Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Abdullah Saeed: Penggagas Konsep Ethico-Legal

Sumber: https://tafsiralquran.id/

Al-Qur’an telah memberikan warna intelektual dalam tradisi berfikir sejak zaman klasik hingga zaman kini. Bahkan, tidak hanya dikaji oleh para muslim saja. Akan tetapi Al-Qur’an juga turut menarik hati para sarjanawan non-muslim untuk menjawab rasa penasaran yang tumbuh dalam jiwa mereka. Seperti halnya yang dilakukan oleh para sarjana barat dalam mengkaji Al-Qur’an. Khususnya tema ethico-legal. Semangat mereka tidak pernah surut untuk selalu mengkaji kitab suci umat muslim tersebut. Entah dengan latar belakang subjektif ataupun objektif.

Rasionalitas menjadi tolok ukur pertama dalam mengkaji teks Al-Qur’an sehingga muncullah corak-corak penelitian dengan mengembangkan berbagai macam metodologi yang sistematis. Demikian itu, karena mereka mencoba untuk mengkajinya dengan menggunakan analisa disiplin ilmu yang lainnya. Misal saja hermeneutika, semiotika, sejarah dan sebagainya. Salah satu sarjana yang sekaligus interpretator dari Barat yang masyhur adalah Abdullah Saeed. Beliau sangat fenomenal dengan metodologi penafsiran yang bercorak kontekstual. Dan lebih fokus terhadap ayat-ayat yang mengandung nilai etika praktis yang beliau sebut dengan “Ethico-Legal”.

Biografi Abdullah Saeed

Abdullah Saeed ialah seorang cendekiawan muslim kontemporer yang memiliki perhatian besar terhadap Islam. Beliau di lahirkan di Maladewa/ Malvides pada tanggal 25 September 1964. Beliau juga merupakan keturunan Arab Oman yang bermukim di kota malvides. Hingga pada akhirnya beliau berhijrah ke Saudi Arabia pada tahun 1977 untuk kepentingan studi.

Ketika resmi bermukim di Arab, beliau mulai mempelajari tentang bahasa Arab dan memasuki beberapa lembaga pendidikan formal. Di antaranya ialah Institut Bahasa Arab Dasar, Institut Bahasa Arab Menengah dan juga Universitas Islam Studi Arabia di Madinah. Disanalah beliau mampu meraih gelar Bachelor of Arts (BA) dalam studi Arab dan juga studi Islam. Kemudian, pada tahun 1987 beliau terbang ke Australia untuk melanjutkan studi tepatnya di University of Melbourne, Australia. Beliau memulai studi dari sarjana strata satu (Master of Preliminary) pada jurusan Studi Timur Tengah. Beliau juga seorang master pada jurusan linguistik terapan dan menuntaskan gelar doktoralnya dalam bidang “Islamic Studies” di Universitas yang sama yakni University of Melbourne.

Baca Juga  Meraih Kenikmatan Tertinggi dengan Menjaga Ibadah

Akhirnya, pak Saeed menjadi dosen senior disana pada tahun 1996 dan menjadi anggota asosiasi professor pada tahun 2000. Setelah 3 tahun kemudian, beliau berhasil meraih gelar Professor berstatus “Full Professor” sehingga beliau diangkat menjadi profesor “The Sultan Oman”.

Tafsir Kontekstual

Secara etimologi, kata kontekstual berasal dari kata benda bahasa Inggris yaitu context yang menjadi istilah dalam bahasa Indonesia dengan kata”konteks”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini setidaknya memiliki dua arti. Yaitu: 1) Bagian suatu uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna, 2) Situasi yang ada hubungannya dengan suatu kejadian.

J.R Firth mengatakan bahwa, makna itu tidak akan tersingkap kecuali melalui analisis konteks yang terdapat pada unit-unit bahasa. Artinya, sebuah makna itu tidak akan diketahui jika tidak diletakkan di berbagai konteks. Oleh karena itu, konteks menjadi hal yang sangat penting dalam menyibak makna bahasa. Bahkan, para ulama klasik telah menggambarkan urgensi konteks sehingga mereka membuat ungkapan khusus. Yaitu”لكل مقام مقال”, bahwasanya disetiap speech event (peristiwa adanya perkataan) memiliki konteks of situation (konteks dari situasi).

Menurut Saeed, kaum kontekstualis ialah mereka yang percaya bahwa ajaran Al-Qur’an haruslah diterapkan dengan cara yang berbeda dengan memperhatikan konteksnya. Mereka memiliki pandangan bahwasanya Al-Qur’an itu sebagai sumber pedoman praktis yang harus diaplikasikan secara berbeda dalam situasi yang berbeda pula. Dan bukan sebagai satu paket hukum yang kaku.

