Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

4 Aspek Kontribusi Tadwīn Hadis dalam Historiografi Islam Menurut Saifuddin

saifuddin
Sumber: https://www.dailysabah.com/

Dr. Saifuddin, M.Ag. merupakan salah seorang cendikiawan Muslim Indonesia. Ia lahir di Kota Madiun pada tanggal 21 Agustus 1971. Pendidikan pertama ditempuh di MI Thoroqul Huda Ngrawan Dolopo Madiun, lulus 1984, MTsN Doho Dolopo Madiun, lulus 1987, MAPK Jember, lulus 1990. Kemudian melanjutkan ke jenjang S.1 di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang, lulus 1995 jurusan Tafsir-Hadis. Magister (S.2) di Program Pasca Sarjana IAIN Alauddin Makassar, lulus 1997, Doktor (S.3) Sekolah Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, lulus tahun 2007 dengan judul disertasi Tadwīn Hadis: Kontribusinya dalam Perkembangan Historiografi Islam, dan dicetak dalam bentuk buku dengan judul Arus Tradisi Tadwīn Hadis dan Historiografi Islam: Kajian Lintas Aliran. Melalui disertasinya inilah muncul pemikirannya tentang empat aspek kontribusi tadwīn hadis dalam historiografi Islam.

Menurut Saifuddin, kontribusi tadwīn hadis dalam historiografi Islam mencakup 4 aspek, yaitu pertama, kontribusi literatur hadis sebagai sumber informasi historiografi Islam. Kedua, kontribusi metode penghimpunan hadis dalam historiografi Islam. Ketiga, kontribusi metode kritik hadis dalam historiografi Islam. Keempat, kontribusi metode penyusunan kitab hadis dalam historiografi Islam. Keempat kontribusi tersebut akan dibahas satu persatu pada pembahasan di bawah ini.

Kontribusi Literatur Hadis sebagai Sumber Informasi Historiografi Islam

Kontribusi literatur hadis dalam perkembangan historiografi Islam menurut Saifuddin memang tidak dapat dipungkiri, literatur hadis menjadi sumber yang sangat penting bagi historiografi Islam. Sejumlah besar hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis. Khususnya pada aspek hadis historis, merupakan sumber informasi yang penting bagi penulisan sejarah Islam. Baik dalam bentuk biografi (sīrah), serangan militer (maghāzī), dan biografi periwayat hadis (asmā` al-rijāl).

Hal ini dibuktikan bahwa Ibn Sayyid al-Nās dalam kitabnya ‘Uyūn al-Athar fî Funūn al-Maghāzī wa al-Shamā’il wa al-Siyar. Dan al-Dhahabī dalam kitabnya Tārīkh al-Islām wa Ṭabaqāt al-Mashāhīr wa al-A‘lām. Menulis tentang sīrah sebagian besarnya bersandar pada enam kitab hadis utama. Mereka adalahṢaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, Sunan Abī Dāwud, Jāmi’ al-Turmudhī, Sunan al-Nasā`ī, dan Sunan Ibn Mājah.

Kontribusi Metode Penghimpunan Hadis dalam Historiografi Islam

Studi historiografi Islam pada mulanya memang mengambil pola hadis yang kemudian berkembang menjadi disiplin yang berdiri sendiri. Saifuddin berpendapat bahwa adanya pengaruh ini tidak mengherankan karena pada kenyataannya hampir seluruh penulis sejarah Islam awal terdiri atas para ahli hadis. Bahkan, para ahli hadis generasi-generasi awal dipandang sebagai sejarawan pertama dalam Islam. Karena merekalah yang paling besar perhatiannya dalam mengkaji berbagai peperangan dan berita tentang Rasulullah saw.

Baca Juga  Al-Qur’an Berwajah Puisi Karya HB Jassin

Kontribusi metode penghimpunan hadis terhadap perkembangan historiografi Islam dapat lebih terlihat lagi ditemukan dalam metode rihlah fī ṭalab al-ḥadīth (perjalanan mencari hadis). Dengan metode rihlah ini para ahli hadis berusaha mencari sumber hadis. Agar dapat mendengar langsung dari periwayat asal yang telah memberitakan hadis tersebut. Dalam melakukan rihlah para ahli hadis umumnya bukan sekadar melacak sumber hadis. Namun, sekaligus juga mencari informasi tentang biografi dan status para periwayat yang menyebutkan hadis tersebut.

Tradisi rihlah ini juga mempengaruhi langkah para sejarawan muslim terkemuka dalam mengumpulkan materi-materi sejarah yang lebih luas lagi. Studi sejarah tidak lagi berkisar pada biografi para tokoh, tetapi juga mencakup materi geografi dan sejarah yang lebih umum. Sejumlah sejarawan tercatat pernah melakukan pengembaraan ilmiah ke berbagai kota dan negeri, seperti Ibn Ishāq, al-Wāqidī, Ibn Sa‘ad, al-Ṭabarī, dan Ibn Baṭṭuṭah.

