Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Aplikasi Tafsir Maqashidi Pada Ayat-Ayat Jihad

Sumber: https://depositphotos.com/vector-images/jihad.html

Dewasa ini, diskursus moderasi beragama sedang hangat-hangatnya untuk dikaji. Hal ini disebabkan oleh adanya kelompok yang berpandangan ekstrem dalam beragama terutama dalam memaknai ayat Al-Qur’an. Tidak jarang, paham ekstrem ini menjadi pemicu gerakan intoleran, kekerasan, hingga jihad untuk menegakan sistem khilafah.

Fenomena ini sering kali menjatuhkan korban termasuk orang-orang yang tidak berdosa sekalipun. Sebagai contoh adalah gerakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Juga lone wolf penyerangan terhadap Mabes Polri di Jakarta, dan terduga teroris di Bantul, Yogyakarta.

Tindakan kekerasan atas nama agama tidak lepas dari pemahaman intoleran. Hal ini bermula dari pembacaan secara parsial dan literal terhadap ayat Al-Qur’an. Selain itu, sumber pengetahuan yang kurang dan emosional. Ditambah semangat keagamaan yang menggebu-gebu, tanpa dibarengi pemahaman yang lurus.

Tafsir Maqashidi

Abdul Mustaqaim, sebagai Guru Besar bidang Ulumul Qur’an UIN Sunan Kalijaga menawarkan sebuah metodologi keilmuan sebagai basis moderasi Islam. Ia mengatakan:

“Ekstremisme dalam beragama seringkali disebabkan oleh pola pikir ekstrem (taharruf) dalam memahami teks-teks keagamaan (al-Qur’an dan Hadis) secara rigid, tidak mempertimbangkan dinamika konteks dan maqashid. Sehingga perlunya menelisik pemikiran Tafsir Maqashidi secara historis-kronologis sebagai argumentasi dan basis epistemik untuk meneguhkan dan mengembangkan moderasi Islam.”

Interpretasi dengan pendekatan Tafsir Maqashidi memerhatikan aspek linguistic. Kemudian dari ayat-ayat yang dikumpulkan secara tematik dan konteksnya untuk diketahui tiga hal.

Pertama, maqashid. Kedua, prinsip maqashid al-Qur’an. Ketiga, analisis ayat dengan integrasi dan interkoneksi berbagai cabang keilmuan. Agar tafsir lebih moderat dan komprehensif. Dalam rangka memahami ketiga hal tersebut, penulis melakukan langkah-langkah metodologis sebagai berikut.

Ayat-Ayat Jihad

Tafsir Maqashidi sebagai bentuk respon moderasi Islam dapat diaplikasikan kepada ayat-ayat perang atau jihad. Seperti dalam surat at-Taubah ayat 36. Artinya:“dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya.”

Surat at-Taubah ayat 123. Artinya: “wahai orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu.”, Dan surat at-Taubah ayat 5. Artinya: “apabila  telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian.”

Ayat diatas apabila dimaknai secara tekstual, atau hanya dibaca sepotong terkesan Islam mengajarkan berbuat kerusakan dan kekerasan. Hal ini juga yang biasanya dipakai sebagai dalih Islam agama perang oleh mereka yang benci terhadap Islam.

Baca Juga  Tafsir Surat Az-Zumar ayat 53: Inilah Ayat yang Penuh Harapan

Adapun konsep jihad atau berperang melawan orang kafir bentuknya adalah untuk mempertahankan jiwa dan agama. Selain itu, konsep jihad harus disesuaikan dalam hal apa musuh menyerang, misalnya : intelektual dibalas intelektual, tidak serta merta perang itu saling mengangkat pedang.

Aplikasi Tafsir Maqashidi Terhadap Ayat Jihad

Berbeda halnya ketika jihad dibedah dalam perspektif Tafsir Maqashidi. Perlunya mengumpulkan ayat secara tematik supaya pembacaan lebih komprehensif. Dengan begitu, pesan, maksud dan spirit ayat dapat diperoleh.

Dalam ayat yang lain yaitu Q.S. 22: 39-40 Allah menegaskan kebolehan jihad atau berperang dalam kondisi diserang. Namun dalam artian apabila tidak mempertahankan diri maka jiwa dan agama Islam akan musnah tidak sampai kepada kita sekarang bukan semena-mena menyerang secara general.

Maqashid ayat tersebut bahwa Islam mencari jalan perdamaian sebelum akhirnya menggunakan jihad sebagai jalan terakhir. Adapun jihad yang dilakukan pada zaman Nabi adalah untuk melawan kezaliman atas ketidakbebasan dalam menyebarkan agama. Bukan sebagai legitimasi berbuat kerusakan atau menakuti orang-orang.

Dalam konteks Indonesia, memaknai ayat jihad dalam artian berperang sudah tidak relevan lagi. Secara sosiografis, masyarakat Indonesia mendominasi dan tidak dalam keadaan terancam. Secara historis, dirumuskannya negara ini dalam bentuk Republik Indonesia merupakan sikap moderat kyai, ulama dan pemuka agama lain dengan tidak menjadikan negara ini sebagai negara Islam.

Jika ditelusuri kepada zaman Nabi, ulama kita meneladani sikap moderat Nabi di Madinah dengan masyarakat yang heterogeny. Sehingga, terbentuknya Piagam Madinah sebagai konstitusi yang mengatur segala aspek kehidupan antar umat beragama.

Reintepretasi Ayat Jihad

Hasilnya, kekerasan atas nama agama tidak dapat dibenarkan. Perlunya pemahaman secara komprehensif terutama dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an yang berpotensi disalahpahami. Ayat tidak boleh dibaca secara parsial, atomistik atau bahkan mengabaikan konteks.

Baca Juga  Ketika Sinyal Iman Melemah

Selain itu, emosi keagamaan perlu dikontrol supaya tidak berlebihan dalam beragama. Bahkan Nabi pun menegur Abdullah bin Amr bin Ash yang terlalu bersemangat dalam beragama hingga melupakan bagiannya di dunia. Sehingga perlunya keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan sebagai karakter umat yang moderat.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat diambil beberapa point. Pertama, parsial dan berlebihan dalam memaknai teks keagamaan menyebabkan ekstremisme dalam beragama. Kedua, memaknai jihad secara tekstual tidak relevan dengan zaman sekarang.

Adapun yang ketiga, adanya pembacaan Tafsir Maqashidi terhadap ayat Jihad memberikan penafsiran yang lebih kompresif, dinamis dan moderat untuk diaplikasikan dalam konteks keIndonesiaan yaitu menjungjung tinggi perdamaian. Keempat, perbuatan radikalisme, terrorisme dengan mengatasnamakan agama, jihad tidak dapat dibenarkan karena konsep jihad untuk zaman sekarang bukanlah demikian.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho