Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

5 Prinsip Pendekatan Ma’nā-Cum-Maghzā

Al-Qur’an turun sebagai petunjuk bagi umat manusia. Namun al-Qur’an tidak begitu saja bisa dipahami isinya oleh manusia. Maka, lahirlah penafsiran al-Qur’an oleh manusia sebagai upaya untuk memahami al-Qur’an. Sebagai upaya manusia, maka penafsiran al-Qur’an itu tidak hanya satu. Dalam hal ini, Prof. Dr. phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. menawarkan sebuah pendekatan untuk memahami al-Qur’an yaitu pendekatan Ma’nā-Cum-Maghzā.

Pendekatan ini merupakan upaya seseorang menggali atau merekonstruksi ulang makna dan pesan utama historis al-Qur’an. Dalam prosesnya, tentu memiliki prinsip-prinsip yang harus mendapatkan perhatian. Sebab dengan prinsip tersebut, upaya penafsiran akan memberikan hasil yang sesuai dengan fungsi al-Qur’an yaitu sebagai kitab rahmatan lil ‘alamin. Adapun prinsip-prinsip pendekatan Ma’nā-Cum-Maghzā tersebut ada 5. Apa sajakah itu?

Prinsip pertama, berdasarkan ilmu pengetahuan

Sudah tidak asing lagi jika hendak menafsirkan sesuatu tentu membutuhkan ilmu. Tujuannya tidak lain adalah ketika seorang menafsirkan ayat al-Qur’an tidak sembarangan. Dengan prinsip ini nantinya akan ada hal baru yang lebih baik dan masih relevan dalam proses penafsiran.

Semua ilmu yang dianggap dapat membantu penafsir dalam menemukan makna secara optimal baik ilmu yang ada dalam ulumul Qur’an, maupun ilmu kontemporer, baik ilmu yang berdasar pada periwayatan maupun rasional, dan baik ilmu linguistik, sosial-humanistik maupun ilmu alam.

Hal ini telah terbukti dari hasil penelitian Muhammad al-Ṭālibī yang menggunakan ilmu sejarah dalam memahami surah an-Nisa’ ayat 34 dan ternyata hasilnya mencengangkan. Begitu juga, Ian Richard Netton yang menggunakan Semiotika dalam memahami kisah-kisah pada surah al-Kahfi dengan begitu indahnya, sehingga dapat menguak makna-makna simbolik dari kisah tersebut dan lain sebagainya.

Prinsip kedua, mempertahankan yang baik dan relevan

Jika ada yang lama dan masih baik, kenapa tidak. Ungkapan tersebut nyatanya benar. Dalam prinsip kedua ini, Prof. Sahiron menawarkan pemahaman untuk mempertahankan hal lama yang masih baik dan relevan. Prinsip kedua ini merupakan lanjutan dari prinsip pertama. Karena jika yang lama sudah ada yang baik, maka tinggal mengambil hal baru yang lebih baik lagi dan bermanfaat.

Baca Juga  Mengenal Penafsiran Berbasis Ma’na cum Maghza

Prinsip ini sangat penting dalam penafsiran. Karena penafsiran akan terlihat lebih adaptif dan solutif dengan mengelaborasi hal-hal yang baik demi mewujudkan atau menciptakan produk tafsir yang bermanfaat dalan rangka mewujudkan kemaslahatan manusia dan alam.

Prinsip ketiga, memberikan maslahat dunia dan akhirat

Tidak ada yang ingin kemaslahatan hidupnya hanya di dunia maupun akhirat. Sebab al-Qur’an itu turun tujuannya tidak lain untuk menciptakan kebahagiaan manusia dan kebaikan alam semesta. Atas dasar itu, al-Qur’an mengajarkan keadilan, kemanusiaan, keseimbangan dan semua gagasan yang berkaitan tentang martabat manusia menjadi landasan pendekatan ini dalam memahami teks-teks al-Qur’an.

Sebaliknya pendekatan ini tidak mengajarkan penghinaan, kekerasan, kezaliman, prilaku buruk lainnya. Karenanya ayat-ayat al-Qur’an yang nampaknya mengajarkan kekerasan mengharuskan pemahaman yang hati-hati dan penuh ketelitian.

Secara teologis, pendekatan ini berlandaskan pada surah ali Imran ayat 7 yang berisikan kritik terhadap orang-orang yang memahami dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan menggunakan subyektifitas negatif.

Prinsip keempat, bersifat dinamis

Wahyu al-Qur’an memang selesai pada masa Nabi Muhammad, tentu saja tidak ada penambahan jumlah ayat. Namun dalam perkembangan perkembangan pola pikir dan keilmuan manusia, dalam hal ini penafsiran akan tetap berjalan.

Prof. Syahiron mengutip Muhammad Syahrur bahwa penafsiran al-Qur’an berdinamika dalam tiga macam. Pertama, kondisi ‘berada’. Kedua kondisi ‘berproses’. Ketiga, kondisi ‘menjadi’. Dinamika ini akan terus berlangsung hingga Hari Akhir. Maka pertanyaan yang muncul adalah dari mana al-Qur’an dapat berkembang melalui penafsiran?

Muhammad Syahrur mengatakan memang teks al-Qur’an itu bersifat tetap, namun makna kata-kata al-Qur’an dapat berkembang dari masa ke masa. Yang bisa berkembang adalah al-maghzā (signifikasi atau pesan utama) dari ayat tertentu, yang semula berada pada masa turunnya ayat, berkembang menjadi al-maghzā al-mutaḥarrik al-mu‘āṣir (signifikansi dinamis kontemporer) dengan menggunakan keilmuan dan pola pikir yang eksis pada masa penafsiran sesuai dengan kondisi dan situasi yang sedang ia hadapi.

Baca Juga  Hukum Potong Tangan dalam Kaca Mata Fazlur Rahman

Prinsip kelima, bersifat relatif

Tidak ada penafsiran yang bersifat mutlak. Karena yang mutlak hanya Allah Swt dan ilmu-Nya. Penafsiran itu terikat oleh ruang dan waktunya. Oleh karena itu, seseorang yang menggunakan pendekatan ini sudah sewajarnya tidak mengabsolutkan kebenaran dan ketepatan penafsirannya.

Setiap penafsir harus memiliki kesadaran, karena yang ia lakukan adalah sebatas kemampuannya sebagai manusia saja. Manusia memiliki keterbatasan, tidak seperti Tuhannya.

Kesimpulan

Setiap melakukan penafsiran, ada prinsip-prinsip yang harus menjadi pegangan. Sebab prinsip-prinsip tersebut yang nantinya akan memberikan kesesuaian penafsirannya dengan kondisi dan situasi yang sedang ia hadapi.

Pada pendekatan Ma’nā-Cum-Maghzā ini, Prof. Sahiron memiliki 5 prinsip dalam menggali dan merekonstruksi makna al-Qur’an. Pertama adalah prinsip berlandaskan pada ilmu pengetahuan. Kedua adalah prinsip mempertahankan yang baik dan relevan. Prinsip ketiga adalah memberikan maslahat dunia dan akhirat. Prinsip keempat adalah bersifat dinamis dan prinsip terakhir, yang kelima adalah bersifat relatif.