Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ash-Shiddiqah Al-Adzra’: Kisah Wanita Mulia dalam Al-Qur’an

ash-shiddiqah
Gambar: INews.id

Dalam bahasa Arab, lafaz ash-shiddiqah berasal dari kata shadaqa yang artinya benar atau jujur. Sedangkan al-adzra’ artinya anugerah, perawan, suci. Jadi ash-shiddiqah al-adzra’ artinya seorang perempuan yang jujur dan perawan atau suci. Namun tidak semua yang perawan memiliki julukan ash-shiddiqah al-adzra’. Nama laqab ini hanya dimiliki oleh seseorang yang dimuliakan oleh Allah Swt dengan anugerah yang agung.

Lahir dari keluarga yang taat beribadah dan terpandang di kalangan kaumnya. Seorang anak perempuan dari pemimpin Bani Israil pada masa itu, yang nasabnya sampai pada Sulaiman ibn Dawud. Seorang perempuan yang sangat mulia dan utama yang dinazarkan oleh kedua orang tuanya untuk mengabdi pada rumah Tuhannya. Ibu dari sang pemimpin umat, dan wanita yang telah dijanjikan oleh Tuhannya surga yang penuh dengan kenikmatan di dalamnya.

Wanita mulia tersebut tidak lain adalah Maryam binti Imran. Ia mendapat gelar ash-shiddiqah al-adzra’. Ayahnya bernama Imran bin Matsan, sedangkan ibunya bernama Hannah binti Faqudz. Keagungan besar telah diberikan oleh Allah Swt kepada Maryam dengan kelahiran Isa, seorang nabi yang diutus oleh Allah pada kaum Hawariyyun. Allah Swt telah memilih Maryam menjadi penerima anugerah yang agung, sebagaimana yang terdapat dalam Qs Ali-Imran: 42-43.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata, ‘Hai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu atas semua wanita di dunia (yang semasa denganmu). Hai Maryam’, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk’.”

Maryam binti Imran adalah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah Swt kepada orang tuanya yang telah lama mengharapkan kehadiran sang buah hati. Pada waktu itu, Hannah binti Faqudz yang usianya semakin menua dan belum melahirkan anak sampai ia berhenti dari haidnya (menopause) melihat seekor burung yang memberikan makanan pada anaknya. Hal itu membuat ia sangat merindukan sosok anak yang bisa ia rawat sebagaimana burung tersebut.

Baca Juga  Perempuan dan Laki-Laki dalam Islam memiliki Peran yang Sama
***

Sebagai bukti keimanan dan keteguhan hatinya dalam berharap pada Allah swt, Hannah binti Faqudz bernazar kepada Allah. Apabila ia memiliki seorang anak laki-laki akan diberikan kepada Baitul Maqdis sebagai seseorang yang mengabdi pada Tuhannya. Allah Swt Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan berbagai permintaan hambaNya yang shaleh. Maka beberapa hari kemudian ia hamil di usianya yang tua dan telah menopause.

Akan tetapi Hannah binti Faqudz tidak melahirkan anak laki-laki, sehingga menurutnya tidaklah mungkin anak perempuan menjadi pelayan Baitul Maqdis. Anak perempuan tersebut diberi nama Maryam. Namun karena keteguhan imannya kepada Allah Swt, setelah Maryam kecil disapih, ibunya membawa Maryam ke Baitul Maqdis untuk menepati nazar yang telah ia ucapkan sebelumnya.

Pada akhirnya, Maryam hidup dan dibesarkan oleh Nabi Zakariya yang merupakan suami dari bibi Maryam dan seorang nabi yang dapat dipercaya. Sejak kecil, Maryam dibuatkan sebuah mihrab di dalam masjid dan tidak seorang pun yang diperbolehkan masuk selain Nabi Zakariya. Dengan adanya mihrab tersebut diharapkan Maryam lebih khusyuk dalam beribadah dan lebih mudah melaksanakan tugasnya dalam melayani Baitul Maqdis.

