Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Akar Masalah Pembahasan Childfree dan Sudut Pandang Islam

Childfree
Gambar: kumparan.com

Istilah childfree ramai diperbincangkan akhir-akhir ini di Indonesia. Hal ini terjadi dikarenakan seorang yang bisa dikatakan influencer menyatakan dirinya memilih jalan childfree dalam kehidupan rumah tangganya. Semenjak itu childfree menjadi wacana pembahasan di masyarakat umum, akademisi, bahkan pemuka agama.

Secra definisi sebagaimana dikutp dari Cambridge Dictionary, childfree merujuk pada pilihan orang yang memilih untuk tidak memiliki anak, atau tempat atau situasi tanpa anak. Tentu hal ini menjadi perbincangan hangat terutama di Indonesia yang mana secara umum, hadirnya anak dalam rumah tangga dimaknai sebagai anugerah yang besar dalam hidup.

Islam dalam masalah ini cukup banyak mendapat perhatian karena beberapa alasan. Pertama, terdapat beberapa ayat ataupun hadis yang menjelaskan esensi dan posisi anak dalam kehidupan. Kedua, pihak yang bersangkutan adalah seorang muslimah sehingga sebagaian orang mengganggap dirinya menyelisihi nilai-nilai yang ada dalan Islam.

Lantas apa sebenarnya akar masalah pembagasan childfree ini? Bagaimana tinjuan Islam mengenai masalah ini?

Childfree dan Masalah Overpopulation

Istilah overpopulation sebelumnya telah penulis singgung dalam tulisan sebelumnya “Mengkritisi Argumen Anti LGBT: Pentingnya Keilmuan Umum dalam Argumen Keagamaan” yang mana mencoba mengungkap fenomena pertanyaan-pertanyaan terkait masalah keturunan yang LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender-sex) tidak bisa dapat.

David Suzuki, ilmuan asal Kanada memberikan analogi sederhana dalam memahami overpopulation ini. Ia menggunakan analogi bakteri di tabung reaksi. Tabung reaksi digambarkan sebagai planet bumi dengan segala macam isinya (tumbuhan, hewan, lingkungan, dll).

Bakteri digambarkan sebagai manusia. Pada awalnya hanya terdapat beberapa bakteri saja dalam tabung rekasi, tetapi seiring berjalannya waktu bakteri sudah memenuhi setengah tabung reaksi dan berlanjut hingga penuh. Tanpa disadari sudah tidak ada lagi tempat untuk bakteri dapat memperbanyak diri dan suplai untuk kelangsungan hidup bakteri juga perlahan habis. Pun demikian dengan manusia di bumi ini. Padatnya manusia dikhawatirkan akan menimbulkan dampak serupa.

Overpopulation bukanlah hal baru sebagaiamana yang penulis pernah sampaikan. Jauh-jauh hari seorang yang bernama Thomas Malthus membuat tulisan yang berjudul “An Essay on The Principle of Population” yang banyak menyinggung soal overpopulation.

Thomas Maltuhs meyatakan “The power of population is so superior to the power of the earth to produce subsistence for man, that premature death must in some shape or other visit the human race.” Kekuatan populasi begitu unggul daripada kekuatan bumi untuk menghasilkan subsistensi bagi manusia. Sehingga kematian dini harus dalam beberapa bentuk atau lainnya mengunjungi umat manusia.

Baca Juga  Kesetaraan Gender dalam Islam

Hal ini (overpouplation) juga menjadi salah satu alasan dari orang-orang memilih childfree dengan alasan tidak ingin melahirkan anak di zaman yang penuh kacau balau. Zaman di mana ketersediaan hal-hal esensial sudah menipis, kualitas lingkungan sudah menurun, dan hal lain sejenisnya. Mereka menggangap terlalu egois apabila melahirkan seorang anak di kondisi yang sedemikian rupa.

Meskipun demikian, konsep overpouplation dinilai lemah dan sudah banyak baik ilmuan atau orang berkompeten lainnya yang menyanggah alasan-alasan yang disebut tadi. Sanggahan yang ada berkisar pada ketakutan akan overpopulation seperti yang sering digambarkan adalah terlalu berlebihan. David Suzuki sendiri mencoba mengesampingkan bahwa overpopulation ini sebagai “biang” masalah, tetapi menyebut istilah overconsumption sebagai masalah besar yang perlu diberi perhatian lebih.

Tentu tidak bisa dikesampingkan alasan-alasan lain yang mungkin sifatnya pribadi. Misal seorang memilih tidak memiliki anak karena faktor kesehatan, atau memiliki semacam trauma pribadi di masa lalu yang mengakibatkan dirinya memilih untuk mengambil jalan childfree, dan alasan-alasan lainnya.

Sudut Pandang Al-Quran dan Hadis tentang Childfree

Tidak bisa dimungkiri bahwa Islam sangat amat menganjurkan agar pemeluknya senantiasa memiliki keturunan. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari hadis di mana Nabi bersabda:

 إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia mati maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan orang tuanya. (HR. Ahmad 9079, Muslim 4310, Abu Daud 2882 dan yang lainnya).

