Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Aib Bangsa Eropa: Kemenangan Islam di Perang Mohacs 1526

mohacs
Sumber: https://www.portal-islam.id/

Pemerintahan ottoman turkey merupakan kekhalifahan Islam terakhir yang runtuh pada tahun 1924 M. Namun banyak kejadian menarik yang membuat islam semakin disegani dan dikenal oleh seluruh bangsa eropa, khusunya eropa timur. bahkan sampai sekarang bangsa eropa masih segan dan takut terhadap islam.

Pertempuran Mohacs

Pada tahun 1526 terjadi terjadi peperangan yang melibatkan kekhalifahan ottoman turkey. Pada saat itu ottoman dipimpin oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni dengan kerajaan hungaria yang dibantu oleh koalisi eropa yang saat itu hungaria dipimpin oleh raja Louis II.

Pertempuran besar tersebut terjadi di lembah Mohacs. Pasukan kekaisaran Ottoman Turkey yang berjumlah 50.000 orang, beberapa sumber lain menyebutkan bahwa pasukan kekaisaran ottoman turki berjumlah 100.000 orang, melawan pasukan hungaria yang dibantu beberapa kerajaan eropa lainnya dengan total pasukan hampir mencapai 200.000 orang. Pada saat itu kerajaan hungaria merupakan kerajaan paling tua yang sudah berdiri selama 6 abad, serta kekuatan militernya pun sudah dikenal hebat oleh seluruh bangsa eropa. Tidak heran jika pasukan yang mereka kirimkan hampir 200.000 orang.

Strategi Perang

Kecerdasan Sultan Sulaiman al-Qanuni (sumber lain menyebutkan Ibrahim pasha sebagai pengatur strategi) dalam mengatur strategi perang sangat luar biasa. Terbukti dengan strategi yang dipakai oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni perang Mohacs dapat dimenangkan hanya dengan waktu yang singkat. Menurut beberapa sumber perang ini hanya terjadi kurang lebih 2 jam.

Kekaisaran ottoman turkey menerapkan strategi membariskan 100.000 pasukanannya (menurut beberapa sumber panjang barisan pasukan ottoman turkey ini sepanjang 10 KM) dengan susunan pasukan terdiri dari dua lapis, pasukan bersenjata lengkap ditempatkan paling depan (infantry), dan pasukan Meriam (altileri) berada dipaling belakang.

Pada 29 Agustus 1526 peperangan besar pun tidak terelakkan lagi, perang antara pasukan kekhalifahan Ottoman Turkey dan pasukan Hungaria pecah. Ketika sedang terjadi pertempuran sengit pasukkan infantri Ottoman Turkey pura-pura kalah dan lari terbirit-birit kebelakang. Pasukan Hungaria yang melihat kejadian tersebut merasa bahwa mereka sudah unggul dalam peperangan, tanpa pikir panjang 100.000 prajurit langsung memburu pasukan Ottoman Turkey yang lari. Mereka tidak menyadari kalau terdapat pasukan meriam (altileri) Ottoman Turkey yang sudah siap menerkam mereka.

Baca Juga  Hasbi Ash-Shiddieqy: Mufasir yang Berasal dari Bumi Aceh

Kekalahan Pasukan Hungaria

Ketika pasukan Hungaria memasuki zona tembak meriam, barulah mereka sadar kalo di hadapan mereka sudah berjejer meriam yang siap ditembakkan (menurut beberapa sumber ada 300 meriam besar, sumber lain mengatakan 350 meriam yang di bawa oleh pasukkan Ottoman Turkey). Setelah mengetahui di depannya terdapat meriam yang siap ditembakkan, pasukan Hungaria pun berniat kabur ke belakang, namun hal tersebut terlambat karena pasukkan Ottoman Turkey yang awalnya lari kembali menyerang mereka dengan mengelilingi pasukan Hungaria.

Sehingga sekitar 100.000 pasukan terjebak di dalamnya dan tidak memiliki jalan kabur lagi kecuali menyebrangi danau (Sebagian sumber menyebutkan sungai). Sebagian pasukan lari dan berenang menyebrangi danau, namun semuanya mati tenggelam karena saling berdesak-desakan saat berenang termasuk di dalamnya raja Luois II.

Aib yang Tertutupi

Meninggalnya raja Louis II memastikan kemenagan kekaisaran Ottoman Turkey dalam perang Mohacs tersebut. Korban dari pihak Ottoman Turkey hanya 150 orang yang meninggal, dan 2.000 orang yang terluka. Sedangkan korban dari pihak Hungaria sekitar 70.000 orang termasuk di dalamnya raja Luois II serta ditahannya 25.000 pasukan kristen oleh pasukan Ottoman Turki.

Kemenangan kekaisaran Ottoman Turkey menjadikan terpecahnya kerajaan Hungaria untuk beberapa abad ke depan, Kematian raja Luois II ketika akan melarikan diri dari medan peperangan menandakan telah berakhirnya pemerintahan dinasti Jagiellon. Melalui sebuah pernikahan akhirnya dinasti ini bergabung dengan Habsburg.

Bangsa Eropa seakan menutup rapat perihal aib ini selama beberapa dekade. Produksi film tentang King Sulaiman pun dibuat, demi menggiring opini negatif dan dengan segala distorsinya. Hingga sekarang mereka masih takut, trauma, kecewa hingga akhirnya melakukan perbuatan tercela.

Editor: An-Najmi Fikri R

Baca Juga  At-Tabari: Rujukan Para Ahli Tafsir dan Bapak Sejarah Islam