Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Al-Sha’rawi: Apakah Amal Kita Bermanfaat Untuk Orang Lain?

Musibah
Sumber: Istockphoto.com

Menyoroti penafsiran dari surah an-Najm:39 “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. Tidak ada baginya kecuali amalnya, baik itu kebaikan atau kejahatan. Hal ini menghilangkan harapan untuk mendapatkan manfaat dari amal orang lain. Beberapa ulama berpendapat bahwasannya amal seorang manusia itu hanya mendapatkan apa yang telah ia kerjakan, jadi tidak mendapatkan manfaat dari orang lain, dan ada juga ulama yang  berpendapat bahwasannya amal seorang manusia itu bermanfaat untuk orang lain. Dalam sejarah dan sunnah Rasulullah, juga ada dukungan untuk pandangan kedua ini.

Pandangan Mutawalli Al-Sha’rawi

Mutawalli al-Sha’rawi ini mengambil pendapat yang kedua, bahwasannya seorang manusia bisa mendapatkan manfaat dari amal orang lain. Dikarenakan usaha adalah gerakan untuk menuju tujuan, dan gerakan ini bisa baik seperti orang yang berusaha untuk memperbaiki dunia atau buruk seperti orang yang berusaha menyebabkan keburukan. Usaha itu berbeda-beda sesuai dengan kekuatan dan keyakinan seseorang dan sejauh mana keyakinannya terhadap isu-isu agamanya dan tanah airnya. Ada yang hanya berusaha untuk dirinya sendiri, sementara yang lain berusaha untuk keluarganya, kota halamannya, atau bahkan untuk kebahagiaan seluruh dunia. Sesuai dengan tekad dan kepemimpinan seseorang, begitu pula tujuannya.

Terdapat beberapa hadits dan ayat al-Qur’an yang secara implisit menyiratkan bahwa amal perbuatan orang lain juga dapat memberikan manfaat kepada kita. Seperti halnya, bukankah syariat menyuruh kita untuk mendoakan orang mati? Jika doa untuk orang mati tidak memberikan manfaat, itu akan sia-sia. Tetapi kita berdoa untuk kebaikan mereka dalam doa, yang menunjukkan bahwa kita dapat mendapatkan manfaat dari amal perbuatan orang lain. Bagi mereka yang menentang pandangan ini, mereka mungkin bertanya, “Apakah kita harus mendoakan setiap mayat?” Jawabannya adalah kita berdoa untuk orang mati yang beriman, dan manfaatnya datang dari keimanannya.

Baca Juga  Pesan Taqwa dan Implikasi Sosial Tauhid

Terdapat firman Allah yang mana juga menunjukkan argumen tambahan pada surah at-Tur:21 yang berbunyi:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, dan turut pula keturunan mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan amal mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.”

***

Bukankah anak-anak mendapatkan manfaat dari kebaikan orang tua mereka? Mereka berkata bahwa anak-anak mendapatkan manfaat dari kebaikan orang tua mereka. Karena orang tua mereka mengerjakan amal yang baik di dunia ini, dan Allah memberikan imbalan kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, iman orang tua yang baik memberikan manfaat bagi keturunannya, dan anak-anak ini mendapatkan bagian yang baik dari apa yang telah dihasilkan oleh orang tua mereka dalam amal perbuatan yang baik.

Ini menunjukkan bahwa orang yang lurus yang mencari halal dalam makanannya dan minumannya pasti akan menciptakan lingkungan yang baik untuk anak-anaknya. Allah akan memberikan imbalan kepada mereka atas apa yang telah mereka larang selama hidup mereka. Dan ini memberikan manfaat bagi anak-anak mereka di dunia dan akhirat. Jadi, apa yang anak-anak yang baik dapat nikmati sejauh ini tidak terlepas dari usaha orang tua mereka.

Diriwayatkan juga dari Rasulullah saw. bahwa beliau melihat seseorang salat sendirian dan berkata, “Bukankah ada orang yang memberi sedekah untuknya?” Artinya, salat bersama dengannya agar bisa mendapatkan pahala dari shalat berjamaah. Bukankah ini juga merupakan manfaat dari amal perbuatan orang lain?

Amal Kita Bermanfaat Untuk Orang Lain

Dalam konteks lain juga ketika Rasulullah saw. menolak untuk salat jenazah seorang pria di Madinah. Penolakan itu adalah untuk kebaikan/manfaat bagi jenazah. Beliau menyebutkan dalam hadis tentang mendukung/membantu orang dalam melunasi utang:

Baca Juga  Mencari Bahagia dalam Ketaatan Beragama

“Barang siapa yang mengambil harta orang lain dan berniat untuk membayar utangnya kepada Allah, Allah akan menjauhkannya (dari api neraka).” Dan tampaknya, orang yang meninggal itu meninggalkan utang yang tidak bisa diselesaikan. Oleh karena itu, Rasulullah saw. ingin membangkitkan rasa kebaikan dalam hati para sahabat agar mereka bisa segera membayar utang orang tersebut. Dan memang, ketika Rasulullah berkata: “Shalatlah untuk sahabatmu,” Abu Qatadah berseru, “Aku akan membayar utangnya, ya Rasulullah.”

Rasulullah saw. juga meriwayatkan hadis yang mana sudah masyhur dikalangan kita, Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ، صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Artinya: “Jika wafat anak cucu Adam, maka terputuslah amalan-amalannya kecuali tiga: Sadaqah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang selalu mendoakannya.” (HR.Muslim)

Hadis ini menyatakan bahwasannya amal anak shalih ini bisa bermanfaat ke orang tuanya, yang mana amal ini bukan karena usaha nya sendiri, melainkan karena usaha anaknya.

***

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa al-Sha’rawi dalam menafsirkan Surat An-Najm ayat 39 mengatakan bahwa; amal manusia bisa mendapatkan manfaat dari orang lain. Karena usaha adalah gerakan untuk menuju tujuan, dan gerakan ini bisa baik seperti orang yang berusaha untuk memperbaiki dunia atau buruk seperti orang yang berusaha menyebabkan keburukan.

Editor: An-Najmi