Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

6 Ragam Makna Magfirah dalam al-Qur’an

maghfirah
Sumber: https://www.facebook.com/

Ampunan Allah menjadi dambaan setiap orang. Semua dosa yang diampuni olehnya menjadi salah satu kebahagiaan hidup. Allah Maha Pengampun, yang dalam bahasa al-Qur’an sering diwakili dengan kata al-ghafur. Kata ini diterjemahkan Yang Maha Pengampun untuk manusia yang meminta maghfirah atau ampunan.

Dalam KBBI (2022) disebutkan bahwa kata ampun berarti pembebasan dari tuntutan karena melakukan kesalahan atau kekeliruan. Kata ini bermakna sama dengan maaf. Dalam hal ini, ketika seseorang dibebaskan dari segala tuntutan berarti ia diampuni. Artinya, seorang hamba hendaknya selalu meminta ampun atau yang sering disebut dengan istigfar.

Melacak Makna Maghfirah

Kata ampunan dalam bahasa Arab disepadankan dengan magfirah. Kata ini berasal dari kata ghafara dengan susunan huruf ghain, fa, dan ra.  Frasa ghafara (غفر) bermakna menutupi (التغطية والستر). Bentuk kata ini pun dapat berbentuk mighfar yaitu penutup kepala berbentuk bulat atau oval (seperti telur) terbuat dari besi yang dijadikan pelindung bagi kepala. Hal itu disebut mighfar karena menutupi kepada dan melindungi. Orang yang diampuni ia akan ditutup kesalahannya dan terlindungi dari siksa yang awalnya akan mengenai dirinya.

Raghib al-Asfahani (1999) dalam al-Mufradat, menyebutkan bahwa asal makna al-ghafr adalah memakai sesuatu yang melindungi dirinya dari kotoran. Misalnya, lindungi bajumu (اغفر ثوبك).  Kata ghufr dan ghufran memiliki makna yang sama, begitu pula dengan magfirah. Ampunan dari Allah dengan kata ghufran atau magfirah berarti terlindunginya hamba dari siksa. Sementara kata istigfar berarti meminta ampun baik dengan ucapan atau perbuatan.

Dalam al-Qur’an kata ghafara kurang lebih disebutkan 233 kali.  Dalam bentuk kata benda terulang 129 kali, seperti penggalan ayat QS al-Baqarah: 173إن الله غفور رحيم. Kata ghafur adalah salah satu dari nama Allah. Kata ini disebutkan dalam al-Qur’an pada 71 tempat. Dalam bentuk kata kerja, ghafara terulang 104 kali, seperti kalimat  يغفر لمن يشاء  pada QS Ali Imran:129.

Baca Juga  Sifat Hasad, berikut tingkatan dan faktor penyebabnya!

Makna Magfirah dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an terdapat beberapa makna dari kata ghafara dan bentukan kata lainnya.

1. Meminta ampun bagi dirinya

Hal ini dapat dilihat misalnya pada kisah Nabi Yusuf as dan perempuan yang merayunya. Al-Qur’an menyebutkan واستغفري لذنبك إنك كنت من الخاطئين  (mintalah ampun untuk dosamu karena sesungguhnya kamu termasuk orang yang bersalah). Kalimat ini bermakna minta ampunlah kepada suamimu. Mintalah kepadanya agar tidak menyiksamu karena dosamu sehingga dia memaafkanmu.

Dalam QS Nuh: 10 disebutkan فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا (maka aku berkata, “Minta ampunlah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun”).  Kalimat ini bermakna mintalah ampunan Tuhanmu, bertobatlah kepada-Nya dari kekufuranmu. Esakanlah Dia, ikhlaslah dalam beribadah. Dia akan mengampunimu, karena Dia Maha Pengampun bagi orang yang kembali kepada-Nya. Selain dua ayat ini, kita bisa menemukannya pada tempat lain dalam al-Qur’an.

2. Meninggalkan kemusyrikan

Dalam QS Hud:90, kita dapat menemukan kalimat    واستغفروا ربكم ثم توبوا إليه (Dan minta ampunlah kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya).  Dalam Tafsir Kemenag RI (2022), ayat ini bermakna bahwa Nabi Syu’aib as menyuruh kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah Yang Maha Esa dengan beriman kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan menyembah berhala-berhala dan patung-patung, dan tidak mengurangi takaran, timbangan serta mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak halal. Kemudian ia menyuruh mereka supaya tobat yakni kembali kepada jalan yang benar dengan menaati Allah dan menjauhi larangan-Nya.

3. Keimanan kepada Allah

Makna ini dapat ditemui pada QS Hud: 52. Pada ayat ini terdapat kalimat  ويا قوم استغفروا ربكم ثم توبوا إليه    ( Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya). Ayat ini bermakna berimanlah kepada Allah sehingga Dia mengampuni dosamu. Hal ini pernah dikemukakan oleh al-Thabari. Kata istaghfiru bermakna berimanlah kepada Allah karena Nabi Hud as berdakwah kepada kaumnya untuk mengesakan Allah sepertinya halnya Nabi Nuh as.      

Baca Juga  Membumikan Nilai Demokrasi Religius dan Khoiru Ummah dalam “Menjaga Indonesia”

4. Salat

Istigfar bermakna salat ditemui dalam QS Adz-Dzariyat: 18. Kalimatnya adalah وبالأسحار هم يستغفرون     (dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).  Ibnu Umar ra berpendapat kata istigfar di sini bermakna salat. Begitu pun pendapat Mujahid.

Dalam Tafsir Kemenag RI (2022), kalimat ini menerangkan tentang sifat-sifat orang yang takwa. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam karena mengisi waktu dengan salat tahajud. Mereka dalam melakukan ibadah tahajudnya merasa tenang dan penuh dengan kerinduan, dan dalam munajatnya kepada Allah sengaja memilih waktu yang sunyi dari gangguan makhluk lain seperti dua orang pengantin baru dalam menumpahkan isi hati kepada kesayangannya, tentu memilih tempat dan waktu yang nyaman dan aman, bebas dari gangguan siapa pun.

5. Doa

Makna ini ditemukan dalam QS Ali Imran:17, والمستغفرين بالأسحار (serta memohon ampunan pada akhir malam). Al-Thabari mengomentari mereka adalah orang yang memohon kepada Allah untuk menutupi kesalahannya. Qatadah menyebutnya dengan ahli salat yang selalu salat akhir malam.

6. Ampunan

Salah satu ayat yang menyebutkan makna ini adalah QS. al-Jatsiyah:14.

قُلْ لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَغْفِرُوْا لِلَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ اَيَّامَ اللّٰهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا ۢبِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad) kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak mengharapkan akan hari-hari (pembalasan) Allah karena Dia akan memberi ganjaran kepada suatu kaum atas apa yang telah mereka usahakan.”

Ibnu Asyur dalam al-Tahrir wa al-Tanwir (2009) berpendapat ayat seperti ini banyak disebutkan dalam al-Qur’an untuk memaafkan kaum musyrikin dan berpaling dari mereka. Akan tetapi kebanyakan ayatnya merupakan perintah kepada Nabi Saw untuk disampaikan pada orang-orang mukmin.

Ayat ini turun ketika kaum muslimin sudah banyak dan terhormat. Mereka diperintahkan untuk memaafkan. ayat ini dipahami sebagai nilai budi pekerti yang tinggi yang diajarkan agama Islam kepada penganutnya yaitu berlapang dada dan memaafkan orang-orang yang pernah bertindak tidak baik terhadap dirinya atau berusaha menghancurkan agamanya. Wallahu A’lam.