifat tetap, perlu hidup berdampingan dengan realitas yang baru. Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawaz mengemukakan dalam salah satu ceramahnya–yang sesungguhnya adalah kajian buku yang ia tulis: “Mulia dengan Manhaj Salaf”, bahwa Islam ...

Cak Nur kita tahu adalah sapaan akrab dari Nurcholish Madjid, sosok raksasa pemikiran Islam Indonesia itu. Tanggal 17 maret ini (2021) diperingati hari kelahirannya oleh orang-orang yang masih bersimpati, bagi mereka yang mengidolakan pemikiran-pemikirannya. Dua tahun yang lalu, lima bulan berlalu usai Harlah Cak Nur, kumpulan karyanya diterbitkan: seluruh karya-karyanya dalam bentuk buku dihimpun menjadi satu buku setebal 5.030-an halaman. ...

“Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan, dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu, untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan.” (QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 40-41) *** Akhir-akhir ini saya lebih banyak membaca tentang hal-hal yang bertemu (sinkretik). Misalnya soal pertemuan Islam dan Komunisme di Surakarta di ...

Rabu, 25 Maret 2015, K.H. Moqsith Ghazali pernah menjadi panelis dalam forum Sekolah ICRP Megawati Institute, mengulas tradisi seksual dalam Islam dengan tema “Teks Erotis dalam Agama-agama”, bersama Dr. Saraswati Dewi Putri, dosen filsafat Universitas Indonesia. Membicarakan seksualitas, demikian Kiai Moqsith, begitu tabu di kalangan umat Islam. Sebab sumber utama ajaran Islam, yakni al-Quran dan hadis tidak pernah membahas masalah ...

Menghidupkan kembali (H.O.S) Tjokro(aminoto) di masa sekarang bukanlah perkara mudah. Bukan jasadnya, tapi pikiran-pikirannya, kepribadiannya, juga tindakan-tindakannya. Salah satu upaya menghidupkan Tjokro adalah dengan menuliskan atau terus-menerus merefleksi pikiran-pikiran Tjokro. Seperti yang dilakukan oleh Kasman McTutu dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Reinventing Tjokro: Meneroka Ulang Serpih Adicita Jang Oetama”. Buku itu adalah kumpulan esai yang awalnya terserak baik di media ...

Mengapa para aktivis lingkungan yang tidak gemar memakai atribut religius? Bukankah itu jauh lebih saleh secara ekologis ketimbang kita yang tiap hari hanya bicara agama? Saat alam diusik, merekalah yang lebih dahulu tergerak untuk berteriak. Contohnya, ketika kawasan hutan adat Kinipan di Kalimantan digunduli hampir setengahnya untuk ditanami sawit, dan menghasilkan dampak lingkungan berupa banjir yang melanda 5.926 jiwa, 55 ...

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56) Sementara orang, menganggap bahwa ibadah itu untuk memuliakan dan mengagungkan Tuhan. Kalau demikian, berarti jika seluruh ataukah sebagian manusia tidak menyembah, Tuhan tidak akan menjadi mulia? Murtadha Muthahhari menolak anggapan seperti itu. Ibadah dilakukan bukan demi kepentingan Tuhan, tetapi demi hamba itu sendiri. Ketika seorang ...

Hamid Algar membedakan antara Salafi dan Wahhabi dalam dua hal: “Pertama, kaum Salafi lebih menekankan persuasi dari pada pemaksaan dalam rangka mengajak kaum muslim untuk menerima pandangan mereka. Kedua, kaum Salafi memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-ekonomi yang melanda dunia Islam.” (hal. 61) Perbedaan Ibnu Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyah Memang dalam riwayatnya, Ibnu Abdul Wahhab menghabiskan ...

Delapan belas tahun yang lalu, Hamid Algar menunjukkan ketidaksukaannya kepada Wahhabisme dalam sebuah buku tipis. “Wahhabism: A Critical Essay”, begitulah buku itu diberi judul. Dialih bahasa ke dalam edisi cetak bahasa Indonesia oleh Yayasan Paramadina tahun 2008. Versi digital diterbitkan oleh Democracy Project tahun 2011, dengan judul “Wahhabisme: Sebuah Tinjauan Kritis”. Pihak Yayasan Paramadina dalam pengantarnya memuji buku ini: “Inilah ...