Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Abu Al-Maududi: Konsumsi Masyarakat dan Bunga Bank

al-maududi
Sumber: http://wahanakreasi4.blogspot.com/

Dari perkembangan zaman ke zaman, banyak sekali permasalahan yang menyimpang yang sering dilakukan oleh masyarakat maupun tokoh-tokoh masyarakat yang terjun di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan dan agama. Penyimpangan itu disebabkan oleh ketidaksamaan dalam memahami prinsip yang telah ditentukan oleh ajaran islam yaitu al-Qur’an maupun Hadist. Selain itu, penolakan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat akan menimbulkan tanggapan baru yang akan memberikan anggapannya sudah merasa benar. Hal ini sangat menyangkut sosok satu tokoh Islam yaitu Abu Al-Maududi yang memiliki presepsi terhadap pemikiran-pemikirannya yang mengatakan bahwasanya Islam telah meletakan beberapa prinsip dan batasan-batasan tertentu untuk melaksanakan kegiatan ekonomi dalam bentuk hal produksi.

Banyak tokoh muslim yang memiliki pemikiran ekonomi yang lebih maju bahkan sampai bisa mengalahkan ilmuwan barat yaitu Abu Al- Maududi. Sebagaimana tokoh tersebut yang memiliki pemikiran ekonomi yang masih digunakan para ekonom sampai saat ini.

Persepsi Sistem Ekonomi Islam Al-Maududi

Dalam dimensi ekonomi islam, Al-Maududi menerangkan sistem ekonomi dari bentuknya dan ukurannya. Al-Maududi mengatakan bahwa Islam telah menerangkan sebuah sistem yang permanen dan lengkap dengan segala detailnya dari menentukan rancangan dasar yang membuat kita menysun sebuah rancangan ekonomi yang sesuai setiap pada masanya. Maka dari itu, hal yang global terlihat jelas tujuannya dan maksud dari Al-Qur’an dan Hadist yang mengatur dari aspek kehidupan sebagimana mestinya.

Sistem ekonomi itu pasti didasarkan atas ideologi dan peraturan masing-masing ekonom. Landasan dalam sebuah sistem ekonomi pun tidak jauh dari masyarakay yang konsumtif dan produktif atau bisa disebut bagaimana masyarakat mampu untuk mencukupi kebutuhan pada keesokan harinya dan bagaimana mempertahankan perekonomian mereka.

Maka dari itu, diperlukan adanya rancangan dasar atau peraturan dasar yang permanen dalam ekonomi yang sesuai pada setiap masanya, guna untuk mengatur segala aspek kehidupan sebagaimana mestinya. Terlepas dari itu tidak menuntut kemungkinan bahwa sebuah sistem yang permanen dan lengkap itu harus sesuai yang telah didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist.

Baca Juga  Revitalisasi Pendidikan Islam: Gerakan Aksiologis Kitab Ayyuhal Walad

Analisa Kritis Pemikiran AL-Maududi

Al-Maududi mendefinisikan tentang pemikirannya tentang keburukan dari sistem kapitalis, sosialis, komunis. Sistem ekonomi ini sangat meringankan beban ekonomi bagi masyarakat. Oleh karena itu, sistem ekonomi tersebut akan menjadi rahmat yang sangat besar bagi umat manusia.

Ekonomi Islam adalah perilaku untuk memelihara kebebasan individu dan membatasinya ke dalam tingkatan yang hanya sesuai dengan nilai kemanusiaan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Sehingga prinsip pemikirannya masih tertuang sampai saat ini.

Perjalanan sejarah pada sistem yang diajukan oleh Islam ini, akan memiliki pemikiran yang sehat dan akan memenuhi hasrat pada setiap orang. Serta akan mencari kebenaran sebagai suatu sistem yang berguna dan rasional dalam memecahkan permasalahaan dalam kesejahteraan umat manusia.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa bunga yang dipungut oleh bank itu haram hukumnya. Karena terdapat pembayaran lebih dari yang dipinjamkan dan hal itu sangat memberatkan masyarakat. Sedangkan uang itu disebutnya riba. Agama Islam menyebutnya haram, dikarenakan sesuatu yang tidak baik dan akan merugikan orang lain.

Pada zaman sekarang, masyarakat masih banyak yang menuruti hawa nafsunya sehingga tidak mengabaikan apa itu haram. Pada dasarnya al-Qur’an dan hadist sudah melarang keras dengan adanya bunga karena menurutnya kezaliman. Pada peradabam Eropa bahwa bunga yang dibayarkan pada peminjam adalah investasi dalam kegiatan produksi dan menurutny atidak bertentangan dengan hukum Al-Qur’an.

Perbedaan pinjaman produktif dan tidak produktif adalah perbedaan tingkat bukan perbedaan jenis. Menyebut riba dengan bunga tidak akan mengubah sifatnya. Karena bunga adalah suatu tambahan modal yang dipinjam. Maka dari itu, di dalam aspek pemikiran yang beliau peroleh menganut dari sumber al-Qur’an yang berbagai dalil sehingga teori benar-benar terperinci, jelas dan akurat.

Baca Juga  Berbaik Sangka Kepada Allah

Ekonomi di Masa Pnademi Covid-19 Ditinjau dari Pemikiran Islam Al-Maududi

Awal dari Pandemi Covid-19 ini menimbulkan beberapa perubahan dan kebiasaan pada masyarakat. Dari situlah, masyarakat diharuskan untuk beradaptasi di kehidupan baru. Kondisi seperti itu khususnya, pada bidang ekonomi yang semuanya mengalami banyak penurunan yang sangat dratis ini terdampak pada masyarakat pola konsumsi mereka. Pada akhirnya, semua harga penjualan dan bisnis-bisnis mengalami nilai tukar uang yang rendah. Tapi, pada dasarnya tidak semuanya bahan di pasar ini mengalami penurunan.

Salah satu contoh yang mengalami penurunan yaitu berupa sandang-papan dan kebutuhan elektronik lainnya. Sementara barang yang tetap konsisten itu kebutuhan untuk medis yang tinggi permintaannya. Pada akhirnya, Masyarakat harus bisa menahan dirinya untuk mengeluarkan konsumsi yang berlebihan demi menjaga stabilitas ekonomi yang terjaga.

Kasus tersebut jika dikaitkan dengan pemikiran Al-Maududi, masyarakat perlu menerapkan perilaku konsumsi yang sesuai dengan Islam. Pertama, konsep produktifitas masyarakat diharuskan mengubah sifatnya dari jiwa maupun raga. Kedua, konsep Bunga di masa saat ini yang sulitnya penghasilan. Teori ini harus diterapkan pada saat masa saat ini demi tertatanya pola konsumsi masyarakat tersebut dalam membayar bunga itu berlangsung. Ketiga, konsep produksi mekanisme kegiatan seperti ini di masa pandemi ini sangat banyak mengurangi konsumsi bagi perusahaan.

Teori-teori ini mengajarkan manusia untuk mengurangi kekacauan dalam perekonomian yang akan berdampak besar seperti ini dan harus bisa mengatur pengeluaran dam pendapatan tersebut. Dalam situasi seperti ini bentuk produksi akan ada batasannya dan dalam teknik yang berubah menurut waktu yang tidak bisa ditentukan secara detail. Karena kita tidak bisa menebak situasi kondisi di dalam ekonomi tersebut.

Baca Juga  Puasa Ramadhan: Bukti Cinta Hamba Kepada Allah

Editor: An-Najmi Fikri R