Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Al-Quran: Kitab Penyempurna Akhlak Mulia

Sumber: https://www.freevector.com/al-quran-vector-30296

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (H.R Tirmidzi)

Masa ini, kaum muslimin hidup dalam suasana kebangkitan peradaban moral yang layak disambut dengan kegembiraan. Berbagai macam cara dilakukan agar umat Muslim bisa memperbaiki keadaan ke arah yang lebih baik. Sebagai permulaan, kebangkitan itu menumbuhkan kemuliaan dan ghirah baru dalam hati umat dalam menjalani kehidupan mereka.

Pembahasan mengenai akhlak dari masa ke masa terus mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Perkara akhlak merupakan salah satu pondasi Islam yang dapat membantu mengubah peradaban. Dari keadaan yang penuh degradasi moral menjadi zaman yang penuh dengan manusia beradab.

Nabi Muhammad Saw. sebagai Rasul terakhir diutus untuk membenahi keburukan moral yang selama ini tertanam pada masyarakat Makkah. Hingga saat ini, Makkah dikenal sebagai kota yang penuh dengan harapan dan peradaban adab dan akhlak. Allah Swt. juga memuji para hamba-hambanya yang senantiasa berhias diri dengan akhlak mulia.

Keutamaan Berhias Dengan Akhlak Mulia

Termasuk di antara indahnya menjalani syariat agama Islam adalah senantiasa berhias dengan akhlak yang mulia. Sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh banyak hadits dari Rasulullah Saw. yang artinya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (H.R Ahmad).

Memiliki akhlak yang baik dan budi pekerti luhur termasuk perkara yang wajib dimiliki oleh setiap Muslim. Islam memberikan arahan dan bimbingan kepada para pemeluknya untuk selalu bersikap dengan akhlak yang sempurna terhadap Allah Swt.

Seorang muslim yang berbuat baik kepada orang lain akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Allah mencintai setiap hambanya yang berlomba-lomba dalam beramal. Sama halnya dengan seorang petani yang mengumpulkan padi. Untuk kemudian bisa mendapatkan hasil panen yang terbaik dari ladang tersebut.

Baca Juga  Malik Fadjar dan Tafsir “Atsaris Sujūd”

Keutamaan lainnya adalah akan memperberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak. Selain itu, ia akan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, “Sesuatu yang paling berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” (H.R Abu Daud).

Penting untuk diperhatikan, bahwa tujuan utama dalam menghiasi diri kita dengan akhlak mulia adalah untuk menunaikan kewajiban terhadap sesama manusia. Serta dalam rangka melaksanakan ketaatan kita kepada Allah. Dan yang utama, dalam rangka mengharap ridho dan keberkahan dari sang Maha Kuasa.

Al-Quran Sebagai Pedoman Penyempurna Akhlak

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 199: yang artinya, “Jadilah engkau pemaag dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.

Dalam tafsir as-Sa’di yang ditulis oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di ra. Beliau menerangkan ayat di atas yaitu, “ayat ini menerangkan bahwa kebaikan dalam bergaul adalah tentang akhlak. Perkara yang selayaknya dijadikan pedoman dalam bergaul dengan sesama manusia adalah memberi maaf. Karena maaf juga merupakan bentuk dari akhlak mulia yang disukai oleh Allah Swt.”

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Muslim dalam menjalani kehidupan mereka. Al-Qur’an hadir di tengah masyarakat sebagai solusi dari segala problematika hidup. Terlebih, ia juga berisi tentang nilai-nilai kemuliaan bagi manusia.

Jika kaum Muslim menghiasi diri mereka dengan akhlak mulia. Serta menunaikan hak-hak saudaranya, maka hal itu merupakan jalan masuknya manusia ke dalam kebaikan. Mereka berlomba-lomba dalam amal dan keluhuran. Sehingga mereka saling mencintai dan dicintai oleh sesama.

Oleh karena itu, setiap Muslim harus berupaya berakhlak seperti Al-Qur’an. Lalu menjadikannya sifat yang melekat pada diri mereka. Agar mereka dapat menjalani kehidupan secara harmonis. Mengingat tantangan di zaman ini semakin besar. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus berakhlak seperti Al-Qur’an.

Baca Juga  Memaknai Kebohongan Perpekstif Islam

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho