Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

4 Ragam dan Dimensi Hati di dalam Al-Qur’an

hati
Sumber: https://www.muslimink.com

Al-Qur’an dari segi bahasa merupakan kemukjizatan yang ditunjukkan kepada masyarakat Arab sejak 15 abad lalu. Setiap pemilihan kosa kata mempunyai nilai falsafah bahasa tersendiri. Kehalusan bahasa terlihat dari balaghah dan fashahahnya, baik yang konkrit maupun abstrak dalam mengekspresikan dan mengeksplorasi makna yang dituju, termasuk kata hati di dalam Al-Qur’an.

Empat Ragam Penyebutah Hati dalam Al-Qur’an

Dalam pemilihan kata, al-Qur’an kadang menggunakan beberapa kata yang memiliki arti sama dalam bahasa Indonesia, sehingga tampak ada inkonsisten dalam kata-kata yang digunakannya. Pada lafadz qalb, shadr, fu’ad, dan lubb  keempat kata tersebut pada umumnya sering disebut hati.

Padahal jika kita mengutip pendapat tirmidzi bahwasanya kata hati sendiri mempunyai empat tingkatan didalamnya. Tingkatan tersebut tersusun menjadi beberapa bagian. Hal ini dapat kita di analogikan dengan kata mata. Dimana mata sendiri mencangkup beberapa bagian yang ada di dalamnya seperti putih, hitam, dan biji mata itu sendiri.

Seluruh komponen tersebut memiliki fungsinya masing-masing dan saling terkoneksi. Sehingga, apabila terjadi kerusakan salah satu diantara komponen tersebut, maka kinerja bagian yang lainnya akan ikut terganggu, begitu juga sebaliknya.

4 Komponen dan Lapisan Hati

Pada dasarnya hati memiliki empat komponen diantaranya:

Lapisan Shadr

Komponen pada lapisan pertama hati ialah shadr. Shadr sendiri jika diartikan kedalam bahasa indonesia adalah dada. Lapisan pertama ini merupakan tempat interaksi antara kepribadian kita dan alam spiritual kita. Kita memerlukan kepribadian untuk berinteraksi, namun kita membutuhkan bimbingan kearifan yang dalam dari hati.

Lapisan Qalb

Lapisan kedua ialah al qalb yang terletak dalam shadr, begitu juga sifat buta dan bagian hati terdapat dalam al qalb bukan dalam al shadr. Allah swt berfirman:

Baca Juga  8 Nilai Kemuliaan dalam Surat Luqman

لا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ.

Artinya: “Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada” (Q.s. Al Hajj: 46)

Al qalb adalah sumber pokok-pokok ilmu. Ia merupakan sumber air dan al shadr adalah kolamnya. Al qalb merupakan tempat bagi cahaya iman, yang mana cahaya ini memberikan keyakinan, ilmu, dan niat. Lalu semua itu munculah di shadr,  sehingga hubungan al qalb dengan al shadr itu terletak antara yang pokok dan yang cabang. Selain sebagai tempat cahaya iman, al qalb juga sebagai tempat bagi takwa, sakinah, kekhusukan, dan kesucian. Kesucian dan kebersihan ini tergantung sejauh mana ia dijaga, dilatih, dan juga ditambah dengan kebaikan-kebaikan.

Cahaya qalb itu seperti cahaya matahari yang mana cahayanya bersifat sempurna dan tidak pernah meredup. Namun ada faktor lain yang menjadikan cahayanya meredup seperti mendung yang mengahalangi cahayanya. Sehingga intensitas cahaya yang masuk menjadi berkurang. Namun apabila semua faktor yang menghalangi tersebut hilang maka cahayanya akan semakin terang. Hal ini sama juga seperi al qalb yang mana apabila penghalang tersebut ada maka cahaya tersebut akan berkurang dan begitu juga sebaliknya.

Lapisan Fuad

Lapisan berikutnya yaitu ketiga adalah fuad. Ia merupakan sumber makrifat dan penglihatan. Pengetahuan yang ada dalam al qalb itu bersumber dari penglihatan al fuad. Artinya, al fuad sebagai tempat dimana ketika ilmu al qalb dan makrifat menyatu maka yang terjadi ialah segala sesuatu yang awalnya abstrak menjadi jelas dan terang. Baik al fuad dan al qalb keduanya dapat dikatakan sebagai al bashr.

Lapisan Lubb

Lapisan yang terakhir ini kita kenal dengan lubb. Al lubb sendiri merupakan tingkatan teraman dalam hati. Ia bagaikan kutub, dimana segala pondasi agama dan segala cahaya bersarang didalamnya. Sehingga, cahaya tidak menjadi sempurna tanpa adanya lubb tersebut.

Baca Juga  4 Bentuk Larangan Terperdaya dalam Al-Qur'an

Kata Al lubb itu terdiri dari huruf lam – ba’ – ba’. Lam adalah al luth yang merupakan simbol dari kelembutan. Ba’ yang pertama ialah ar-birr fi al-bidayah sebagai simbol saleh dalam permulaan. Ba’ yang kedua ialah al baqa bi al barokah alaih sebagai simbol kekal dalam keberkahan. Cahaya tidak bersumber dari manapun melainkan hanya dari keagungan allah swt

Sehingga pada lapisan keempat ini merupakan lapisan yang mana sudah berada di luar jangkauan kata-kata, teori-teori, dan pemikiran-pemikiran. Pada lapisan ini orang sudah berada di dunia puisi bukan lagi prosa. Jika allah memberikan hidayah kepada hambanya, maka Allah Swt akan memberikan cahayanya lewat lubb sehingga cahaya itu bersinar menjadi cahaya tauhid sehingga hambanya benar-benar lepas dari kesyirikan. Kemudian cahaya tersebut menembus  ke al-fuad menjadi nur makrifat sehingga seseorang hamba menjadi seorang yang arif, yaitu mengenal Allah dengan segala sifatnya.

Setelah cahaya menembus ke Al-fuad, cahaya tersebut akan mencapai di al qalb menjadi cahaya iman. Sehingga seorang hamba berimana terhadap Allah Swt. Dan pada akhirnya, cahaya tersebut menembus Al shadr menjadi nur islam yang menggerakan seluruh anggota badanya untuk melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.