Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Al-Fatihah Ayat 5: Pengabdian Sebagai Puncak Pendidikan

Sumber: https://www.uii.ac.id/

Pendidikan menjadi keniscayaan. Ia berkait berkelindan dengan kehidupan. Tepat kiranya, ada sebuah pernyataan filosofis, pendidikan adalah bagian dari kehidupan, dan kehidupan tak dapat melepaskan diri dari pendidikan. Kehidupan yang terdidik akan mencapai tujuan yang diharapkan dalam kehidupan. Manusia sebagai makhluk yang mendidik dan dididik dapat mengaitkan kebaikan dan capaian tujuan hidupnya sesuai dengan proses pendidikan.

Dimensi Ketundukan

Dalam konteks Islam, pendidikan berkaitan dengan dimensi ketuhanan. Dimensi ketuhanan berkenaan dengan bahwa pendidikan menyadarkan manusia akan posisinya di hadapan Tuhan. Manusia sebagai makhluk-Nya. Manusia telah diberikan seluruh potensi untuk kehidupan di muka bumi. Selayaknya kesadaran ini menjadi landasan untuk mendekatkan kembali pendidikan dengan ketuhanan.

Pendidikan hakikatnya mendekatkan diri manusia untuk selalu menyadari bahwa dirinya tidak ada apa-apa tanpa kasih sayang-Nya. Tuhan telah memberikan segalanya bagi kebaikan hidup manusia. Dalam hal ini, pendidikan mengajarkan, melatih, dan membimbing manusia untuk berdekatan dengan mengabdi kepada-Nya. Ibadah atau penghambaan menjadi kata kunci penting dalam dimensi ini.

Ibadah berarti ketundukan. Tuhan yang telah memberikan segalanya dan manusia tidak melepaskan diri dari-Nya, menjadikan pendidikan untuk dilandaskan pada ketundukan. Ketundukan dan ketaatan akan memberikan dampak pada ketenangan hidup. Karena, ia menggunakan seluruh potensi yang diberikan yang dilandasi oleh ketundukan kepada-Nya. Dalam konteks ini, pendidikan bertalian erat dengan mendudukkan manusia untuk mengabdi kepada-Nya.

Hanya Kepada-MU, Kami Mengabdi

Tulisan ini disarikan dari artikel jurnal penulis, beberapa waktu sebelum artikel ini ditulis. Dalam Q.S al-Fatihah, kita menemukan redaksi iyyaka na’budu memiliki karakteritik unik dalam penuturan gaya bahasa Al-Qur’an. Kata yang menunjukkan objek (maf’ul) didahulukan daripada kalimat verbalnya (na’budu). Al-Qur’an tidak menuturkannya dengan redaksi biasa, seperti na’buduka, kami menyembah dan beribadah kepada-Mu, tetapi menggunakan redaksi hanya kepada-Mu kami menyembah.

Baca Juga  Kiai Sholeh Darat, Sang Penggagas Kitab Tafsir Tulisan Pegon

Jika seseorang mengatakan aku cinta kamu, apakah berbeda dengan kalimat hanya kepadamu aku mencintai? Kalimat aku cinta kamu mungkin diungkapkan ketika kalimat ini berada dalam medan makna pada saat cinta itu tumbuh kepada seseorang dan diucapkan pada situasi tersebut. Berbeda dengan hanya kepadamu aku mencintai, hal ini menafikan semua personal yang dicinta di luar objek yang dicintai. Hanya personal itu yang dicintai, bukan yang lainnya. Ungkapan ini lebih mendalam maknanya karena mengandung kekhususan.

Begitu pula dengan bahasa Al-Qur’an yang penuh makna mendalam, redaksi iyyaka na’budu, dengan objek yang didahulukan, mengandung kekhususan bahwa Allah Swt. yang disembah dan dijadikan objek akhir ibadah, bukan yang lainnya.

Huruf yang menunjukkan dhamir mukhathab, dengan tuturan kaf, tidak menggunakan hu atau huwa, menunjukkan dialog yang intens dan penuh kedekatan antara pengucap dengan objek yang dituju.

Refleksi Seorang Hamba

Seorang hamba yang penuh kesadaran, ketika mengucapkan kata ini, merasa lebih dekat, dan merasa bahwa Allah Swt berada di hadapannya. Dhamir yang disebutkan menegasikan makna Allah Swt itu jauh, menjadi subjek ketiga dalam medan makna dialog. Allah Swt dalam medan makna pembaca, dengan penuh kesadaran, menyadari bahwa Allah Swt dihadapannya, bukan dalam jangkauan yang dibicarakan (Dia). Manusia pembaca iyyaka na’budu, memenuhi dirinya dengan kesadaran bahwa dirinya seolah berada di hadapan-Nya. Ia mengkhususkan dirinya untuk berdekatan dengan penuh ketundukan, kekhusyukan, dan nada penuh sahdu.

Redaksi iyyaka pada ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah Swt. yang harus dituju manusia. Dia yang menjadi objek ibadah manusia, bukan yang lainnya dengan penuh kesadaran bahwa dirinya berada di hadapan-Nya. Ketika seseorang sadar bahwa dirinya berada dihadapan-Nya, maka ia akan merasa bahwa Allah Swt. selalu mengawasinya.

Baca Juga  Surat Lukman Ayat 18: Jangan Sambong Di Muka Bumi

Ketika ia berada di hadapan-Nya untuk beribadah, Al-Qur’an menggunakan redaksi kami menyembah, bukan saya menyembah. Kata na’budu yang disepadankan dengan arti kami menyembah, menunjukkan bahwa manusia ketika beribadah dan tunduk kepada-Nya tidak bersifat individualistik. Ia bersama dengan manusia yang lain dalam proses penyembahan kepada-Nya.

Pendidikan Puncak Pengabdian

Seseorang yang menyatakan kami menyembah, ia merasa bahwa dia tidak sendirian di hadapan-Nya, manusia yang lainnya pun ikut menyembah-Nya. Manusia dengan sesamanya berada dalam posisi yang sama untuk berhadapan dengan-Nya. Di hadapan-Nya dengan penuh kesadaran akan ketundukan kepada-Nya, tidak ada perbedaan kaya dan miskin, pejabat dan papa, orang yang paling berpengaruh dan tidak punya pengaruh, semuanya sama dalam posisi sebagai makhluk Allah Swt. Mereka punya kesempatan yang sama untuk berdiri di shaf pertama dalam salat. mereka punya kedudukan yang sama untuk meraih kesempatan berdekatan dengan-Nya.

Seseorang yang memproklamirkan dirinya dengan redaksi iyyaka na’budu, ia menyerahkan seluruh dimensi kehidupannya pada Sang Khalik. Ketika ia memulai salat dengan bacaan iftitah, sajian redaksi inna salati wa nusuki wa mahya wa mamati lillahi rabb al-alamin. Salat yang ia tegakkan, seluruh ibadah yang dilaksanakan, bahkan hidup dan matinya pun diserahkan semuanya pada Allah Swt., bukan pada dirinya, juga bukan pada sesamanya, atau makhluk lain dalam untaian alam semesta yang diciptakan-Nya.

Frase ayat di atas melandaskan sebuah pemikiran bahwa pendidikan sejatinya mengantarkan manusia untuk mengabdi kepada-Nya. Pendidikan secara filosofis mengantarkan kembali kesadaran manusia di hadapan-Nya. Wallahu A’lam