Kontribusi Metode Kritik Hadis dalam Historiografi Islam

Metode kritik hadis mempunyai pengaruh dan kontribusi yang penting terhadap kritik sumber dalam penulisan sejarah Islam. Saifuddin mengatakan bahwa dalam studi hadis, terdapat suatu metode ilmiah yang teliti tentang kredibilitas dan validitas sumber-sumber berita. Seorang sejarawan dalam melakukan studi sejarah akan memulai studinya dengan meneliti validitas informasi sejarah yang diperolehnya. Lalu membandingkannya dengan informasi-informasi lain. Kemudian mengambil keputusan tentang validitas informasi tersebut berdasarkan keaslian datanya dan ketelitian periwayat dalam mendeskripsikan peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.

Tentu tidak mengejutkan jika terdapat pengaruh metode kritik hadis terhadap perkembangan historiografi Islam, terutama dalam bentuk sīrah dan maghāzī. Hal ini karena para penulis sejarah Islam paling awal hampir semuanya adalah para ahli hadis. Munculnya studi sīrah dan maghāzī pun bermula di Madinah sebagai pusat kajian hadis. Dengan begitu maka wajar jika penulisan sejarah Islam, khususnya sīrah dan maghāzī, pada awalnya masih mengikuti pola penulisan hadis dengan menggunakan sanad dalam penulisannya. Penggunaan sanad dapat terlihat dalam karya-karya sejarah Islam. Seperti Sīrah karya Ibn Ishāq, Maghāzī karya al-Wāqidī, Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibn Sa‘ad, dan Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk karya al-Ṭabarī.

Baca Juga  7 Manfaat Berwudu Perspektif Medis

Kontribusi Metode Penyusunan Kitab Hadis dalam Historiografi Islam

Metode metode penyusunan kitab hadis, menurut Saifuddin, juga mempunyai kontribusi dalam perkembangan historiografi Islam. Penekanan kuat para ahli hadis atas metode kronologis sangat mempengaruhi metode historiografi Islam awal. Hal itu terlihat dalam penulisan sejarah berdasarkan serangkaian urutan waktu, kesinambungan para khalifah, dan dinasti-dinasti. Metode kronologis yang diterapkan di kalangan ahli hadis bisa dijumpai dalam karya-karya biografis (asmā` al-rijāl) yang ditulis oleh para ahli hadis, khususnya yang disusun berdasarkan ṭabaqāt (tingkatan-tingkatan).

Secara umum, susunan ṭabaqāt menurut ahli hadis dapat didasarkan pada tiga bagian, pertama berdasarkan kronologi waktu (ṭabaqāt zamaniyyah). Seperti menjelaskan secara berurutan dari segi waktu, mana yang lebih awal dan mana yang lebih akhir. Kedua berdasarkan urutan tempat (ṭabaqāt makāniyyah atau iqlīmiyyah), seperti menjelaskan nama-nama ulama berdasarkan tempat tinggalnya. Ketiga berdasarkan bidang keilmuan (ṭabaqāt ‘ilmiyyah). Seperti menjelaskan nama-nama ulama menurut bidang keilmuannya masing-masing, misalnya bidang ilmu hadis, bidang ilmu fikih, dan lainnya.

Ṭabaqāt berdasarkan kronologi waktu telah mempengaruhi penyusunan kitab sejarah Islam. Misalkan kitab Tārīkh yang ditulis oleh Khalifah ibn Khayyāṭ, ia menyusun karya sejarahnya berdasarkan metode kronologis waktu. Ṭabaqāt berdasarkan urutan tempat atau negeri juga memberikan pengaruh terhadap penulisan sejarah. Misalnya, Akhbār Makkah karya Muhammad ibn Ishāq al-Fākihī, al-Durrat al-Thamīnah fī Tārīkh al-Madīnah karya Muhammad ibn Mahmūd al-Najjār, dan Tārīkh Madīnah Dimasyq karya Ibn ‘Asākir. Ṭabaqāt berdasarkan bidang keilmuan juga mempunyai pengaruh terhadap penulisan sejarah berdasarkan tema tertentu dalam bidang keahlian tertentu. Misalnya karya-karya biografis dalam bahasa Arab tentang penyair, ahli tata bahasa, ahli musik, ahli kaligrafi, ahli fisika, ahli kimia, ahli nujum, filosof, sufi, ahli hukum, qari dan penghafal al-Qur’an, dan lainnya.

Baca Juga  Anne K. Rasmussen: Etnomusikologi Al-Qur’an dan Perempuan