Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Amin Abdulah: Enam Rambu Penafsir Kontemporer Muhammadiyah

Sumber: Youtube Tarjih Channel

Ulama sekaligus cendekiawan Muhammadiyah, Prof. Amin Abdullah memberikan arahan kepada calon mufasir Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah terhadap rambu penafsir al-Qur’an kontemporer.

Hal itu disampaikan dalam acara Konferensi Mufasir Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhamamdiyah di Edutorium Universitas Muhamamdiyah Surakarta (11/12).

Amin mengatakan rambu penafsir ini penting harus dimiliki calon mufasir Muhammadiyah. Lebih lanjut, rambu penafsir ini yang membedakan mufasir tafsir Muhamamdiyah dengan yang lain.

Nah ini dia Jadi sebelum berangkat mau menafsir kan sudah ada ndogo-ndogo ini sudah ingin nulis, anda calon penulis ya ini calon penafsir maka ini maalimnya ini dulu maalimu thqoti attafsir almuasir”, ucap Amin.

Ada enam al-Ma’alimu Tariqati at-Tafsir al-Mu’asir (rambu-rambu penafsir al-Qur’an kontemporer) yang disebut Amin Abdullah sebagai rambu yang harus dimiliki mufasir Muhammdiyah.

Pertama, tajdid; islah.

Kalau tidak ada tajdid itu bukan yang Muhammadiyah, itu yang lain pasti”, tegas Amin.

Kedua, fresh ijtihad. Amin mengatakan walaupun Muhamamdiyah telah melakukan namun terkadang tidak segar lagi.

Mengapa fresh ijtihad ya Muhammadiyah sudah menyebut ijtihad sejak dulu tetapi nyatanya di dalam perjalanan yang lama itihadnya itu kendor karena tidak berani mendialogkan keilmuan klasik dan keilmuan kontemporer”, ucap Amin.

Ketiga, integratif dan transdisiplin. Mengkombinasikan kesarjanaan Islam tradisional (turats) dengan pemikiran dan pendidikan modern (tajdid).

Turots artinya fikih kalam Tafsir dan lain sebagainya tetapi dengan tajdidnya yaitu sains social humananities”, kata Amin.

Keempat, transformatif. Penafsiran harus mampu memperbaiki keadaan masyarakat.

Muhammadiyah jangan hanya transfer of transform of life yaitu memperbaiki keadaan masyarakat gitu targetnya”, tegas Amin.

Baca Juga  Mengenal 12 Sifat Allah dalam Q2:255 Ayatul Kursi (Ayat Kursi)

Kelima, tidak dogmatis.

Tidak dogmatis artinya tidak mazhabi atau mengikutkan dirinya pada mazhab tertentu”, ucap Amin.

Terakhir keenam, inklusif. Nilai-nilai keterbukaan yang di dalamnya ada keadilan sosial, keadilan gender, HAM dan relasi yang harmonis antara Muslim dengan non-Muslim. Ini sangat penting imbuhnya.

Reporter: An-Najmi

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.