Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Adab Berbicara dalam Al-Qur’an dan Hadis

Berbicara
Sumber: zhato-tech.id

Belakangan ini rakyat Indonesia tersandung isu sebagai negara dengan tingkat kesopanan di media sosial terendah se-Asia Tenggara (kompas.com). Terdengar mengejutkan memang, hal ini diketahui dari data terbaru yang dikeluarkan oleh Microsoft tentang Digital Civility Index (DCI). Indonesia terkenal dengan penduduknya yang sopan dan ramah, nyatanya tidak demikian ketika berada di media sosial. Apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, isu tersebut bisa merusak citra baik Islam.

Berangkat dari permasalahan tersebut, sebagai seorang muslim tentunya sangat penting untuk memerhatikan adab ketika berbicara dan berprilaku. Karena itu merupakan cerminan akhlak. Bahkan al-Qur’an dan hadits Nabi mengatur hal tersebut. Begitupun ‘ulama, ada yang mengatakan bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Berikut adalah beberapa adab berbicara menurut al-Qur’an dan hadits.

Pertama, Hendaknya Berbicara Hal Baik atau Diam

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata : Rasulullah saw bersabda :

حَدَّثَنَا قُتَيۡبَةُ بۡنُ سَعِيدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو الۡأَحۡوَصِ، عَنۡ أَبِي حَصِينٍ، عَنۡ أَبِي صَالِحٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلَا يُؤۡذِ جَارَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيُكۡرِمۡ ضَيۡفَهُ، وَمَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ). [طرفه في: ٥١٨٥]

Artinya: ”Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami: Abul Ahwash menceritakan kepada kami, dari Abu Hashin, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, muliakanlah tamunya. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah perkataan yang baik atau diam.”

Baca Juga  Mereka yang Mendustakan Agama

Selanjutnya terdapat dalam Qur’an surat al-Ahzab: 33, Allah berfirman:

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ ٣٢

Terjemah Kemenag 2002: “Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.

Larangan Berbicara Mendayu

Ayat di atas berbicara tentang perintah Allah kepada istri para Nabi dan istri umat yang mengikutinya agar memerhatikan ketika berbicara, terutama intonasi yang digunakan supaya tidak mendayu-dayu yang dapat menyebabkan syahwat lawan jenisnya naik. Sehingga dengan suara itu dapat menimbulkan niat buruk untuk melakukan perbuatan tercela.

Adapun kata مَّعْرُوْفًاۚ menurut Ibnu Zaid dimaknai sebagai kata-kata yang baik, bagus dan ma’ruf dalam kebaikan. Ia menekankan supaya kata-kata yang digunakan tidak mendayu-dayu. membedakan antara intonasi yang digunakan ketika berbicara kepada suami dan orang lain. Sementara itu, menurut Sayyid Quthb kata tersebut dimaknai sebagai kata yang didalamnya tidak ada dusta atau apa adanya. Lebih luas mengatur kepada gerak gerik dan tutur kata yang harus diperhatikan supaya tidak menimbulkan kebangkitan syahwat.

Kedua, Perkataan yang Baik Membukakan Pintu-Pintu Sedekah

Hal ini sebagaimana tersirat dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwasanya Rasuallah saw bersabda :

حَدَّثَنِي إِسۡحَاقُ: أَخۡبَرَنَا عَبۡدُ الرَّزَّاقِ: أَخۡبَرَنَا مَعۡمَرٌ، عَنۡ هَمَّامٍ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيۡهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوۡمٍ تَطۡلُعُ فِيهِ الشَّمۡسُ: يَعۡدِلُ بَيۡنَ الۡاثۡنَيۡنِ صَدَقَةٌ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ فَيَحۡمِلُ عَلَيۡهَا أَوۡ يَرۡفَعُ عَلَيۡهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالۡكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطۡوَةٍ يَخۡطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَيُمِيطُ الۡأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ). [طرفه في: ٢٧٠٧]

 Artinya: “Ishaq telah menceritakan kepadaku: ‘Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami: Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Hammam, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap persendian manusia wajib disedekahi pada setiap hari yang matahari terbit padanya: berbuat adil antara dua pihak adalah sedekah, menolong seseorang pada tunggangannya sehingga bisa menaikinya atau menaikkan barang bawaannya ke atasnya adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang ia langkahkan menuju salat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah”.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 51-53: Kaum Musa dan Lembu Emas

Ketiga, Berbicara yang Santun

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا ٢٣

Terjemah Kemenag 2002: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”.

Berkaitan dengan munasabah ayat ini, Allah menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi  dua golongan: Pertama, orang yang cinta terhadap nikmat dunia, tetapi mengabaikan kenikmatan akhirat. Kedua, orang yang taat kepada Allah. Dalam hal ini Allah menunjukan salah satu adab manusia terhadap Allah, dan sopan santun terhadap orang tua.

قَوْلًا كَرِيْمًا  menurut Ibnu Katsir adalah kata-kata dengan lemah lembut, baik, penuh sopan santun disertai pemuliaan dan penghormatan.Sementara menurut Quraish Shihab adalah bahasa yang mengandung makna yang mulia atau terbaik sesuai objeknya. Kemudian Sayyid Quthb mengatakan yang dimaksud adalah ucapan yang menunjukkan sikap hormat dan cinta.

Penyunting: M. Bukhari Muslim