Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Adab dan Akhlak Kita Terhadap Al-Qur’an

Sinonim
Sumber: freepik.com

Pada zaman modern ini banyak sekali orang orang yang sudah lalai terhadap al-Qur’an. Mereka lebih mementingkan membaca berita di medsos ketimbang membaca al-Qur’an, padahal membaca al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat penting dan memiliki pahala yang banyak jika kita membaca dan mengamalkannya. Apalagi banyak pemuda pemuda yang bahkan tidak bisa membaca al-Qur’an, ini sangat disayangkan sekali jika banyak pemuda yang tidak bisa membaca al-Qur’an, maka dari itu kita sebagai generasi islam yang milenial harus kembali kepada al-Qur’an dengan cara membacanya, memahami isinya dan mengamalkannya di kehidupan sehari hari.

Al-Qur’an merupakan suatu keajaiban untuk seluruh umat islam yang berikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyebarluaskannya. Al-Qur’an juga merupakan pedoman hidup, petunjuk hidup bagi umat manusia, dengan begitu kita harus memahami isi dan mengaplikasikannya ke kehidupan, dengan cara kita memiliki akhlak yang baik terhadap al-Qur’an.

Memahami Akhlaq

Secara etimologis (lughatan), akhlaqadalah bentuk jamak dari khuluq yang artinya budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq ( pencipta), makhluq (yang diciptakan). Di dalam Da’iratul Ma’arif dikatakan yang artinya “Akhlak ialah sifat sifat manusia yang terdidik”.

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat terlahir berupa perbuatan baik, disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhlak yang tercela dengan pembinanya.

Secara terminologis (ishthilahan) ada beberapa devinisi tentang akhlaq. Menurut Imam Al Ghazali akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut Ibrahim Anis akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang denganya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pikiran dan pertimbangan.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Sufistik: Sejarah dan Perkembangannya

Jadi pada hakekatnya khulk (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara yang spontan dan mudah tanpa dibuat buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan teruji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran.

Akhlak kepada Al-Qur’an

Akhlak kepada al-Qur’an merupakan suatu akhlak yang baik ( Akhlakul karimah). Kita sebagai manusia yang memiliki iman terhadap al-Qur’an harus paham betul bagaimana akhlak kita kepada al-Qur’an, adab kita membaca al-Qur’an dan lain sebagainya. Ada beberapa akhlak kepada al-Qur’an di antaranya :

Akhlak sebelum membaca al-Qur’an yang pertama adalah suci dari hadas kecil dan besar. Hadas besar meliputi : keluarnya air mani, bersetubuh, haid pada perempuan, melahirkan dan nifas. Orang yang berhadas besar harus melakukan pensucian diri dengan cara mandi besar atau mandi junub. 

Hadas kecil meliputi : Hadas kecil meliputi: berak dan kencing. Orang yang mengalami keadaan tersebut tidak wajib mandi atau tidak ada baginya mandi wajib, cukup dia berwudu setelah dia membersihkan dirinya dari hadas tersebut. Allah SWT berfirman dalam Q.S Al Waqi’ah ayat 77-80 yang Artinya “ dan ini sesungguhnya Al Qur’an yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara, tidak ada yang menyentuhnya selain hamba hamba yang disucikan, diturunkan dari tuhan seluruh alam”

Kedua akhlak pada saat membaca Al Qur’an yaitu di mulai dengan membaca Ta’awuz, seperti firman Allah SWT dalam QS An Nahl ayat 98 sampai 99 yang artinya “ Apabila kamu membaca al-Qur’an, maka minta perlindunganlah kepada Allah dari syaetan yang terkutuk, Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kuasa baginya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.”

Baca Juga  Tafsir Kata Iri. Benarkah Dilarang?

Kemudian dilanjutkan dengan membaca basmalah. Mengerjakan urusan lain yang dianggap penting sebaiknya dimulai dengan basmalah agar diberkahi oleh Allah swt, apatah lagi membaca al-Qur’an yang merupakan firman Allah swt sepantasnyalah dimulai dengan basmalah. Pekerjaan yang dilakukan dimulai dengan basmalah mengandung makna bahwa pekerjaan itu disandarkan kepada Allah swt, pekerjaan itu melibatkan Allah swt. Setelah itu mengucapkan aamiin setelah membaca surat al-Fatihah

Akhlak setelah membaca al-Qur’an adalah setelah membaca al-Qur’an terutama setelah menamatkan bacaan alQur’an, sebaiknya berdoa, karena sahabat Rasulullah saw melakukan hal itu. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu riwayat bahwa:

Diriwayatkan dari Anas r.a: “Bahwasanya apabila dia (Anas Bin Mālik) menamatkan al-Qur’an, dia mengumpulkan keluarganya dan berdoa (Hadis diriwayatkan oleh Abu Dawud). Perlu diketahui pula bahwa menamatkan bacaan al-Qur’an, sebaiknya memilih waktu awal malam atau awal siang, karena siapa yang menamatkan bacaan al-Qur’an awal malam maka malaikat mendoakannya sampai subuh, dan siapa yang menamatkan bacaan al-Qur’an awal siang maka malaikat mendoakannya sampai malam”.

Editor: An-Najmi Fikri R