Di dalam mihrab tersebut, Allah Swt selalu memberikan makanan kepadanya. Mulai dari buah-buahan musim dingin, padahal pada saat itu musim panas, dan buah-buahan musim panas, padahal pada saat itu musim dingin. Sampai makanan yang tidak pernah didapatkan oleh manusia mana pun. Sampai pada masa usia Maryam kurang lebih 13 tahun, kemudian Allah meniupkan ruh dalam rahim Maryam yang suci dan tidak pernah melakukan hal keji apapun.

***

Ketika perut Maryam mulai membesar, ia menjauh dari kaumnya karena takut akan hinaan dan cacian orang-orang di sekitarnya. Beberapa hari kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki dari rahim Maryam di bawah pohon yang rindang. Hal itu membuat Maryam semakin sedih. Ia takut dan cemas karena ia tidak memiliki suami dan tidak pernah berbuat hal keji dan hina sekecil apapun namun ia dapat melahirkan seorang anak. Entah seberapa besar hinaan dan cacian yang akan ia dapatkan dari orang-orang di sekitarnya.

Baca Juga  Pembakaran Al-Qur'an: Antara Citra Islam dan Kebebasan Berpendapat

Tidak lama kemudian, bayi kecil dalam pangkuan Maryam memanggilnya dan berbicara dengannya. Kesedihan dan kecemasan Maryam langsung tergantikan dengan rasa tenang setelah mendengar ucapan dari bayi kecilnya tersebut. Ia yakin bahwa ini adalah bentuk kemuliaan dan keagungan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Bayi laki-laki tersebut bernama Isa, yang kelak akan menjadi nabi Allah dan pemimpin umat.

Sesampainya Maryam kepada kaumnya dengan membawa seorang bayi, tidak sedikit yang melontarkan cacian kepadanya. Namun sebelumnya hati Maryam telah dibuat teguh dan kuat oleh ucapan bayi kecil tersebut. Untuk menjawab cacian dan hinaan dari kaumnya, Maryam menunjuk ke arah bayinya sebagai isyarat agar mereka berganti menanyakan bayi tersebut dan tidak lagi menanyakannya.

Namun hal itu semakin membuat mereka marah dan merasa terhina. Karena tidak mungkin bayi yang baru lahir bisa berbicara. Isa kecil tidak membiarkan ibunya mendapatkan cacian lebih banyak lagi. Kemudian ia menjawab bahwa dirinya adalah hamba Allah sekaligus seorang nabi yang telah diberikan kepadanya al-Kitab (Injil) sebagai pedoman dalam kehidupan mereka.

Ketika mendengar itu, keraguan ulama Bani Israil hilang dan mereka meyakini bahwa kelahiran Isa dan hamilnya Maryam adalah salah satu keagungan Allah Swt. Namun juga banyak dari kaum Bani Israil yang membenci dan tidak meyakini kejujuran Maryam dan putranya. Maryam binti Imran melanjutkan kehidupan bersama putranya dengan penuh keikhlasan, kezuhudan, ke-iffah-an, dan diberkahi oleh Allah Swt.

***

Demikianlah suatu hal yang menjadikan Maryam binti Imran memiliki julukan ash-shiddiqah al-adzra’. Sang wanita yang benar, jujur, dan suci. Allah Swt menjaga kesucian dan kemuliaan Maryam dengan mengabadikan kisahnya dalam Al-Qur’an: surah Maryam. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Maryam binti Imran wafat di usianya yang ke 53 tahun dan dimakamkan di Baitul Maqdis. Maryam binti Imran juga dikenal sebagai satu dari empat perempuan besar dan mulia dalam agama Hanifiyah.

Baca Juga  Review Buku: Fahmi Salim dan Penolakan yang Bernuansa Hermeneutis

Penyunting: Bukhari

Zakiyatun Najwa
Mahasiswi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya