Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Al-Zamakhsyari: Antara Tafsir al-Kasyaf dan Paham Muktazilah

tafsir
Sumber: https://www.galerikitabkuning.com/

Berbicara tentang Muktazilah, siapasih yang tidak mengenal aliran yang cukup ekstrem ini. Di mana mereka lebih mengedepankan rasio ketimbang wahyu, dan tidak tanggung-tanggung mengatakan bahwa al-Qur’an itu adalah makhluk. Aliran tersebut diperkenalkan oleh Wasil ibn Atha’, namun dalam perkembangannya, aliran ini banyak melahirkan tokoh-tokoh dan seringkali adanya perbedaan walaupun sama dalam aliran. Namun letak kesamaan mereka yang paling menonjol adalah penggunaan rasio/akal yang overdosis ketimbang wahyu ketika dalam memecahkan persoalan-persoalan teologi, sehingga bisa dikatakan bahwa pembahasannya lebih bersifat mendalam, rasionalis dan filosofis. (Nasution, 1986,hlm.43.)

Salah satu tokoh yang disebutkan memiliki aliran Muktazilah adalah Zamakhsyari, beliau merupakan salah satu tokoh yang demonstratif dalam menyebarluaskan faham-fahamnya. Beliau sangat fanatik terhadap alirannya, bahkan mungkin karna kefanatikannya tersebut menyebabkan karya tafsir beliau yang dinamai tafsir al-Kasysyaf, dimasukkan kedalam kelompok tafsir bi al-ra’yi al-madzmûm (tafsir rasional yang tercela).

Biografi Singkat Al-Zamakhsyari

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Qâsim Mahmûd bim ‘Umar bin Muhammad bin ‘Umar. Al-Zamakhsyarî dilahirkan di Zamakhshar, sebuah desa yang jarang diketahui diwilayah Khawarizmi, pada hari rabu 27 Rajab 467 H. Bertepatan dengan 8 Maret 1075 M. Dan wafat pada malam 9 Dzulhijjah 538 H, atau bertepatan dengan 14 Juni 1144 M di desa Jurjaniyah, Khawarizm (‘Uwaydhah, 1994, hlm. 5.)

Beliau terlahir dikeluarga yang sederhana, ayahnya Umar ibn Muhammad merupakan orang yang alim dan berpendidikan, serta tekun beribadah. Sedang ibunya adalah seorang wanita yang pandai dalam mendidik anak-anaknya, serta sangat perhatian kepada Zamakhsyari.

Ketika beliau menginjak usia sekolah, atas motivasi dari ayahnya Ia pergi ke Bukhara untuk menuntut ilmu kemudian mempelajari berbagai disiplin ilmu yang meliputi bahasa, sastra hingga teologi. Salah satu guru yang sangat berpengaruh kepada perkembangan pendidikan Zamakhsyari yaitu Mahmud ibn Jarir al-Dhzabbi (w.507 H). Beliau merupakan ulama yang ahli dalam bidang bahasa sekaligus orang yang menyebarluaskan paham Muktazilah di wilayah Khawarizmi, sehingga banyak orang yang mengikuti paham tersebut, tak terkecuali Zamakhsyari.

Baca Juga  Tantangan Lembaga Pendidikan Di Masa Pandemi

Menurut catatan para sejarawan, karya al-Zamakhsyari mencapai lebih dari 30 judul buku. Bahkan ada yang mengatakan 50 judul buku dalam berbagai bidang ilmu, diantaranya; sastra, karya terjemahan, hadith, tafsir, fiqih, ilmu kalam, balaghah, arud, dan karya-karyanya yang lain dalam bidang sya’ir. Namun di antara sekian banyaknya karya beliau, yang sangat ia banggakan dan paling berharga adalah Tafsir al-Kasyaf dan Kitab al-Fa’iq dalam bidang hadis.

Tafsir al-Kasyaf dengan Paham Muktazilah

Menurut pengakuan pencipta karya ini, penyelesaian penulisan tafsir ini memakan waktu yang sama dengan masa kekhalifahan Abu Bakr al-Siddiq (Kurang lebih 2 tahun). Namun secara sempurna baru selesai setelah memakan waktu kira-kira 30 tahun. Sejak tafsir ini dicetak di Kairo pada 1307 M, tafsir ini bisa dikatakan mendapat berbagai tanggapan maupun kritikan dari berbagai pihak, iya bagaimana tidak, karna memang di Kairo lebih mayoritas paham Ahlu Sunnah.

Misalnya saja kritikan yang di lantunkan oleh Ahmad ibn al-Munir melalui buku yang berjudul al-Intisaf, kitab ini menjelaskan tentang masalah-masalah akidah menurut paham Muktazilah; dengan mengemukakan pendapat-pendapat yang berlawanan dari paham Ahlu Sunnah.

Namun terlepas dari berbagai kritikan, tafsir al-Kasysyaf memiliki penjelasan yang sangat memperhatikan aspek keindahan aspek balaghah. Di satu sisi yang lain, merupakan manifestasi dari prinsip yang dipegangi al-Zamakhasyari dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. lebih lanjut beliau berpesan: “bahwa siapa saja orang yang ini menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an harus mempelajari terlebih dahulu dan mengerti betul dengan ilmu al-ma’ani dan ilmu al-bayan”.

Sebagai tafsir dari orang yang berpaham MuKtazilah dalam teologi, dan sekaligus bermadzhab hanafi dalam fiqh, tafsir ini diakui memiliki nuansa-nuansa yang memiliki rasional kuat. Bahkan para ulama dari kalangan Sunni, mengakui bahwa tafsir al-Kasyaf merupakan tafsir yang bernilai tinggi, al-Dzahabi contohnya yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang bisa menyikapi keindahan susunan bahasa al-Qur’an dan ketinggian balaghahnya seperti yang dilakukan oleh al-Zamakhsyari (Al-Dzahabi, 1976, hlm 433.).

Baca Juga  Integrasi Pendekatan Islam dan Barat: Hermeneutika Fazlur Rahman

Penilaian yang hampir sama disampaikan oleh Ibnu Khaldun. Dalam kitab beliau yang berjudul Muqadimmah, ketika membahas tentang tafsir yang didasarkan dengan ilmu bahasa, i’rab, serta balaghah dalam menggali kandungan makna ayat-ayat al-Qur’an, Ibnu Khaldun berani mengatakan “Kitab tafsir terbaik yang memuat pembahasan dari sisi ilmu-ilmu tersebut adalah tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari”. Hanya saja lebih lanjut Ibnu Khaldun katakan bahwa pengarangnya berpaham muktazilah, sehingga dalam penafsirannya terkadang digunakan untuk menguatkan pahamnya itu.

Kesimpulan

Namun terlepas dari fakta tentang tafsir al-Kasyaf yang disusupi dengan paham Muktazilah, tafsir ini memang diakui oleh banyak dari kalangan ulama bahkan termasuk ulama sunni karna keindahan balaghahnya dalam menggali makna dari al-Qur’an itu sendiri. Walaupun dalam objek kajian tafsirnya terhadap ayat al-Qur’an memiliki kaitan yang cukup erat dengan ajaran-ajaran teologi Muktazilah.

Namun diharapkan bagi kita semuanya, terlebih bagi ia yang sering menggeluti berbagai macam kitab tafsir terutama tafsir al-Kasyaf ini, agar berpegangan yang kuat terhadap paham akidah yang benar, sehingga dapat meminimalisir pengaruh dan penyelewengan yang dilakukan oleh al-Zamakhsyari. Namun bukan berarti harus berhenti mempelajari kitab tersebut, bahkan Ibnu khaldun pun menganjurkan para mufassir unutk menelaahnya, karna memang di dalam tafsir itu memiliki banyak ilmu yang langka terutama aspek balaghahnya.

Wallahu’alam

Editor: An-Najmi Fikri R