Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Aplikasi Hermeneutika Paul Ricoeur pada Ayat Idul Adha

Sumber: https://www.masvian.com/2020/06/

Paul Ricoeur dilahirkan di Valence, Perancis, tahun 1913. Ia meninggal pada tahun 2005. Ia adalah seorang professor filsafat yang mengembangkan hermeneutika sebagai sistem interpretasi. Konsep paling menarik dari Ricoeur adalah dinamika teks.

Hermeneutika Paul Ricoeur

Pendekatan hermeneutika tidak lagi terlalu disibukkan untuk mengungkap maksud pengarang maupun kondisi ketika teks itu dibuat. Penekanannya ada pada makna objektif yang dikandung oleh suatu teks. Karenanya tugas hermeneutika hanyalah dua. Yakni: mencari dinamika yang terdapat dalam teks dan mencari “kekuatan” yang dimiliki teks itu agar “kekuatan” itu dapat muncul ke permukaan.

Menurutnya, suatu teks selalu berada di antara objektifitas gramatikal dan subjektifitas penafsir. Pemahaman maupun prasangka sebelumnya yang dimiliki penafsir terhadap suatu teks dapat mempengaruhi objektifitas teks itu sendiri. Oleh karenanya, untuk mengatasi pemisahan subjektif dan objektif ini penafsir perlu melakukan dua hal mendasar.

Pertama, pembebasan teks” (dekontekstualisasi). Hal ini untuk menjaga otonomi teks dari maksud pengarang (teks), kondisi lahirnya teks (konteks), dan khalayak kepada siapa teks itu dimaksudkan (kontekstualisasi). Kedua, melakukan rekontekstualisasi untuk menempatkan teks pada konteksnya yang mutakhir.

Konsep Ricoeur memungkinkan suatu teks menemukan pemahaman baru yang relevan, menembus ruang dan waktu. Teks yang disampaikan di masa lalu dan memiliki dinamika yang kuat tidak akan kehilangan eksistensinya. Selain itu, pemaknaan teks akan selalu menemukan aktualisasinya dengan realitas zaman.

Aplikasi Hermeneutika Pada Ayat Idul Adha

 Adapun, jika kita aplikasikan pada Al-Qur’an akan relevan. Selanjutnya akan diaplikasikan pada ayat yang berkenaan dengan hari raya Idul Adha. Yaitu surat al-Hajj ayat 34, berbunyi:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Baca Juga  Relasi Takbir dan Hari Raya di dalam Al-Qur’an

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”.

Ayat diatas menjelaskan tentang penyembelihan hewan kurban yang dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah. Perintah disyariatkannya penyembelihan hewan kurban ini diperuntukan bagi setiap umat di antara umat terdahulu. Bertujuan agar bersyukur atas nikmat rezeki yang telah Allah berikan kepadanya. Menyembelih hewan juga dimaksudkan untuk orang yang beriman menyebut nama Allah. Karena ketika menyembelih hewan ternak, hal itu adalah anugerah yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka.

Oleh karena itu, mantapkanlah dalam ucapan, pikiran, dan perasaan bahwa Allahlah yang Maha Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Maka barang siapa yang berserah diri, taat dan tunduk patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Ia akan diberikan kebaikan di dunia dan mendapatkan syurga di akhirat.

Rekontekstualisasi Ayat Idul Adha

Jika kita rekontekstualisasi seperti yang digambarkan Hermenetika Ricoeur, maka ayat ini begitu relevan untuk diaplikasikan sampai sekarang. Ayat ini mempunyai dinamika yang kuat serta menembus ruang dan waktu (sholih likulli zaman wa makan).

Sebagaimana kita ketahui pada zaman sekarang, hal ini menjadi ibadah kaum muslimin yang dilaksanakan setiap tahunnya. Kejadian Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail yang diganti dengan domba menjadi suatu kisah yang sangat luar biasa. Agar setiap manusia dapat bersabar atas segala ujian dan bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia seluruhnya.

Pelaksanaan ibadah kurban dilangsungkan pada tanggal 10 Dzulhijjah yang diawali dengan sholat Idul Adha. Setelah penyembelihan hewan Kurban selesai, semua daging sembelihan dibagikan kepada setiap orang, terutama kepada kaum fakir dan miskin. Ini bertujuan agar setiap orang yang kurang mampu membeli daging dapat menikmati santapan daging. Walaupun hanya terbilang satu tahun satu kali.

Baca Juga  Mufasir Progresif (2): Isu-Isu yang Menjadi Perhatian

Hikmah lainnya adalah agar setiap orang bertambah rasa syukurnya atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Maka dengan adanya penyembelihan hewan kurban ini, kaum Muslim dapat meningkatkan kembali keimanan. Begitu juga rasa syukur, sabar serta ibadah kepada Allah yang Maha Esa.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho