Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Analisis Makna Wahyu dengan Teori Semantik Toshihiko Izutsu

izutsu

Bagi kalangan muslim, baik bagi kalangan awam ataupun cendekiawan, istilah wahyu tetunya tidak asing. Dalam memaknai, memberikan pengertian, dan memberikan hakikat makna kata Wahyuu, maka perlu menoleh kajian menurut pandanagn semantik. Salah satunya dalam hal strukturnya. Perlu diketahui bahwa  istilah wahyu telah digunakan pra-Islam, bukan hanya masa Islam.

Makna Wahyu Pra-Islam 

Pada masa pra-Islam, istilah wahyu difahami sebagai komunikasi. Menurut pandangan semantik, komunikasi termasuk dikategorikan ke dalam bagian kata yang berhubungan dengan dua orang, ada dua orang yang ada di dalam arena. Agar mudah difahami penulis mengambil contoh dari analog yang telah dipaparkan dalam buku “Relasi Tuhan dan Manusia”, karya Toshihiko Izutsu.

Izutsu memberikan analog dengan pihak A dan B. Komunikasi yang ada berbentuk unilateral, tidak ada hubungan timbal-balik diantaranya. Namun sebatas pengiriman kehendak atau pikiran dengan sarana isyarat atau isyarat-isyarat dari pihak A ke-B. Isyarat yang diberikan tidak harus berupa kata-kata, dan tipe komunikasi yang ada diantaranya bersifat esoterik, hal rahasia atau pribadi. Sehingga komunikasi-nya sering dianggap sempurna karena detailnya hal yang disampaikan.

Hal demikian bisa didapati dalam syair dari Al-Qamah al-Fahl, seorang penyair terkenal pada masa pra-Islam:

يوحى إليها بإنقاض ونقنقه # كما تراطن في افدانها الروم

“Burung unta jantan berbicara kepadanya (yuhi, bentuk verbal yang berkaitan degan wahyu) dengan suara gemeretak (inqad merupakan bahasa burung unta) dan naqnaqah (peniruan bunyi gemeretak burung onta) sebagaimana oang Yunani berbicara satu sama lain dengan bahasa yang tidak diketahui (taratanu) di istana mereka”

Redaksi di atas menjelaskan bahwa terdapat burung unta jantan yang keluar jauh dari sarangnya, meninggalkan istri dan anaknya. Ketika hujan turun, sang unta jantan ingat keduanya dan cemas karena turunnya hujan. Kemudian unta jantan berlari untuk pulang, dan setibanya di sarang dan telah bebas dari kecemasan.

Baca Juga  Hermeneutika Gadamer: Bisakah Penafsir Menggapai Makna Asli Teks?

Ia mulai berbicara dengan sang istri dengan penuh kegembiraan yang mengatakan sesuatu kepadanya, tidak seorang pun yang tahu perihal yang dibicarakannya, percakapan yang ada di anatara keduanya sebagai hal rahasia. Pendeknya, struktur semantik dari kata wahyu terdapat unsur misteri karena muncul dari ketidakmengertian. Apabila pihak A bukan Tuhan, syaitan misalnya, maka komunikasi atau bisikan bukan disebut dengan wahyu namun waswasa. Menurut pandangan semantik, waswasa sebagai bagian sektor kecil yang ada dalam medan wahyu.

Makna Wahyu dalam Al-Qur’an  

Terkait penggunaan istilah wahyu dalam al-Qur’an, terdapat berbagai persyaratan. Pertama wahyuu sebagai kata-kata konkret yang memiliki keterkaitan dengan la parole, di mana parole merupakan komunikasi yang terjadi pada saat peristiwa kongkret. Terjadi diantara dua orang dan satu di antaranya bertindak aktif dan pihak yang lain berpean pasif.

Bentuk komunikasi harus menggunakan bahasa yang dimenegerti keduanya, baik dari bahasa salah satunya ataupun tidak. Dalam konteks wahyu al-Qur’an ini, Tuhan (A) menggunakan bahasa nabi (B). Kedua tingkat keberadaan pihak A dan B dalam satu tingkatan. Sehingga syarat yang kedua ini terkesan tidak sesuai apabila digunakan dalam hal wahyu, karena keberadaan Tuhan dan manusia (nabi) tidak dalam satu tingkat keberadaan.

Pendapat Al-Kirmany

Hal demikian mampu ditangani dengan menggunakan pandanagn semantik, yakni harus adanya sesuatu  luar biasa yang terjadi baik pihak A ataupun B. Sesuatu luar biasa tersebut terdapat dua kemungkinan menurut al-Kirmany. Pendengar, dalam hal ini Nabi Muhammad (B) sebagai penyandangnya mengalami transformasi personal secara mendalam sebagai bentuk pengaruh kekuatan spiritual pembicara. Tuhan (A) atau pihak A turun dan menggunakan atribut pendengarnya (B), ungkap al-Kirmany.

Pendapat pertama didukung dengan adanya hadis bahwa Rasulullah SAW diberitakan telah mendengar suara berdentang sebagaimana lebah yang berdengung. Ada yang mengisahkan layaknya suara lonceng, sedangkan kemungkinan yang kedua karena adanya hadis bahwa Rasulullah Saw diberitakan telah melihat malikat sebagai perantara turunnya wahyuu turun dari langit.

Baca Juga  Beberapa Karakteristik Paradigma Tafsir Kontemporer (1)

Al-Kirmany mengungkapn sebagaimana  fakta, disamping banyaknya perbedaan hal terkait. Gejala yang yang ada pada diri Rasulullah pada saat turunnya wahyu merupakan suatu bentuk denaturalisasi kepribadian manusia. Karena sesuatu yang berada diluar cakupan kekuasaan bahkan yang bertentangan menghampiri. Sehingga berakibat sakit dan tersiksa baik rohani dan jasmani, hal demikian terjadi dengan berbagai macam keadaan.

Selain itu, wahyu menurut pandangan al-Qur’an sebagi bentuk peristiwa linguistik supranatural dengan adanya hubungan tiga orang. Sehingga dapat difahami dalam proses penurunan wahyu, terdapat perantara Tuhan dan Nabi, yakni malaikat.

Penyunting: M. Bukhari Muslim