Dari perspektif kontekstualis, Al-Qur’an itu tidak dipandang sebagai teks hukum. Akan tetapi dari teks-teks Al-Qur’an ini mengandung ide-ide. Bahkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan seiring dengan perubahan waktu dan tempat yang berbeda. dan untuk sampai kepada ide-ide, nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut, para penafsir kontekstual membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks Al-Qur’an, baik yang bersifat luas maupun sempit sekalipun.

Baca Juga  Toleransi Beragama Sesama Muslim dan Non Muslim

Konsep “Ethico-Legal”

Penafsiran menggunakan metode kontekstual ini sangatlah kompleks dan medetail. Namun, secara garis besar poin penting yang terdapat pada penafsiran kontekstual Abdullah Saeed yang masyhur. Yaitu tentang hirearki nilai yang terdapat dalam ayat-ayat ethico legal dalam Al-Qur’an.

Ethico-legal terdiri dari dua kata, yaitu “ethico atau ethic” yang lebih dekat jika diterjemahkan dengan “etis, beradab atau moral”. Dan kata “legal” yang diterjemahkan menjadi “hukum, aturan”. Maka, ayat-ayat ethico-legal merupakan ayat Al-Qur’an yang mengandung pesan hukum yang tidak bertentangan dengan pesan moral kemanusiaan.

Aspek yang diinginkan Abdullah Saeed terkait dua unsur adalah bagaimana seorang mufasir dapat menggabungkan keduanya dalam menetapkan sebuah hukum yang disandarkan pada Al-Qur’an. Sebut saja hukum-hukum yang berkaitan dengan gender, budaya, pluralisme agama, dll. Akankah mufasir tersebut mampu menetapkan sebuah hukum yang “ramah sosial” atau justru menimbulkan perselisihan di kalangan masyarakat.

Menurut kaum kontekstualis, dalam kerangka eksplorasi prinsip dasar dan relevansi ajaran etika hukum Al-Qur’an terhadap keprihatinan kontemporer. Agaknya dirasa perlu untuk melampaui dari kategori-kategori hukum yang dipandang kaku tersebut.

Ethico-Legal Al-Qur’an

Maka dari itu, Saeed memberikan penjelasan tentang ringkasan dari ajaran Ethico-Legal Al-Qur’an dari perspektif kemungkinannya untuk diterapkan. Ia juga menerangkan bahwa beberapa ajaran tersebut memang berlaku universal dan sebagian lagi mungkin bersifat lebih spesifik untuk keadaan yang tertentu. Kemungkinan saja karena faktor ambiguitas dan juga membutuhkan penyelidikan lebih lanjut dalam menentukan penerapannya.

Misalnya dalam salah satu hirearki nilai yang ditawarkan oleh Saeed, yang mana didalamnya menyinggung ayat Ethico-Legal, yakni prihal ajaran Fundamental. Al-Qur’an telah berulang kali menekankan tentang nilai-nilai dasar kemanusiaan. Ajaran tersebut seringkali dianggap sebagai ajaran Fundamental. Detailnya, Ajaran ini sering dibahas oleh para sarjana klasik yang konsen terhadap masalah hukum Islam, salah satunya adalah Imam Ghazali. Beliau membahas tentang 5 nilai universal yang meliputi: perlindungan kehidupan (an-Nafs), akal (al-‘Aql), harta (al-Maal), keturunan (an-Nashl), dan agama (ad-Diin).

Baca Juga  Humanisme Islam Perspektif Ali Syariati

Meskipun teks Al-Qur’an sendiri tidak berubah. Akan tetapi nilai fundamental yang berasal dari perkara-perkara tersebut sering kali diekspresikan dengan cara yang berbeda dari waktu ke waktu. Dan ekspresi tersebut merupakan cerminan dari kecenderungan pengetahuan dan pemahaman kita terhadap teks Al-Qur’an bersamaan dengan isu yang tengah kita hadapi saat ini.

Sebenarnya, cakupan dari pembahasan ini masih sangat luas. Akan tetapi, penulis hanya mengurai sedikit dari konsep ayat-ayat ethico-legal yang digagas oleh Abdullah Saeed. Darinya, penulis bisa lebih memahami betapa pentingnya memahami Al-Qur’an secara terperinci dan mendalam. Pemahaman yang bukan sekedar berhenti di depan teks Al-Qur’an yang tersurat. Akan tetapi, juga turut menggali makna konteks dan berusaha menggapai pesan tersirat yang amat luar biasa. Wallahu A’lam Bishawab…