Di hadis lain Nabi juga bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ (وَضَمَّ أَصَابِعَهُ)

Siapa yang mendidik dua anak perempuan hingga ia dewasa, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia.. Lantas Nabi SAW. mendekatkan jari jemarinya. (HR. Muslim no. 2631).

Baca Juga  Hanya Umat Terbelakang yang Membelenggu Perempuan

Dari dua hadis yang disebutkan di atas, sangat jelas bahwa Islam sangat menganjurkan agar pemeluknya senantiasa memperoleh keturunan. Hal ini bukan saja perihal dalam kehidupan di dunia, memiliki anak terutama yang shalih dan shalihah setelah tentunya dididik dan dibina oleh kedua orang tuanya, akan mendapat manfaat besar di kehidupan akhirat kelak.

Berikutnya menganai kekhawatiran para penganut childfree tentang hadirnya anak di kondisi kehidupan yang serba sulit, dalam hal ini takut akan kelaparan, tidak bisa punya masa depan yang layak, dll, Al-Quran memberi jawaban bahwa setiap anak telah membawa rezekinya masing-masing dan telah Allah Swt jamin. Allah Swt berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَٰقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْـًٔا كَبِيرًا

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. Al-Isra: 31).

Dalam Tafsir Al-Azhar, HAMKA menjelaskan ayat ini berkaitan dengan kondisi bangsa Arab di masa pra Islam yang mana menggnggap kehadiran anak perempuan adalah sebuah aib dan tidak ada keuntungan sama sekali sehingga lebih baik membunuh mereka.

Lebih lanjut HAMKA menjelaskan bahwa kondisi tersebut masih bisa dijumpai di masa saat ini di mana (anak) perempuan dipandang lebih rendah dibanding anak laki-laki. Bahkan kondisinya saat ini lebih kompleks karena sering dijumpai anggapan anak sebagai beban orang tua saja di masa yang apa-apa serba sulit. Maka ayat ini adalah penjelasan dan jawaban atas kekhawatiran yang disebut sebelumnya

HAMKA menulis:

“Jangan membunuh anak karena takut miskin. Kesukaran hidup dapat diatasi, baik secara sendiri-sendiri, atau secara bersama… Ada hidup ada rezeki. Jangan bosan mengasuh anak karena cemas tentang makannya. Jaminan hidup untuk dia dan untuk yang mengasuhnya ada selalu dari Tuhan. Kehidupan masyarakat Islam yang iikehendaki Tuhan bukanlah hidup yang nafsi-nafsi, yang kaya melupakan yang miskin. Dalam pada itu Islam memerintahkan amal di samping iman. Tidak boleh ada orang yang tidak beramal. Beramal artinya berusaha. Agama memerintahkan. Dan Negara yang teratur pun mencita-citakan itu. Jangan ada dalam masyarakat orang yang melarat, yang tidak kebahagian pekerjaan.”

Dalam konteks childfree sebagaimana diangkat dalam tulisan ini, kekhawatiran akan masa depan anak yang dilahirkan disituasi zaman yang serba sulit, Islam dengan al-Quran dan hadis sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan telah memberi solusi atas “masalah” yang ditakutkan tersebut.

Baca Juga  Al-Qur’an Mengangkat Derajat Perempuan

Meskipun memang tidak selalu dalam arti “text book” di mana pemaknaan anak yang lahir selalu ada rezeki maka tiap pasangan suami istri akan terus “meproduksi” anak. Tentu harus diimbangi dengan kualitas hidup dan perencanaan kedepan yang lebih baik. Salah memaknai justru akan menimbulkan mudharat yang lebih besar.

Konklusi

Setiap orang berhak mengutarakan pendapatnya masing-masing terutama di Indonesia di mana kebebasan berpendapat telah dijamin. Kita hanya tahu secara zahir saja mengapa “influencer” ini memilih jalan childfree. Mungkin yang bersangkutan sedang ada masalah, atau ada trauma tersendiri? Siapa yang bisa memastikan?

Sebagaimana dia bebas mengutarakan pendapatnya, maka sebagai seorang muslim yang paham dan insyaf akan segala kuasa Allah Swt., sudah menjadi kewajiban untuk mecoba menjelaskan permasalahan ini dalam tinjauan keagamaan. Sebagaimana konsep amar maruf nahi munkar yang Islam ajarkan.

Mengambil jalan childfree adalah hak pribadi. Memiliki anak 10, 20, bahkan 100 pun adalah hak pribadi. Hiduplah dengan jalan yang Allah Swt lewat Al Quran ajarkan sembari memperdalam tinjuan aspek kehidupan lainnya agar kualitas hidup di atas jalan Nya dirasakan lebih baik, baik itu di dunia atau di akhirat.

Penyunting: M. Bukhari Muslim